Trump Perpanjang Gencatan Senjata AS–Iran, Blokade Laut Tetap Dilanjutkan. Gambar: Dok. ABC News
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (21/4) waktu setempat memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tanpa batas waktu, hanya beberapa jam sebelum masa gencatan senjata sebelumnya berakhir.
Keputusan tersebut diambil di tengah konflik internasional yang melibatkan operasi militer AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari, serta ketegangan di Selat Hormuz.
Perpanjangan ini dilakukan atas permintaan Pakistan yang menjadi mediator perundingan, sementara militer AS tetap melanjutkan blokade laut terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.
“Saya telah menginstruksikan militer kita untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara,” ujar Trump, dalam pernyataan di media sosial dan dikutip sejumlah media pada Rabu (22/4).
“Oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan dan diskusi diselesaikan dengan satu atau lain cara,” sambungnya.
Trump menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah adanya permintaan dari Pakistan.
“Berdasarkan fakta bahwa pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu,” kata Trump.
Perpanjangan Gencatan Senjata dan Peran Pakistan
Gencatan senjata antara AS dan Iran pertama kali diberlakukan pada 7 April dan telah berlangsung selama dua pekan.
Masa berlaku sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4), sebelum akhirnya diperpanjang oleh Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Ia menyebut perpanjangan akan berlaku sampai Iran mengajukan proposal resmi dan pembicaraan diselesaikan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan apresiasi atas keputusan tersebut.
Dalam unggahan di X, ia menyatakan terima kasih kepada Presiden AS karena telah menerima permintaan untuk memperpanjang gencatan senjata guna memberi ruang bagi diplomasi.
“Saya sangat berharap kedua belah pihak akan terus mematuhi gencatan senjata dan dapat menyimpulkan ‘Kesepakatan Perdamaian’ yang komprehensif selama putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan di Islamabad untuk mengakhiri konflik secara permanen,” kata Sharif.
Kementerian Luar Negeri Pakistan juga sebelumnya mendesak agar gencatan senjata diperpanjang selama dua minggu untuk “memberi kesempatan pada dialog dan diplomasi.”
Islamabad dijadwalkan menjadi lokasi putaran kedua perundingan damai antara amerika serikat dan iran, dengan delegasi AS yang kembali dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.
Namun, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Vance tidak melakukan perjalanan ke Pakistan pada Selasa (21/4) dan pembaruan terkait pertemuan tatap muka akan diumumkan kemudian.
Blokade Laut dan Ketegangan di Selat Hormuz
Meski gencatan senjata diperpanjang, blokade laut oleh Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran tetap diberlakukan.
Trump menegaskan militer AS akan tetap “siap dan mampu” selama proses negosiasi berlangsung.
Kebijakan ini menjadi salah satu isu utama dalam perundingan karena sebelumnya telah dikecam oleh para pemimpin Iran sebagai tindakan perang.
Ketegangan juga terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur transit minyak global yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Iran sempat menutup selat tersebut pada awal perang, sementara Trump menyatakan bahwa persetujuan gencatan senjata mensyaratkan pembukaan kembali jalur tersebut secara penuh.
Namun lalu lintas kapal dilaporkan tetap relatif sepi.
Pada akhir pekan sebelum pengumuman perpanjangan gencatan senjata, Angkatan Laut AS menyita sebuah kapal Iran di Teluk Oman setelah kapal tersebut mencoba melewati blokade.
Iran menilai penyitaan kapal dan blokade sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam suratnya menyatakan bahwa negaranya “dengan tegas menolak dan mengutuk” tindakan AS serta menyebutnya sebagai “pelanggaran berat terhadap hukum internasional, pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata, dan tindakan agresi yang ditandai dengan ciri-ciri pembajakan.”
Sebaliknya, Trump menuduh Iran telah melanggar kesepakatan.
“Iran telah melanggar gencatan senjata berkali-kali,” kata Trump.
Respons Iran dan Situasi Negosiasi
Pemerintah Iran belum mengonfirmasi kehadiran dalam putaran kedua pembicaraan di Islamabad.
Kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan bahwa para negosiator Teheran memberi tahu rekan mereka dari AS melalui perantara di Pakistan bahwa mereka tidak akan hadir dalam pembicaraan lanjutan.
“Iran akhirnya mengumumkan hari ini bahwa dalam keadaan seperti ini, menghadiri negosiasi adalah buang-buang waktu karena AS mencegah tercapainya kesepakatan yang sesuai,” lapor Tasnim.
Esmail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa “belum ada keputusan akhir” mengenai kehadiran Iran dalam pembicaraan.
Ia menyebut ketidakpastian tersebut disebabkan oleh “pesan yang kontradiktif” dari Washington.
“Alasannya bukanlah keraguan; melainkan pesan-pesan yang kontradiktif, perilaku yang kontradiktif, dan tindakan-tindakan yang tidak dapat diterima dari pihak Amerika,” ujarnya.
Seorang penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyebut perpanjangan gencatan senjata oleh Donald Trump sebagai “taktik untuk mengulur waktu” demi serangan mendadak.
Ia juga menyatakan bahwa blokade berkelanjutan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran oleh Angkatan Laut AS “tidak berbeda dengan pemboman dan harus ditanggapi dengan respons militer.”
Konflik internasional antara amerika serikat dan iran ini telah berlangsung sejak 28 Februari dan memicu dampak luas, termasuk gangguan terhadap perdagangan global melalui Selat Hormuz.
Dengan gencatan senjata yang diperpanjang tanpa batas waktu, kelanjutan perundingan di Pakistan masih menunggu kepastian dari kedua belah pihak di tengah blokade yang tetap berjalan dan ketegangan yang belum mereda.
