SBY Bicara Risiko Konflik AS-Israel vs Iran, Yakin Prabowo Sedia Payung sebelum Hujan. Gambar: YouTube/Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memperingatkan potensi meluasnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menjadi konflik regional hingga global.
Hal ini disampaikan SBY dalam podcast SBY Standpoint: Perang di Timur Tengah: Siapa Bakal Menang? yang diunggah di kanal YouTube pribadinyapada Selasa (3/3).
Menurut SBY, eskalasi di kawasan Timur Tengah berisiko melibatkan kekuatan militer besar lain seperti NATO, Rusia, Tiongkok, hingga Korea Utara.
“Kalau peperangan yang ada di Timur Tengah ini meluas, membesar, tentu ada implikasinya pada kehidupan, not only di kawasan Timur Tengah tapi di banyak tempat di dunia ini,” ujar SBY, dikutip pada Rabu (4/3).
Ia menegaskan, pola serangan balasan yang terus terjadi menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu dan mulai menarik negara-negara yang sebelumnya netral.
SBY juga menyampaikan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi kemungkinan tekanan ekonomi dan fiskal akibat konflik tersebut.
“Tentu saya yakin Pak Prabowo, presiden kita, akan memikirkan dan sekarang harus mulai dipersiapkan dengan baik, kalau tekanan ekonomi kita, fiskal kita itu terjadi karena perang yang seperti ini,” ucapnya.
Potensi Keterlibatan NATO
SBY menyoroti bahwa konflik antara AS, Israel, dan Iran tidak lagi melibatkan hanya tiga negara tersebut, melainkan dapat memicu keterlibatan kekuatan militer lain di luar kawasan. Ia menyatakan bahwa negara-negara di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, Oman telah mulai ikut membalas serangan dari Iran, menunjukkan eskalasi nyata di tingkat kawasan.
Selain itu, SBY menyebut Inggris berisiko menjadi target karena memiliki pangkalan militer di Cyprus, yang bisa memicu intervensi dari anggota NATO.
“Jika pihak di luar Timur Tengah masuk, dan kalau misalnya anggota NATO nimbrung di situ, bagaimana Rusia? Bagaimana Tiongkok? Bagaimana Korea Utara? Ini menurut saya very-very dangerous (benar-benar berbahaya),” ujarnya.
Ia juga mencatat bahwa sejak Sabtu (28/2), sejumlah negara yang sebelumnya tidak terlibat secara langsung kini mulai terdorong mengambil posisi defensif.
“Ternyata itu terjadi betul, sehingga yang tadinya boleh dikatakan tidak ikut-ikutan begitu, dipaksa untuk melibatkan diri,” kata SBY.
Dampak Ekonomi Global
SBY turut membahas dampak perang terhadap ekonomi global, khususnya sektor energi.
Ia menjelaskan bahwa 20 persen pasokan energi dunia melewati Selat Hormuz.
Jika jalur ini terganggu, maka distribusi minyak dan gas alam dunia akan terhambat, menyebabkan lonjakan harga global.
“Kalau permintaan tetap, penawaran atau suplai berkurang, karena perang itu, karena banyak kapal tanker ditenggelamkan, banyak yang nggak berani berlayar lagi… akhirnya akan terguncang harga, pasti akan meroket. Dua hari ini sudah naik USD 20 per barel,” ujarnya.
Kondisi ini, menurutnya, sangat berdampak bagi Indonesia yang kini berstatus sebagai net importer minyak.
Produksi minyak nasional saat ini hanya mencapai 600 ribu barel per hari, jauh menurun dari masa ketika Indonesia masih menjadi anggota OPEC dan eksportir minyak.
“Sekarang kita ini net importer, lebih banyak yang kita beli dibandingkan yang kita produksi di dalam negeri,” jelas SBY.
Ia memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan langsung membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dengan asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel, lonjakan harga ke level USD 100 hingga USD 150 akan memicu peningkatan beban subsidi dan berpotensi menambah defisit hingga ratusan triliun rupiah.
Cerita Pengalamannya saat Hadapi Krisis
SBY menyampaikan bahwa kondisi tersebut akan memaksa pemerintah untuk mengambil keputusan sulit, baik dengan meningkatkan subsidi energi secara besar-besaran atau menaikkan harga bahan bakar dan gas.
“Mau dikasih subsidi habis-habisan jebol. Tapi kalau nggak, kalau gitu harga BBM kita naikkan, harga gas kita naikkan, siap tidak kita?” katanya.
Mengacu pada pengalamannya saat menjabat presiden, SBY menyebut pernah menaikkan harga BBM hingga 140 persen sebagai langkah menyelamatkan ekonomi nasional.
Dalam situasi tersebut, ia menilai penting untuk melindungi masyarakat dengan kebijakan berbasis bantuan langsung tunai (BLT).
“Itulah sejarah BLT. BLT itu bukan sapu jagat, bukan bansos kapan pun bisa dilaksanakan. Harus ada reason-nya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga daya beli masyarakat kecil, dengan menekankan bahwa pemerintah sebaiknya menanggung beban fiskal yang lebih besar agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok.
“Kalau saya pribadi biarlah kalau sedang kantongnya kempes, kantong pemerintah kempis sedikit nggak apa-apa. Jangan kantong rakyat. Ya nggak bisa makan, nggak bisa beli apa-apa,” katanya.
Antisipasi Pemerintah
Menutup pernyataannya, SBY menekankan pentingnya persiapan menghadapi ketidakpastian global melalui kebijakan ekonomi dan fiskal yang matang.
Ia menyebut bahwa pemerintah harus sigap menghadapi potensi gejolak ekonomi akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
“Tidak ada kamus gara-gara badai dunia ini terhuyung-huyung dan kita jatuh. Nah sedia payung sebelum hujan, lakukan antisipasi yang bagus… dengan demikian sedahsyat apa pun kita akan bisa bertahan,” tegasnya.
