Unhas Resmi jadi Perguruan Tinggi Negeri Pertama di Indonesia Timur yang Punya Dapur MBG. Gambar: Dok. Unhas
Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi menjadi perguruan tinggi negeri (PTN) pertama di Indonesia Timur yang memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), setelah fasilitas tersebut diresmikan pada Selasa (28/4) di SPPG Unhas Tamalanrea 14, Makassar, Sulawesi Selatan.
Peresmian dilakukan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan Rektor Unhas Jamaluddin Jompa, disaksikan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman serta sejumlah anggota DPRD Sulsel.
Kehadiran SPPG ini ditujukan untuk mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam implementasi kebijakan pemenuhan gizi masyarakat.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa kehadiran SPPG di lingkungan perguruan tinggi merupakan bentuk keterlibatan kampus dalam mendukung program prioritas pemerintah.
“Intinya adalah bagaimana dari perguruan tinggi bisa menjalankan peran untuk mendukung program prioritas Bapak Presiden, salah satunya adalah program MBG,” kata Brian, Selasa (28/4).
Ia juga menekankan bahwa kampus tidak hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan kebijakan publik.
“SPPG yang dibentuk di kampus tidak hanya mendukung program, tetapi juga dapat menjadi teaching factory. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat praktik mahasiswa, penelitian, serta pengembangan lebih lanjut program MBG di masyarakat,” jelasnya di SPPG Unhas Makassar, Selasa (28/4).
Pernyataan tersebut menegaskan fungsi fasilitas SPPG Unhas sebagai pusat layanan gizi sekaligus sarana pendidikan dan riset di lingkungan perguruan tinggi.
Peran PTN dalam Program Makan Bergizi Gratis
Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan bahwa Unhas merupakan PTN pertama di Indonesia Timur yang menghadirkan SPPG.
“Ini yang pertama di perguruan tinggi negeri di Indonesia Timur,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa sebelumnya program serupa telah hadir di Institut Pertanian Bogor (IPB) serta beberapa perguruan tinggi swasta, termasuk Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang telah mendirikan dapur MBG pada awal Januari 2025.
Dalam kesempatan yang sama, Dadan menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung program makan bergizi gratis.
“Perguruan tinggi memiliki teknologi, SDM, dan inovasi yang sangat bermanfaat untuk pengembangan program Makan Bergizi, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis,” katanya.
“Karena teknologi, SDM dan inovasi-inovasi yang dimiliki perguruan tinggi saya kira akan banyak manfaatnya untuk program makan bergizi mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, pelatihan dan bimbingan teknis,” sambungnya.
Dadan turut menyoroti kesiapan fasilitas SPPG Unhas dari sisi pengolahan air dan limbah.
“Airnya sudah melalui reverse osmosis, jadi aman untuk diminum dan memasak. Ini penting karena kualitas air sering menjadi faktor gangguan pencernaan,” ungkapnya.
Ia kembali menegaskan, “Jadi pasti dijamin untuk air. Saya kira aspek keamanan terpenting karena sejauh ini kualitas air menjadi faktor di mana gangguan pencernaan terjadi dan dengan adanya teknologi yang sudah dilakukan di SPPG Unhas ini saya kira akan menjadi contoh.”
Selain itu, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang diterapkan dinilai dapat menjadi percontohan.
Integrasi Pendidikan, Riset, dan Layanan Gizi
Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menyampaikan bahwa SPPG Unhas akan terintegrasi dengan ekosistem akademik di kampus.
Program studi yang dilibatkan meliputi S1 Gizi, Kedokteran, Agribisnis, Peternakan, Pertanian, hingga Spesialis Anak.
“Kita punya program S1 Gizi dan ini adalah tempatnya mereka juga sebagai laboratorium. Makanya kita sebut laboratorium, termasuk laboratorium gizi,” tuturnya.
Untuk mendukung operasional SPPG, Unhas akan memanfaatkan produk hasil pertanian, peternakan, dan perikanan yang dikembangkan mahasiswa.
Fakultas Teknik juga berperan dalam menciptakan teknologi pencucian peralatan makan yang lebih higienis dan ramah lingkungan.
SPPG Unhas dirancang melayani sekitar 3.000 penerima manfaat yang terdiri atas 2.000 siswa sekolah dan 1.000 penerima lainnya dari kalangan ibu hamil hingga menyusui.
“2.000 di antaranya itu khusus untuk sekolah, dan kita minta 1.000 itu khusus untuk anak-anak, mulai dari ibu hamil hingga menyusui, sehingga ini bisa mengawali seribu hari pertama kehidupan,” jelas Jamaluddin Jompa.
Ia menambahkan bahwa fasilitas tersebut juga akan difungsikan sebagai pusat riset dan inovasi gizi.
“Kita berharap ada dampak yang signifikan bagi masyarakat sehingga nanti akan ada kajian terhadap penerima manfaat itu kita akan kaji melalui program-program spesialisasi kedokteran anak,” tutupnya.
Dengan peresmian ini, Unhas menjadi PTN di Indonesia Timur yang menghadirkan SPPG untuk mendukung program makan bergizi gratis, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengembangan riset, inovasi, dan layanan gizi berbasis kampus.
