SBY Beri Pesan untuk Prajurit TNI di Lebanon, Ini Isinya. Gambar: Dok KPU Jayawijaya
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyampaikan pesan kepada prajurit TNI yang masih bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon, Minggu (5/4).
Pesan tersebut disampaikan melalui akun X miliknya sebagai bentuk perhatian dan dukungan terhadap para prajurit yang tengah menjalankan tugas di wilayah konflik.
“Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air,” tulis SBY melalui X pribadinya, dikutip pada Senin (6/4).
Pesan tersebut disampaikan setelah tiga prajurit TNI gugur saat menjalankan tugas sebagai bagian dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Ketiga prajurit yang gugur adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon.
Desakan SBY kepada PBB
Selain memberikan pesan kepada prajurit TNI, Susilo Bambang Yudhoyono juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil langkah tegas terkait situasi keamanan pasukan penjaga perdamaian di Lebanon.
Ia meminta agar penugasan UNIFIL dihentikan sementara atau dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
“Seharusnya PBB New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” ujarnya.
SBY menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian atau peacekeeper tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak memiliki mandat untuk melaksanakan tugas pertempuran.
Menurutnya, hal tersebut telah diatur dalam Piagam PBB. Ia juga menjelaskan bahwa tugas utama pasukan penjaga perdamaian berada di wilayah blue line atau blue zone yang bukan merupakan area pertempuran.
Namun, SBY menyebut bahwa saat ini kontingen Indonesia yang bertugas di Lebanon telah berada di wilayah konflik.
Ia mengungkapkan bahwa Israel telah maju sejauh tujuh kilometer dari blue line, sehingga meningkatkan risiko bagi pasukan penjaga perdamaian.
“Secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur, dan adil,” kata SBY.
Latar Belakang Pengiriman Pasukan ke Lebanon
Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan bahwa Indonesia telah lama berperan dalam misi perdamaian PBB di Lebanon.
Saat menjabat sebagai presiden, ia mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalion pasukan Indonesia sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian.
Pengiriman pasukan tersebut pertama kali dilakukan pada Agustus 2006, ketika konflik antara Israel dan Lebanon pecah.
Pada masa itu, SBY juga mengusulkan kepada Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi untuk menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) guna mendesak PBB mengambil langkah penghentian konflik.
“Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerja Sama Islam), untuk menggelar emergency meeting guna mendesak PBB untuk segera bertindak,” jelasnya.
Dalam pertemuan darurat OKI yang digelar di Kuala Lumpur, Indonesia menyatakan kesiapan mengirimkan satu batalion pasukan untuk menjalankan misi pemeliharaan perdamaian di perbatasan Israel dan Lebanon setelah gencatan senjata tercapai.
SBY juga mengungkapkan bahwa pengiriman kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, dilakukan pada November 2006, tiga bulan setelah konflik pecah.
Pengiriman tersebut dimungkinkan setelah Indonesia memperoleh kendaraan tempur VAB dari Prancis melalui skema kerja sama antarpemerintah.
“Alhamdulillah, Prancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta,” paparnya.
Hingga 2026, Indonesia telah mengirimkan 19 kontingen dalam misi perdamaian di Lebanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun.
SBY juga menyebut bahwa sejumlah tokoh nasional saat ini pernah menjadi bagian dari kontingen tersebut, termasuk Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan.
Melalui pesannya, Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung misi perdamaian dunia sekaligus mengingatkan pentingnya keselamatan prajurit TNI yang bertugas di Lebanon.
