Setelah Kunjungan ke Jepang, Prabowo Lanjutkan Lawatan ke Korea Selatan. Gambar: Instagram/@presidenrepublikindonesia
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Seoul, Korea Selatan, pada Selasa malam (31/3) dalam rangka kunjungan kenegaraan sebagai bagian lanjutan dari lawatannya ke Asia Timur setelah sebelumnya mengunjungi Jepang.
Presiden Prabowo mendarat di Pangkalan Udara Militer Seongnam sekitar pukul 19.15 waktu setempat menggunakan pesawat Garuda Indonesia-1.
Agenda kunjungan ini ditujukan untuk memperkuat kerja sama bilateral dan mempererat diplomasi dan hubungan internasional antara Indonesia dan Republik Korea.
Kepala negara disambut secara resmi melalui upacara kehormatan yang melibatkan 20 personel pasukan jajar kehormatan dan 21 dentuman meriam salvo sebagai bentuk penghormatan kenegaraan.
Upacara tersebut dilanjutkan dengan penyambutan oleh Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Republik Korea Kim Sungwhan, Duta Besar Designate Republik Korea untuk Indonesia Yoon Soongu, dan Kepala Protokol Negara Republik Korea Kim Tae-jin.
Dari pihak Indonesia turut hadir Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea Cecep Herawan dan Atase Pertahanan Republik Indonesia di Seoul Kolonel Penerbang Muhammad Arif.
Setibanya di hotel tempat menginap di Seoul, Presiden Prabowo kembali disambut hangat oleh warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Korea Selatan.
Dua anak Indonesia berpakaian tradisional menyerahkan rangkaian bunga kepada presiden sebagai tanda selamat datang.
Sambutan ini menjadi bagian dari penguatan hubungan emosional antara presiden dan diaspora Indonesia di luar negeri.
Sambutan Diaspora Indonesia dan Harapan Kerja Sama
Beberapa WNI yang hadir menyampaikan antusiasme mereka atas kehadiran Presiden Prabowo. Khairul, mahasiswa S2 di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), mengungkapkan kebanggaannya karena dapat menyambut langsung presiden.
“Tadi beliau tanya saya belajar di mana. Kemudian beliau juga menyemangati saya untuk bisa menyelesaikan studi saya,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Pujianti, mahasiswa S3 di Seoul National University asal Nusa Tenggara Timur, yang merasa tersentuh dapat bertemu dengan presiden di luar negeri.
“Terus terang sangat bangga karena saya berasal dari Nusa Tenggara Timur yang sangat sulit untuk ke Jakarta untuk melihat bapak presiden. Tapi saya bisa bertemu dengan bapak presiden di tempat saya menuntut ilmu. Jadi saya sangat bangga sekali,” tuturnya.
Rima, diaspora Indonesia yang telah lama tinggal di Korea Selatan, juga menyampaikan kegembiraannya atas kesempatan bertemu langsung dengan presiden.
“Dari kemarin itu saya sampai nggak bisa tidur. Luar biasa sekali. Suatu kehormatan saya bisa diundang dengan KBRI untuk bisa hadir menyambut bapak. Saya berharap untuk persahabatan Indonesia dan Korea ini makin dipererat,” ucap Rima.
Agenda Resmi Presiden di Korea Selatan
Selama berada di Korea Selatan, Presiden Prabowo dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda resmi, termasuk upacara penyambutan kenegaraan oleh Presiden Republik Korea di Blue House.
Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah lanjutan pemerintah Indonesia dalam memperkuat diplomasi dan hubungan internasional yang strategis dengan mitra kawasan.
Sebelumnya, pada hari yang sama, Selasa (31/3), Presiden Prabowo beserta rombongan lepas landas dari Bandar Udara Haneda, Tokyo, Jepang, sekitar pukul 17.15 waktu setempat.
Di Jepang, presiden telah menyelesaikan agenda kenegaraan termasuk pertemuan dengan Kaisar Jepang Naruhito dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
Komitmen Pemerintah terhadap Stabilitas Ekonomi Global
Bersamaan dengan kunjungan presiden, pemerintah juga menyampaikan kebijakan ekonomi nasional melalui konferensi pers yang digelar secara hybrid di Seoul.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah bergerak cepat merespons arahan presiden dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
“Kondisi perekonomian nasional tetap stabil dengan fundamental yang kokoh. Stok BBM nasional dalam kondisi aman dan stabilitas fiskal tetap terjaga,” kata Airlangga, Selasa (31/3).
Ia menambahkan bahwa tantangan global seperti gangguan rantai pasok tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan peluang transformasi.
“Situasi ini bukanlah hambatan, melainkan momentum bagi kita untuk melakukan akselerasi perubahan perilaku yang modern dan efisien,” ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut menegaskan bahwa kondisi fiskal tetap sehat.
“Kami selalu menjaga anggaran berkesinambungan dan dengan itu pun kami masih mempunyai ruangan untuk memberi cushion atau bantalan terhadap gejolak perekonomian dunia. Hitungan kita sekarang sampai rata-rata akhir tahun pun anggaran kita tetap berkesinambungan dan defisitnya tetap terkendali,” ungkapnya.
Purbaya memastikan bahwa defisit anggaran dikelola dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
“Jadi teman-teman media dan masyarakat tidak perlu khawatir defisitnya tidak terkendali dan anggarannya morat-marit. Kita kendalikan dengan baik semuanya dan kita sudah hitung sampai dengan akhir tahun,” pungkasnya.
