Meski Dibuka, Iran Batasi Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz. Gambar: Dok. PBS
Iran menyatakan pelayaran di Selat Hormuz masih dibatasi meski sebelumnya diumumkan telah dibuka, dengan kewajiban koordinasi bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), penerapan tarif tol, serta pembatasan jalur aman, di tengah gencatan senjata 10 hari dengan Lebanon dan meningkatnya perhatian Amerika Serikat (AS) serta komunitas internasional terhadap stabilitas jalur energi global.
Pernyataan ini disampaikan pejabat Iran pada Jumat (17/4) di Teheran dan dikutip sejumlah media internasional, setelah muncul perbedaan penegasan antara pernyataan pembukaan dan ketentuan teknis di lapangan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyebut bahwa Selat Hormuz telah dibuka untuk kapal komersial.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa seluruh kapal komersial, termasuk kapal Amerika Serikat, dapat melintas dengan syarat berkoordinasi dengan IRGC dan mengikuti jalur yang dianggap aman oleh Iran, sementara kapal militer tetap dilarang.
Di media sosial, Araghchi menyatakan selat tersebut “dinyatakan sepenuhnya terbuka”.
Namun, anggota parlemen konservatif sekaligus anggota tim perunding dengan AS, Mahmoud Nabavian, menegaskan pembukaan itu bersifat terbatas.
“Hanya beberapa kapal komersial yang akan diizinkan melewati Selat Hormuz dengan syarat membayar tol,” ujar Mahmoud Nabavian melalui unggahannya di X. Ali Khezrian, anggota Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, turut mengonfirmasi bahwa penarikan tarif tetap diberlakukan.
Ketentuan ini memperjelas bahwa meski Selat Hormuz dibuka, Iran tetap mengontrol lalu lintas sebagai bagian dari dinamika konflik internasional yang melibatkan Lebanon dan Amerika Serikat.
Ketentuan Teknis dan Respons Internasional
Detail pembatasan menunjukkan setiap kapal wajib berkoordinasi dengan IRGC sebelum melintas di Selat Hormuz.
IRGC juga memegang kewenangan untuk memblokir kapal dari negara yang dianggap musuh oleh Iran.
Pelayaran dibatasi hanya pada jalur yang dinilai aman dan rute baru melalui perairan teritorial di dekat Pulau Larak disebut akan digunakan.
“Saat ini kami sedang memverifikasi pengumuman terbaru terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, dalam hal kepatuhannya terhadap kebebasan navigasi untuk semua kapal dagang dan jalur pelayaran yang aman,” jelas Asosiasi Arsenio Dominguez, sekretaris jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Pemilik Kapal Norwegia menyatakan sejumlah hal perlu diklarifikasi, termasuk risiko ranjau dan implementasi teknis di lapangan.
“Status ancaman ranjau masih belum jelas dan BIMCO meyakini perusahaan pelayaran harus mempertimbangkan untuk menghindari area tersebut,” ujar Jakob Larsen.
Peringatan serupa juga disebutkan dalam peringatan Angkatan Laut AS pada Jumat (17/4).
Grup pelayaran Jerman Hapag-Lloyd menyatakan sedang berupaya agar kapal dapat melintas “secepat mungkin” dan menambahkan, “Komite krisis kami sedang bersidang dan akan berupaya menyelesaikan semua hal yang belum terselesaikan dengan pihak-pihak terkait dalam waktu 24-36 jam ke depan.”
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah setuju untuk tidak pernah lagi menutup selat tersebut.
Dalam unggahan media sosial, ia menyebutnya sebagai “Hari yang hebat dan gemilang bagi dunia!” Trump juga menulis, “Blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya dan efektif hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100%,” serta menambahkan bahwa “proses ini harus berjalan sangat cepat”.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan jika blokade AS berlanjut, “Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka”.
Ia menambahkan bahwa apakah selat itu terbuka atau tertutup dan peraturannya “akan ditentukan oleh situasi di lapangan, bukan oleh media sosial”.
Dampak Konflik dan Data Korban
Pembukaan terbatas Selat Hormuz terjadi bersamaan dengan dimulainya hari penuh pertama gencatan senjata 10 hari antara pihak yang terlibat dalam konflik di Lebanon.
Perang meluas ke Lebanon setelah Hizbullah melancarkan serangan rudal pada 2 Maret terhadap Israel sebagai bentuk solidaritas dengan Teheran, yang memicu respons militer Israel termasuk invasi darat ke Lebanon selatan.
Data korban yang dilaporkan mencatat sedikitnya 3.000 orang tewas di Iran, lebih dari 2.100 orang di Lebanon, 23 orang di Israel, lebih dari selusin orang di negara-negara Teluk Arab, serta 13 anggota militer AS.
Gangguan di Selat Hormuz sebelumnya menyebabkan lonjakan harga minyak global, memicu inflasi, dan meningkatkan kekhawatiran terhadap krisis ekonomi lebih luas dalam konteks konflik internasional.
Di Paris, perwakilan sekitar 40 negara menghadiri konferensi yang dipimpin bersama Prancis dan Inggris untuk membahas rencana internasional guna mengamankan jalur tersebut, yang sebelum konflik mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sejumlah pemimpin, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, menyampaikan pernyataan terkait pentingnya pembukaan kembali jalur tersebut secara berkelanjutan.
Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar energi, perusahaan pelayaran, serta pemerintah di kawasan Teluk, Eropa, dan Asia.
Meski Iran menyatakan jalur telah dibuka, pembatasan teknis, kewajiban koordinasi dengan IRGC, serta dinamika antara Iran dan Amerika Serikat dalam konflik internasional membuat kepastian operasional pelayaran masih bergantung pada perkembangan situasi di lapangan.
