Eni Temukan Cadangan Gas Besar di Kaltim, Bahlil Strategi agar Gas Kita Tidak Impor. Gambar: Instagram/@bahlillahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan penemuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur yang berasal dari sumur eksplorasi Geliga-1 di Blok Ganal, Cekungan Kutai, sekitar 70 kilometer lepas pantai Kalimantan Timur, Senin (20/4).
Temuan yang dikelola perusahaan energi asal Italia, Eni, tersebut memiliki total potensi dari dua blok, yakni Geliga dan Gula, mencapai 7 triliun kaki kubik (Tcf) gas serta ratusan juta barel kondensat.
Pemerintah menargetkan produksi dimulai pada 2028 sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.
“Nah saya mengumumkan teman-teman bahwa Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru, Giant dan blok Geliga yang menghasilkan 5 triliun cubic feet untuk gas,” jelas Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin (20/4).
“Saya mau umumkan bahwa Eni baru saja mendapat 1 wk baru giant dari Geliga yang menghasilkan 5 TcF untuk gas dan kita mendapat kondensat 300 juta barel minyak,” imbuhnya.
Penemuan di Blok Geliga tersebut melengkapi temuan sebelumnya di Blok Gula yang memiliki potensi sekitar 2 Tcf gas dan 75 juta barel kondensat.
“Sebelum ditemukan Blok Geliga-1, kita temukan blok Gula yang menghasilkan gas 2 triliun kubik feet dan 75 juta barel. Maka totalnya gas dari 2 blok ini menghasilkan 7 triliun kubik feet yang mulai produksi 2028 dan 375 juta barel kondensat dan minyak,” kata Bahlil.
Rencana Produksi
Berdasarkan paparan Kementerian ESDM, produksi gas dari wilayah kerja tersebut saat ini berada di kisaran 600–700 juta kaki kubik per hari (MMscfd).
Pemerintah menargetkan peningkatan dalam beberapa tahun ke depan.
“Dengan demikian maka ENI pada 2028, 2028 itu bisa kita maksimalkan mencapai kurang lebih sekitar 2.000 MM untuk gas. Sekarang produksinya kurang lebih sekitar 600 sampai 700. Nanti 2028 kita akan berkembang di sekitar kurang lebih 2.000 MM. Di 2030 itu akan kita kembangkan menjadi 3.000 MM. Jadi ini sesuatu yang luar biasa sekali,” jelas Bahlil.
Selain gas, produksi kondensat juga ditargetkan meningkat. Pada 2028, produksi kondensat diproyeksikan mencapai 90.000 barel per hari.
Selanjutnya pada 2029–2030, jumlah tersebut ditargetkan bertambah menjadi 150.000 barel per hari.
“Jadi ini sesuatu yang luar biasa sekali ini giant dengan demikian daripada gas kita menemukan nanti 2028 kita sudah mulai produksi kondensat kurang lebih sekitar 90 ribu barel dan 2029-2030 itu bisa nambah lagi 150 ribu bph,” terang Bahlil.
Pemerintah menyatakan temuan ini menjadi bagian dari strategi untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
“Ini adalah strategi untuk bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara mana pun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri kita dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi,” terang Bahlil.
“Ini strategi agar gas kita tidak impor, kita penuhi dalam negeri, dan dorong untuk hilirisasi. Selain itu juga kurangi impor crude dengan adanya penambahan kondensat,” sambungnya.
Dalam konteks konsumsi nasional, Bahlil menyebutkan konsumsi Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sementara lifting pada 2025 berada di angka 605 ribu bph.
Untuk 2026, lifting diharapkan meningkat menjadi 610 ribu bph. Adapun target pada 2030, produksi nasional ditetapkan berada di kisaran 900 ribu hingga 1 juta bph.
Detail Teknis
Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter pada kedalaman laut sekitar 2.000 meter.
Hasil pengeboran menunjukkan adanya lapisan gas tebal dengan kualitas reservoir yang baik.
Saat ini, perusahaan tengah menyiapkan uji alir (drill stem test/DST) untuk memastikan tingkat produktivitas sumur tersebut.
Blok Ganal dioperasikan Eni dengan kepemilikan 82 persen, sementara 18 persen dimiliki Sinopec. Aset ini nantinya akan dimasukkan ke dalam perusahaan patungan antara Eni dan Petronas.
Eni telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan saat ini memproduksi sekitar 90 ribu barel setara minyak per hari dari lapangan Jangkrik dan Merakes di lepas pantai Kalimantan Timur.
Secara pengembangan, temuan Geliga berpotensi terintegrasi dengan proyek Gendalo dan Gandang (South Hub) serta Geng North dan Gehem (North Hub).
Pada proyek North Hub, Eni akan memanfaatkan fasilitas produksi terapung (FPSO) berkapasitas 1 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari yang terhubung dengan kilang LNG Bontang.
Jika digabung dengan lapangan Gula, kedua temuan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan tambahan produksi hingga 1 miliar kaki kubik gas per hari dan sekitar 80.000 barel kondensat per hari.
Penemuan Geliga-1 melanjutkan rangkaian eksplorasi Eni di Cekungan Kutai setelah sebelumnya menemukan ladang gas Geng North pada 2023 dan sumur Konta-1 pada Desember 2025.
Lokasi Geliga juga disebut berdekatan dengan temuan Geng North yang berjarak sekitar 20 kilometer di selatan, memperkuat potensi pengembangan kawasan Kalimantan Timur sebagai pusat produksi gas raksasa nasional.
Dengan total potensi 7 Tcf dari Blok Geliga dan Gula di Kalimantan Timur, pemerintah menargetkan produksi mulai 2028 untuk mendukung ketahanan energi dan optimalisasi pemanfaatan gas raksasa tersebut bagi kebutuhan dalam negeri.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemanfaatan cadangan ini diarahkan untuk memperkuat pasokan domestik dan mendukung program hilirisasi energi nasional.
