Gunung Dukono Erupsi usai Gempa Magnitudo 7,6 Guncang Maluku Utara. Gambar: Kolase Tangkapan Layar X/@Osint613
Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali erupsi setelah wilayah tersebut diguncang gempa magnitudo 7,6.
Letusan terjadi pada Jumat (3/4) pukul 17.28 WIT dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 4.000 meter di atas puncak, menandai peningkatan aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono, Bambang Sugiono, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyatakan aktivitas vulkanik masih berlangsung.
“Erupsi terjadi sekitar pukul 17.28 WIT dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 4.000 meter di atas puncak,” ujar Bambang dalam keterangannya.
Data pengamatan juga mencatat kolom abu mencapai ±5.087 meter di atas permukaan laut dengan warna kelabu pekat dan condong ke arah barat laut.
Letusan Gunung Dukono terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 34 milimeter dan durasi 95,41 detik.
Aktivitas ini menunjukkan erupsi gunung berapi di Maluku Utara masih aktif dan berpotensi terjadi secara periodik, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam.
Aktivitas Vulkanik
Berdasarkan pengamatan visual, abu vulkanik yang dihasilkan berintensitas tebal dan bergerak mengikuti arah angin ke barat laut.
Bambang Sugiono menyatakan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Dukono masih fluktuatif dan berpotensi menimbulkan letusan susulan.
Erupsi pada sore hari ini tercatat lebih besar dibandingkan letusan sebelumnya pada pukul 11.06 WIT yang menghasilkan kolom abu setinggi 1.500 meter di atas puncak.
Saat ini Gunung Dukono berstatus Level II atau Waspada. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Dukono, M. Saum Amin, menyatakan bahwa masyarakat di sekitar Gunung Dukono serta pengunjung atau wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati kawah dalam radius 4 kilometer.
Selain itu, masyarakat di sekitar Gunung Dukono diimbau untuk menggunakan alat pelindung diri guna menghindari dampak abu vulkanik terhadap kesehatan.
Masyarakat diimbau selalu menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk digunakan saat dibutuhkan, guna menghindari bahaya abu vulkanik terhadap sistem pernapasan.
Warga juga disarankan menyiapkan masker sebagai langkah antisipasi terhadap sebaran abu vulkanik yang mengikuti arah angin.
