Menhut Ungkap Prabowo Siapkan Inpres untuk Lindungi Gajah Sumatra dan Borneo. Gambar: Dok. Presiden RI
Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (12/3) di Istana Merdeka, Jakarta, menerima laporan dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengenai langkah strategis pemerintah dalam konservasi satwa, khususnya gajah Sumatra dan Borneo.
Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa Presiden Prabowo tengah menyiapkan Instruksi Presiden (Inpres) untuk menyelamatkan populasi dan habitat kedua spesies tersebut.
Raja Juli menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil karena jumlah kantong habitat gajah di Indonesia telah menyusut drastis.
Dari total 42 kantong habitat yang tercatat, kini hanya tersisa sekitar 21 kantong.
“Kalau tidak ada intervensi yang serius oleh pemerintah, maka kerusakan kantong-kantong gajah ini adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, populasi gajah sebagai salah satu satwa yang dilindungi dan merupakan iconic species di Indonesia, tidak menutup kemungkinan akan punah,” ujarnya pada Jumat (13/3), dikutip dari laman Presiden RI.
Melalui Inpres tersebut, Prabowo akan menginstruksikan kementerian terkait untuk mendukung Kementerian Kehutanan, termasuk pembangunan koridor habitat yang memungkinkan pergerakan gajah antarwilayah.
Koridor ini juga akan dibangun dalam kawasan kantong gajah guna memperluas daya jelajah dan mencegah perkawinan sedarah.
Strategi Pelestarian Habitat Gajah
Menteri Kehutanan Raja Juli menjelaskan bahwa pemerintah akan membentuk area preservasi pada lahan berstatus Hak Guna Usaha (HGU) yang sudah terbit, terutama di kawasan perkebunan sawit di Sumatra.
“Area preservasi yaitu sebuah wilayah yang memungkinkan adanya koridor gajah antar kantong, sehingga gajah dapat bergerak dari satu kantong ke kantong lain. Jadi ini sangat penting sekali,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap upaya pelestarian habitat gajah, Presiden Prabowo juga telah menyerahkan lahan pribadi seluas 90 ribu hektare untuk program konservasi.
Selain itu, Raja Juli menegaskan bahwa penerbitan Inpres bukan berdasarkan preferensi pribadi Presiden terhadap satwa, tetapi dilatarbelakangi oleh urgensi penyelamatan spesies gajah yang semakin terancam.
“Inpres ini akan memberikan perintah kepada menteri terkait agar membantu Kementerian Kehutanan dalam menyelamatkan populasi gajah ini,” jelasnya.
Satgas Inovasi Pendanaan Taman Nasional
Selain konservasi gajah, Presiden Prabowo juga menyiapkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional.
Satgas ini dirancang untuk merancang model pendanaan yang berkelanjutan dengan melibatkan sektor swasta.
“Kita akan mencari pendanaan yang inovatif, yang sustain, termasuk melibatkan private sector agar sekali lagi taman nasional kita menjadi taman nasional yang berkelas dunia,” jelas Raja Juli.
Sebagai langkah awal, pemerintah akan menjalankan proyek percontohan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
Di lokasi ini, Presiden juga telah memutuskan untuk menyiapkan dana bantuan Presiden guna membangun pagar atau kanal yang membatasi interaksi langsung antara taman nasional dan permukiman warga.
“Beliau memutuskan menyiapkan dana bantuan Presiden untuk membuat pagar atau kanal yang akan membentengi antara Taman Nasional Way Kambas dengan perkampungan atau desa yang ada di sepanjang Taman Nasional Way Kambas di Lampung tersebut,” ungkap Raja Juli.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah terhadap kelestarian satwa liar dan hutan Indonesia.
Raja Juli juga menyampaikan bahwa perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap isu konservasi mendapat apresiasi dari banyak aktivis, baik nasional maupun internasional.
“Ini sekali lagi menunjukkan bahwa Pak Presiden Prabowo Subianto, seperti yang dikatakan para aktivis konservasi, beliau adalah Presiden dalam sejarah Indonesia yang paling peduli terhadap konservasi gajah di Indonesia,” katanya.
