Nasib Spalletti usai Juventus Gagal Lolos Liga Champions. Gambar: AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV
Luciano Spalletti dipastikan tetap melatih Juventus meskipun tim tersingkir dari ajang UEFA Champions League musim ini.
Keputusan ini disampaikan CEO Juventus, Damien Comolli, setelah Bianconeri gagal melaju ke babak 16 besar Liga Champions usai kalah agregat 5-7 dari Galatasaray.
Pertandingan leg kedua berlangsung di Allianz Stadium pada Kamis (26/2) dini hari WIB, di mana Juventus menang 3-2 lewat gol Manuel Locatelli, Federico Gatti, dan Weston McKennie, namun tetap tersingkir karena hasil di leg pertama.
Comolli menegaskan bahwa klub tidak akan mengambil langkah emosional dengan mengganti pelatih, meskipun tekanan publik meningkat setelah kegagalan tersebut.
Ia menyebut bahwa stabilitas menjadi prioritas utama manajemen dibanding sekadar merespons kekalahan.
“Jika saya harus menjawab hari ini, saya akan mengatakan kontinuitas,” ujar Damien Comolli saat ditanya mengenai masa depan Spalletti.
Pernyataan Comolli menegaskan komitmen Juventus terhadap proyek jangka panjang bersama Spalletti.
Menurutnya, keputusan klub didasarkan pada analisis data rasional, bukan dorongan emosional.
“Pertandingan tunggal tidak boleh mengubah cara kami berpikir,” tegas Comolli.
Ia juga menyatakan bahwa para pengambil keputusan di klub dibayar untuk bersikap rasional dan tidak emosional.
“Saya selalu katakan pada orang-orang, kita dibayar untuk memberikan emosi, namun dibayar untuk tidak memiliki emosi saat membuat keputusan,” sambungnya.
Juventus Tetap Percaya Proyek Spalletti meski Gagal di Eropa
Juventus gagal melaju lebih jauh di UEFA Champions League usai kalah agregat dari Galatasaray.
Meski menang 3-2 di leg kedua yang berlangsung di Allianz Stadium, hasil tersebut tidak cukup untuk membalikkan defisit dari leg pertama.
Dalam laga itu, Juventus mencetak gol lewat Manuel Locatelli, Federico Gatti, dan Weston McKennie, sementara Galatasaray membalas melalui gol Victor Osimhen dan Baris Alper Yilmaz.
Selain Liga Champions, Juventus juga telah tersingkir dari ajang Coppa Italia.
Di kompetisi domestik, posisi Juventus juga belum memuaskan.
Hingga pekan ini, Juventus mengoleksi 46 poin di Liga Italia dan tertinggal 18 poin dari Inter Milan yang berada di puncak klasemen.
Meskipun performa Juventus tidak menunjukkan hasil maksimal, Comolli tetap yakin bahwa Spalletti adalah sosok yang tepat untuk membangun identitas tim.
Ia menyebut bahwa klub sebelumnya terlalu sering mengganti pelatih, yang membuat fondasi tim tidak stabil.
“Klub ini pernah punya enam, tujuh, hingga delapan pelatih berbeda dalam dua atau tiga tahun,” kata Comolli.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh mantan pemain Juventus, Giorgio Chiellini.
Ia menilai kegagalan di Liga Champions harus dijadikan momentum kebangkitan.
“Perasaan yang harus kita miliki adalah bahwa ini merupakan titik awal untuk menemukan kembali percikan yang selama ini hilang dari kita, saat kita memasuki pekan-pekan terakhir musim ini,” kata Chiellini.
Ia juga menilai bahwa di bawah Spalletti, Juventus hanya melakukan kesalahan dalam satu setengah pertandingan sejak ia tiba.
Manajemen Juventus menegaskan pentingnya konsistensi dalam strategi tim, dan tidak ingin mengulangi kebiasaan melakukan pergantian pelatih dalam waktu singkat.
Mereka memilih untuk tetap fokus pada pembentukan gaya bermain dan chemistry antarpemain yang membutuhkan waktu.
Keputusan mempertahankan Luciano Spalletti merupakan bagian dari visi jangka panjang yang telah disusun sejak awal musim, sesuai dengan prinsip stabilitas yang dijunjung oleh pihak manajemen.
