Negosiasi AS-Iran di Islamabad Berjalan Alot, Ini Poin Krusial yang jadi Hambatan. Gambar: Dok. Asharq Al-Awsat
Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah perundingan tingkat tinggi yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu hingga Minggu (12/04).
Negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan ini melibatkan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan fokus pada penghentian konflik internasional yang melibatkan Israel, program nuklir Iran, serta stabilitas kawasan Timur Tengah.
Kebuntuan terjadi karena perbedaan mendasar terkait isu nuklir, Selat Hormuz, dan serangan Israel di Lebanon.
Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa Iran menolak persyaratan yang diajukan oleh Amerika Serikat.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” kata Vance, dikutip dari Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa Washington membutuhkan “komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir.”
Di pihak lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa tidak ada ekspektasi tercapainya kesepakatan dalam satu pertemuan.
“Tentu saja, sejak awal, kita seharusnya tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan dalam satu sesi saja. Tidak ada yang mengharapkan hal seperti itu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pembicaraan berlangsung dalam suasana ketidakpercayaan dan masih terdapat perbedaan signifikan pada beberapa isu utama.
Poin Krusial yang Menghambat Kesepakatan
Isu paling dominan dalam politik internasional yang menghambat kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran adalah program nuklir Teheran.
Amerika Serikat menuntut penghentian total pengayaan uranium serta pembongkaran fasilitas senjata, sementara Iran bersikeras mempertahankan hak pengembangan nuklir untuk tujuan damai dan pencabutan sanksi ekonomi.
Perbedaan ini mencerminkan kesenjangan kepentingan strategis yang sulit dijembatani dalam waktu singkat.
Selain itu, Selat Hormuz menjadi titik krusial lainnya. Iran menuntut pengakuan atas kontrol strategisnya di jalur energi global tersebut serta kompensasi perang dan pencairan aset yang dibekukan.
Sebaliknya, Amerika Serikat mendesak jaminan kebebasan navigasi dan bahkan mengusulkan pengelolaan bersama tarif pelayaran.
Ketegangan di selat ini berdampak langsung pada stabilitas energi global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi wilayah tersebut.
Faktor lain yang memperumit negosiasi adalah keterlibatan Israel dalam konflik internasional di kawasan.
Serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon terus berlanjut meskipun gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah disepakati sebelumnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militernya belum berakhir dengan menyatakan, “Israel di bawah kepemimpinan saya akan terus melawan rezim teror Iran dan proksinya.”
Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran semangat gencatan senjata dan berpotensi menggagalkan proses diplomasi.
Peran Pakistan sebagai Mediator
Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator dalam perundingan ini.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyampaikan apresiasi atas keterlibatan kedua negara dan menyerukan kelanjutan gencatan senjata.
“Sangat penting bagi semua pihak untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata,” ujarnya, seraya menegaskan kesiapan Pakistan untuk terus memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran.
Perundingan di Islamabad merupakan kontak tingkat tertinggi antara kedua negara sejak Revolusi Islam 1979.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, sementara delegasi Iran dipimpin oleh Mohammad Bagher Ghalibaf didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan pejabat lainnya.
Meskipun berlangsung intensif, kedua pihak hanya mencapai kesepahaman terbatas dan gagal menyelesaikan perbedaan pada dua hingga tiga isu utama.
Dampak Konflik terhadap Stabilitas Kawasan
Konflik internasional antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel telah menimbulkan dampak luas di kawasan Timur Tengah.
Perang yang dimulai pada 28 Februari menyebabkan lebih dari 2.000 hingga 3.000 korban jiwa serta kerusakan signifikan pada infrastruktur militer dan sipil.
Iran merespons serangan dengan meluncurkan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat, sekaligus membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Ketegangan ini memicu krisis energi global dan meningkatkan risiko eskalasi regional.
Serangan Israel di Lebanon selatan juga dilaporkan menewaskan sejumlah warga sipil dan memperburuk situasi keamanan.
Di tengah kondisi tersebut, gencatan senjata sementara selama dua pekan memberikan ruang bagi diplomasi, namun belum mampu menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Meskipun negosiasi di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, kedua pihak menyatakan bahwa jalur komunikasi tetap terbuka.
Iran menyatakan keyakinannya bahwa kontak diplomatik akan terus berlanjut, sementara Amerika Serikat menegaskan bahwa proposal yang diajukan tetap menjadi dasar pembahasan di masa mendatang.
Pakistan pun menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi dialog demi mencapai stabilitas dan perdamaian di kawasan.
