Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari. Gambar: United Nations
Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang mulai berlaku pada Kamis (16/4) pukul 17:00 EST atau tengah malam waktu Beirut, menyusul pembicaraan langsung pada Selasa (14/4) yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Kesepahaman ini dicapai antara pemerintah Republik Lebanon dan Negara Israel dengan tujuan menciptakan kondisi bagi proses perdamaian, pengakuan atas kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, serta membangun keamanan di sepanjang perbatasan bersama.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari dinamika politik internasional dan konflik internasional yang melibatkan Israel dan Lebanon dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis usai pembicaraan, disebutkan bahwa “Lebanon dan Israel telah mencapai kesepahaman di mana kedua negara akan bekerja untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, dan membangun keamanan sejati di sepanjang perbatasan bersama mereka, sambil tetap menjaga hak inheren Israel untuk membela diri.”
Pernyataan ini menegaskan komitmen kedua pihak terhadap gencatan senjata sebagai langkah awal menuju perundingan lanjutan.
Gencatan senjata 10 hari tersebut diberlakukan sebagai isyarat dari Pemerintah Israel untuk memungkinkan negosiasi menuju perjanjian keamanan dan perdamaian permanen antara Israel dan Lebanon.
Sekretaris Jenderal PBB menyambut kesepakatan tersebut dan mendesak semua pihak untuk menghormatinya, serta menyatakan bahwa langkah itu dapat membuka ruang bagi negosiasi lebih lanjut.
Ia juga menanggapi pengumuman Iran bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka untuk kapal komersial selama sisa masa gencatan senjata, dan menyebutnya sebagai langkah ke arah yang benar.
Rincian Kesepahaman dan Ketentuan Gencatan Senjata
Kesepahaman yang dicapai pada Selasa (14/4) tersebut memuat sejumlah poin terkait penghentian permusuhan dan mekanisme lanjutan dalam kerangka politik internasional.
Israel dan Lebanon menegaskan bahwa kedua negara tidak sedang berperang dan berkomitmen untuk terlibat dalam negosiasi langsung yang difasilitasi oleh Amerika Serikat.
Tujuannya adalah mencapai kesepakatan yang menjamin keamanan dan stabilitas antara kedua negara.
Penghentian permusuhan mulai berlaku pada Kamis (16/4) pukul 17:00 EST untuk jangka waktu awal 10 hari.
Periode ini dapat diperpanjang atas kesepakatan bersama antara Lebanon dan Israel jika terdapat kemajuan dalam negosiasi dan jika Lebanon menunjukkan kemampuannya dalam menegaskan kedaulatan.
Dalam kerangka gencatan senjata tersebut, Israel tetap mempertahankan haknya untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk membela diri terhadap serangan yang direncanakan, akan segera terjadi, atau sedang berlangsung.
Namun, Israel tidak akan melakukan operasi militer ofensif terhadap sasaran Lebanon, termasuk sasaran sipil, militer, dan sasaran negara lainnya di wilayah Lebanon melalui darat, udara, dan laut.
Mulai Kamis (16/4) pukul 17:00 EST dan seterusnya, dengan dukungan internasional, Pemerintah Lebanon akan mengambil langkah untuk mencegah Hizbullah dan semua kelompok bersenjata non-negara lainnya di wilayah Lebanon melakukan serangan, operasi, atau aktivitas permusuhan terhadap target Israel.
Kedua negara mengakui adanya tantangan yang dihadapi Lebanon dari kelompok-kelompok bersenjata non-negara yang dinilai memengaruhi kedaulatan Lebanon dan stabilitas regional.
Dalam kesepahaman tersebut juga ditegaskan bahwa satu-satunya pasukan yang berwenang membawa senjata di Lebanon adalah pasukan keamanan Lebanon, yang meliputi:
- Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF)
- Pasukan Keamanan Internal
- Direktorat Jenderal Keamanan
- Direktorat Jenderal Keamanan Negara
- Bea Cukai Lebanon
- Kepolisian Kota
Semua pihak mengakui pasukan keamanan Lebanon sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kedaulatan dan pertahanan nasional Lebanon, serta menegaskan bahwa tidak ada negara atau kelompok lain yang berhak mengklaim sebagai penjamin kedaulatan Lebanon.
Israel dan Lebanon juga meminta Amerika Serikat untuk terus memfasilitasi negosiasi langsung guna menyelesaikan isu yang tersisa, termasuk penetapan batas darat internasional.
Amerika Serikat menyatakan memahami bahwa komitmen tersebut diterima bersamaan dengan pengumuman resmi dan dirancang untuk mendukung proses negosiasi menuju perdamaian dan keamanan.
Selain itu, Amerika Serikat menyatakan niatnya untuk memimpin upaya internasional dalam mendukung Lebanon sebagai bagian dari langkah yang berkaitan dengan stabilitas kawasan.
Dengan berlakunya gencatan senjata selama 10 hari ini, Israel dan Lebanon memasuki fase lanjutan dalam konflik internasional yang memengaruhi stabilitas kawasan.
Perkembangan ini menjadi bagian dari dinamika politik internasional yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui jalur diplomasi.
