Dudung Abdurachman Bertemu Prabowo di Istana, Bahas Apa?. Gambar: Instagram/@sekretariat.kabinet
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menerima Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (21/4) sore.
Pertemuan yang berlangsung di kompleks istana tersebut digelar setelah Dudung mengaku dipanggil langsung oleh presiden untuk memberikan masukan terkait isu pertahanan nasional dan internasional, termasuk dinamika kerja sama pertahanan serta isu lintas wilayah udara Indonesia.
Dudung tiba di kompleks istana sekitar pukul 14.30 WIB dan menyebut pemanggilan disampaikan melalui ajudan presiden pada malam sebelumnya.
“Oh semalam ditelepon oleh ajudan, ‘Bapak menghadap Bapak Presiden jam 3 sore ini’,” kata Dudung kepada awak media.
Ia menegaskan bahwa sebagai penasihat, dirinya kerap dimintai pandangan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai isu strategis.
Pertemuan di Istana dan Isu Pertahanan yang Mengemuka
Kehadiran Dudung Abdurachman di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (21/4) juga berkaitan dengan sejumlah isu pertahanan yang menjadi perhatian publik.
Salah satu isu yang disinggung adalah wacana terkait lintas wilayah udara Indonesia oleh pesawat militer asing.
Dudung Abdurachman menegaskan bahwa pesawat militer asing tidak diperbolehkan melintas di wilayah udara Indonesia tanpa izin dan hal tersebut telah diatur dalam hukum internasional.
“Oh ya itu sudah hukum internasional ya tidak bolehlah ya,” katanya.
Isu tersebut mencuat setelah adanya dokumen pertahanan Amerika Serikat yang bocor dan mengungkap rencana strategis terkait kemungkinan bebas melintas wilayah udara Indonesia.
Perjanjian itu dikabarkan disepakati dalam pertemuan antara Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa waktu lalu.
Dalam informasi yang beredar, disebutkan bahwa pemerintah Indonesia memberikan izin kepada pesawat militer Amerika Serikat untuk melintasi wilayah udara Indonesia untuk kepentingan operasi darurat (contingency operations), misi respons krisis, hingga latihan militer.
Selain isu lintas wilayah udara, Dudung Abdurachman juga menyinggung perjanjian Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) atau Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Perjanjian tersebut diteken oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth beberapa waktu lalu.
Dudung menyebut kerja sama tersebut telah berlangsung lama dan mencakup pengembangan kapasitas, teknologi pertahanan generasi berikutnya, peningkatan kesiapan operasional, pendidikan militer profesional, serta penguatan hubungan antarpersonel pertahanan kedua negara.
“Itu kan sudah lama juga dan ini kelihatannya akan terus dilanjutkan kerja sama kita dengan Amerika. Tetapi hal-hal yang prinsip, saya rasa beliau nanti lebih tahu lah. Saya juga nanti akan bertanya kepada beliau, ya,” katanya.
Pertemuan antara Dudung Abdurachman dan Prabowo Subianto di Istana menjadi bagian dari kegiatan kenegaraan yang melibatkan tokoh dan figur publik dalam pembahasan isu-isu strategis pertahanan.
