Alasan Ikan Sapu-Sapu Harus Dimusnahkan, Ini Fakta di Baliknya. Gambar: Ilustrasi Canva
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggalakkan operasi pembasmian ikan sapu-sapu di sejumlah wilayah Ibu Kota pada April 2026 menyusul temuan kandungan logam berat di atas ambang batas aman serta dampaknya terhadap ekosistem sungai.
Spesies bernama latin Hypostomus plecostomus dan Pterygoplichthys pardalis itu dinilai tidak layak dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung kawasan hilir Jakarta.
Langkah ini dilakukan karena ikan sapu-sapu diketahui menyerap polutan, mengandung residu berbahaya, serta dikategorikan sebagai spesies invasif yang merusak habitat perairan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa hasil laporan yang diterimanya menunjukkan kadar residu logam berat pada ikan tersebut melebihi batas aman.
“Kemarin dalam rapat saya dilapori oleh Kepala KKP bahwa di ikan ini rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Dan itu berbahaya sekali,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (17/4).
Ia juga menginstruksikan jajaran untuk melakukan pembersihan ikan sapu-sapu di seluruh wilayah Jakarta yang memiliki populasi tinggi.
Setelah penangkapan, ikan sapu-sapu dibawa ke Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Ciganjur.
Kepala Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok menjelaskan mekanisme penanganan bangkai ikan tersebut.
“Bangkai ikan sapu-sapu yang telah mati akan dikubur karena daya tahan ikan sapu-sapu ini memang jika tidak dipastikan mati, maka bisa hidup tanpa berada di air,” terangnya.
Permasalahan populasi ikan ini sebelumnya juga pernah terjadi dan ditangani di Kali Ciliwung.
Kandungan Logam Berat dan Risiko Kesehatan
Sejumlah penelitian menunjukkan ikan sapu-sapu dari perairan tercemar tidak layak dikonsumsi.
Penelitian Laksmi Nurul Ismi dkk dalam Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi tahun 2019 menemukan kandungan arsen, kadmium, merkuri, dan timbal pada sampel ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung kawasan MT. Haryono melampaui batas maksimum yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Analisis menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) menguatkan temuan tersebut.
Penelitian lanjutan Dewi Elfidasari dkk yang dipublikasikan di National Library of Medicine pada 2023 juga menemukan hubungan antara kandungan logam berat dengan sistem biologis ikan, termasuk bakteri usus yang membantu ikan bertahan di lingkungan tercemar.
Meski terdapat studi lain di wilayah Bogor-Depok-Jakarta yang menunjukkan kadar di bawah ambang batas, penelitian di wilayah hilir Jakarta secara konsisten menemukan kandungan logam berat lebih tinggi, terutama timbal, kadmium, merkuri, dan arsen.
Logam berat bersifat bioakumulatif dan tidak dapat dihilangkan melalui proses memasak.
Artinya, pengolahan seperti digoreng atau dijadikan siomay tidak mengurangi kandungan zat berbahaya di dalam jaringan daging.
Konsumsi ikan sapu-sapu tercemar berpotensi menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat, ginjal, hati, serta bersifat karsinogenik.
Paparan timbal dapat berdampak pada perkembangan otak anak dan merusak sistem saraf, sementara kadmium dikaitkan dengan kerusakan ginjal dan kerapuhan tulang.
Selain logam berat, ikan sapu-sapu sebagai hewan dasar (bottom feeder) mengonsumsi detritus, alga, sedimen, serta limbah industri dan domestik.
Kondisi ini membuat ikan sapu-sapu berisiko mengakumulasi bahan kimia berbahaya dan pestisida.
Dampak kesehatannya meliputi potensi keracunan makanan dengan gejala mual, muntah, dan diare, kemungkinan reaksi alergi seperti gatal-gatal dan ruam, risiko infeksi parasit jika tidak dimasak sempurna, serta gangguan organ akibat paparan toksin jangka panjang.
Aspek Kehalalan
Secara umum, semua jenis ikan air tawar dianggap halal untuk dikonsumsi. Namun, aspek kehalalan berbeda dengan aspek keamanan pangan.
Ikan sapu-sapu pada dasarnya dapat dikonsumsi apabila berasal dari perairan bersih dan budidaya terawat.
Dari sumber yang terjamin, ikan sapu-sapu mengandung protein, kalsium, fosfor, vitamin D, selenium, omega 3, serta asam amino esensial.
Meski demikian, kemampuan adaptasi ikan sapu-sapu sebagai hewan yang mampu hidup di perairan berkadar oksigen rendah dan tercemar menjadikannya rentan menyerap polutan.
Karena itu, konsumsi ikan sapu-sapu liar dari sungai tercemar seperti di Jakarta tidak direkomendasikan berdasarkan temuan kandungan logam berat yang melebihi ambang batas aman.
Spesies Invasif
Ikan sapu-sapu berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan, dan masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias sebelum menyebar ke perairan umum.
Dalam regulasi nasional, ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai ikan asing invasif sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020.
Sebagai spesies invasif, ikan sapu-sapu mendominasi habitat, memangsa telur dan larva ikan lokal, serta mengganggu regenerasi spesies asli.
Ikan ini juga membuat lubang di bantaran sungai sebagai sarang yang dapat memicu erosi, pendangkalan, dan peningkatan kekeruhan air.
Di wilayah perkotaan seperti Jakarta, kondisi tersebut berpotensi memperparah risiko banjir serta mempercepat degradasi infrastruktur sungai.
Dengan berbagai temuan tersebut, ikan sapu-sapu di perairan tercemar dinilai tidak aman untuk dikonsumsi serta menjadi target pengendalian populasi oleh Pemprov DKI Jakarta pada April 2026.
