Cahaya Misterius di Langit Lampung Viral, BRIN Pastikan Bukan Meteor. Gambar: X/@WeatherMonitors
Kemunculan fenomena langit berupa cahaya misterius di langit Lampung pada Sabtu malam (4/4) dipastikan bukan meteor, melainkan pecahan sampah antariksa.
Peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Thomas Djamaluddin, menyatakan objek tersebut merupakan sisa roket China yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 19.50–20.00 WIB dan terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Bengkulu, Palembang, hingga Banten.
“Info terbaru dari Space-Track dan analisis orbit menunjukkan bahwa bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatra,” jelas Thomas dalam keterangan tertulis pada Minggu (5/4).
“Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga di sekitar Lampung dan Banten,” tambahnya.
Fenomena langit tersebut pertama kali dilaporkan warga Lampung yang melihat cahaya terang berwarna kebiruan dengan ekor panjang melintas cepat di langit.
Penampakan ini sempat memicu spekulasi publik yang mengira objek tersebut sebagai meteor, terutama karena karakteristik cahaya yang menyerupai benda langit alami saat memasuki atmosfer.
“Ya, tadi seperti ada cahaya jatuh, cuma tidak tahu apa. Sekitar jam 20.00 WIB,” ungkap Sepri salah satu saksi mata kepada awak media.
Terlihat dari Beberapa Wilayah
Penampakan objek bercahaya tersebut tidak hanya terlihat di Lampung, tetapi juga dilaporkan oleh warga di wilayah lain, seperti Bengkulu, Palembang, dan Banten.
Video dan foto yang diabadikan warga dengan cepat menyebar di media sosial, sehingga fenomena ini menjadi perbincangan luas.
Beberapa rekaman menunjukkan objek tersebut meluncur perlahan sebelum pecah menjadi beberapa bagian di udara.
Warna cahaya yang terlihat merah kebiruan dengan ekor panjang semakin memperkuat dugaan awal masyarakat bahwa benda tersebut adalah meteor yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Penjelasan BRIN dan Analisis Astronomi
BRIN memastikan objek tersebut merupakan pecahan sampah antariksa dari roket China.
Berdasarkan analisis orbit, benda tersebut berada di ketinggian di bawah 120 kilometer pada sekitar pukul 19.56 WIB sebelum akhirnya terbakar akibat gesekan dengan atmosfer yang lebih padat.
Menurut Thomas Djamaluddin, fenomena tersebut terjadi saat pecahan roket memasuki atmosfer dan mengalami gesekan hebat dengan udara.
Proses ini menyebabkan benda tersebut terbakar dan terpecah menjadi beberapa bagian yang tampak sebagai cahaya terang dari permukaan Bumi.
Penjelasan serupa disampaikan oleh Kepala Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL), Dr. Annisa Novia Indra Putri. Ia menegaskan bahwa objek tersebut bukan meteor maupun komet.
“Kalau fenomena langit di Lampung ini bukan dari komet, tetapi kemungkinan besar adalah sampah antariksa,” ujarnya.
Annisa juga menjelaskan bahwa karakteristik gerakan objek tersebut berbeda dengan meteor.
“Kami menganalisis itu bukan dari komet, karena dari gerakan, lintasan, bahkan dari pecahan yang terlihat pada video, itu bukan ciri-ciri komet,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa hujan meteor biasanya bersifat periodik, sedangkan fenomena ini tidak terjadi dalam pola waktu tertentu.
Dugaan Asal Objek dan Tingkat Risiko
Berdasarkan interpretasi awal tim Observatorium Astronomi ITERA Lampung, objek tersebut diduga merupakan bagian dari roket China tipe CZ-3B R/B yang kembali memasuki atmosfer Bumi.
Meski demikian, kajian lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan identitas objek secara pasti.
Para peneliti memastikan bahwa fenomena ini tidak berbahaya bagi masyarakat.
“Tidak, karena benda yang turun ke Bumi umumnya sudah berinteraksi dengan atmosfer dan terbakar. Biasanya hanya sisa-sisa kecil saja yang dapat mencapai permukaan,” jelas Annisa.
Ia juga menambahkan bahwa ukuran objek yang tidak terlalu besar kemungkinan besar akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.
Fenomena langit seperti ini bukanlah kejadian yang sepenuhnya langka. Sisa peluncuran roket atau satelit yang kembali memasuki atmosfer dapat menimbulkan efek cahaya terang yang terlihat dari permukaan Bumi.
Dalam peristiwa ini, objek dipastikan tidak berpotensi jatuh di wilayah Lampung, meskipun analisis lintasan masih terus dilakukan oleh para peneliti.
