Prabowo Gelar Pertemuan dengan Mantan Presiden di Tengah Memanasnya Situasi Timur Tengah. Gambar: Instagram/@sekretariat.kabinet
Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan strategis dengan sejumlah tokoh nasional, termasuk para mantan presiden dan wakil presiden, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa malam (3/3).
Pertemuan ini digelar dalam rangka merespons situasi geopolitik global yang memanas, khususnya terkait konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam forum tertutup yang berlangsung selama empat jam tersebut, Prabowo Subianto menyampaikan paparan situasi internasional terkini serta dampaknya terhadap Indonesia.
Fokus pembahasan diarahkan pada antisipasi nasional terhadap potensi krisis global yang timbul dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
“Presiden memberikan update, briefing tentang berbagai perkembangan terbaru yang terjadi di dunia, khususnya berkaitan dengan yang selama ini sudah menjadi perhatian banyak di antara kita yaitu mengenai yang paling mutakhir tentunya perkembangan perang atau serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Didiskusikan implikasinya apa terhadap kita, terhadap dunia,” ujar mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, dikutip dari laman resmi Presiden RI, Rabu (4/3).
Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, dan Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin.
Selain itu, forum ini juga diikuti oleh para ketua umum partai politik, tokoh ekonomi, serta figur nasional lainnya.
Forum Silaturahmi
Pertemuan ini merupakan forum silaturahmi dan dialog strategis lintas generasi yang digagas Presiden Prabowo untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi krisis global.
Pemerintah berupaya merumuskan langkah taktis dalam menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global yang cepat berubah.
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah konkret untuk mengamankan kepentingan negara.
“Semuanya ini kita lakukan dalam rangka bagaimana mendorong agar kejadian di global itu bisa kita antisipasi untuk mengamankan negara kita,” ujarnya.
Prabowo Subianto menekankan pentingnya partisipasi lintas tokoh dalam membentuk strategi nasional.
Diskusi turut membahas kemungkinan dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah, termasuk fluktuasi pasokan energi.
“Kita berhitung semua efeknya terhadap kita dari sisi itu saja, tapi juga dari sisi kalkulasi berapa lama perang ini akan terlangsung,” jelas Hassan Wirajuda.
Beberapa tokoh dari sektor ekonomi yang hadir antara lain Ketua Umum KADIN Anindya Bakrie, Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani, serta Ketua Umum BPP HIPMI Akbar Himawan Buchari.
Keikutsertaan mereka memperkaya perspektif pembahasan dalam merespons kemungkinan gejolak ekonomi akibat konflik internasional.
Kesiapan dalam Menghadapi Krisis Internasional
Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzzammil Yusuf menyampaikan bahwa bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) merupakan opsi realistis dalam menghadapi keterbatasan kebijakan luar negeri saat ini.
“Penjelasan yang menurut saya beliau menjelaskan pilihan yang memang terberat dari yang ada, yang paling mungkin dari yang ada, bukan pilihan-pilihan ideal,” ucap Almuzzammil.
Ia menambahkan bahwa kesiapan nasional mencakup sektor-sektor strategis seperti ketahanan pangan, energi, dan koordinasi antar elit nasional.
“Intinya pada pertahanan kita, pada kesiapan kita menghadapi krisis itu. Beliau menjelaskan tentang persiagaan pangan kita, persiagaan energi kita, dan dialog elit kita,” katanya.
Bahlil Lahadalia turut menyampaikan bahwa seluruh partai politik mendukung kebijakan Prabowo dalam mengantisipasi krisis global.
“Kami dari partai politik sangat memahami posisi yang dilakukan oleh Bapak Presiden, dan juga adalah kesiapan-kesiapan langkah-langkah untuk mengantisipasi ini,” ujarnya.
Peran Indonesia dalam Board of Peace
Forum ini juga membahas peran Indonesia dalam Board of Peace menyusul dinamika konflik Iran–Israel.
Hassan Wirajuda mengungkapkan bahwa sikap Indonesia terhadap konflik tersebut merupakan bentuk respons terhadap aksi sepihak yang tidak memiliki mandat internasional.
“Kita bahas, tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan, kemungkinan melemahkan posisi dan mandat BoP kita akan berhitung lagi dari sisi itu,” terangnya.
Hassan menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keterbukaan dalam menerima saran dan masukan dari seluruh peserta.
“Presiden sangat terbuka dalam menanggapi usul-usul pemikiran dari para peserta,” tutupnya.
