RI Pastikan Tidak Ada Penarikan TNI dari Misi UNIFIL. Gambar: Instagram/@sekretariat.kabinet
Pemerintah Indonesia memastikan tidak ada penarikan pasukan dari misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), meskipun tiga prajurit gugur dalam insiden serangan di Lebanon pada akhir Maret 2026. Penegasan ini disampaikan Seskab Teddy Indra Wijaya di Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (10/4), sebagai bagian dari kebijakan pemerintah yang tetap berkomitmen menjaga peran aktif Indonesia dalam misi perdamaian dunia. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan evaluasi menyeluruh terhadap situasi keamanan di wilayah konflik.
“Tidak ada untuk ke situ (menarik pasukan). Evaluasi tetap berjalan, evaluasi ke dalam dan keluar,” kata Seskab Teddy di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (10/4) malam.
Seskab Teddy menegaskan bahwa komitmen Indonesia dalam mengirim prajurit ke misi UNIFIL di Lebanon merupakan amanat konstitusi, sekaligus bagian dari kebijakan pemerintah dalam menjaga ketertiban dunia. Ia menyatakan sikap tersebut juga ditegaskan oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Menteri Luar Negeri Sugiono. “Saya rasa Bapak Panglima TNI kemudian Menteri Luar Negeri sangat tegas mengenai semua prajurit kita yang berada di luar negeri dan dalam negeri,” ujarnya.
Komitmen Konstitusional dan Evaluasi Berkelanjutan
Pemerintah menegaskan bahwa pengiriman pasukan ke misi perdamaian internasional selaras dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya dalam upaya ikut melaksanakan ketertiban dunia. Evaluasi terhadap kondisi keamanan dan operasional pasukan tetap dilakukan secara berkala, baik secara internal maupun melalui koordinasi dengan pihak internasional. “Saya rasa itu sudah sangat tegas disampaikan bahwa sesuai undang-undang pembukaan alinea empat: menertibkan ketertiban dunia. Jadi, kita mengirim pasukan di sana untuk menjaga perdamaian dan kita tegas terhadap evaluasi yang ada,” kata Teddy.
Sebelumnya, muncul dorongan agar pemerintah meninjau kembali keterlibatan dalam UNIFIL setelah insiden yang menewaskan tiga prajurit Indonesia akibat serangan artileri di wilayah Lebanon selatan pada (29/3) dan (30/3). Ketiga prajurit tersebut adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Selain korban jiwa, beberapa prajurit lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam insiden terpisah yang terjadi dalam rangkaian konflik di wilayah tersebut.
Kementerian Luar Negeri telah mengambil langkah diplomatik dengan meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa dan otoritas Lebanon melakukan investigasi menyeluruh dan transparan. “Menlu Sugiono telah melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Lebanon dan Sekjen PBB pada (30/3) untuk memastikan proses investigasi segera dilakukan secara transparan dan menyeluruh serta perlindungan penuh bagi keamanan dan keselamatan personel UNIFIL,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Keamanan dan Perdamaian Internasional Kemlu, Veronica Vicka Ancilla Rompis, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4).
Sebagai bentuk penghormatan, UNIFIL menggelar upacara militer pada (2/4) waktu setempat. Jenazah ketiga prajurit kemudian dipulangkan ke Indonesia dan disemayamkan di VIP Room Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Sabtu (4/4) malam.
Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan prajurit menjadi prioritas utama dalam setiap penugasan luar negeri. Meski demikian, Indonesia tetap mempertahankan partisipasinya dalam misi perdamaian dunia sebagai bagian dari tanggung jawab internasional dan implementasi kebijakan pemerintah yang berlandaskan konstitusi. Evaluasi terus dilakukan untuk memastikan keamanan personel serta efektivitas pelaksanaan tugas di wilayah misi.
