Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Wafat dalam Konflik di Timur Tengah. Gambar: Dok. ABC News
Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi (28/2) di Teheran.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ali Khamenei yang terjadi di kantornya, setelah sebelumnya muncul pernyataan dari Presiden AS Donald Trump dan pejabat Israel mengenai kabar tersebut.
Khamenei, yang berusia 86 tahun, telah memimpin Iran sejak 1989.
Presiden Trump menulis dalam unggahan di platform Truth Social bahwa Khamenei tewas akibat “pemboman besar-besaran dan tepat sasaran” yang merupakan hasil koordinasi dengan Israel.
“Dia tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih kami dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada satu pun yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah tewas bersamanya, lakukan,” tulis Trump, dikutip pada Senin (2/3).
“Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” sambungnya.
Serangan udara tersebut juga menyebabkan kematian sejumlah tokoh penting lainnya, termasuk kepala Garda Revolusi Iran dan penasihat utama keamanan Khamenei, Ali Shamkhani.
Sumber dari kantor berita Fars menyebut beberapa anggota keluarga Khamenei turut tewas, termasuk putri, menantu laki-laki, menantu perempuan, dan cucu.
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan tujuh hari libur nasional.
Serangan AS-Israel Sasar Target Strategis di Iran
Operasi militer gabungan ini telah direncanakan selama berbulan-bulan dan diluncurkan selama bulan Ramadan serta awal pekan kerja di Iran.
Serangan udara dimulai pada pagi hari dan menargetkan lebih dari 500 lokasi di 24 provinsi di seluruh Iran.
Citra satelit menunjukkan kerusakan berat pada kompleks kediaman Khamenei di pusat Teheran.
Target serangan termasuk:
- Fasilitas komando Garda Revolusi
- Sistem pertahanan udara
- Lokasi peluncuran rudal dan drone
- Lapangan terbang militer
- Simbol-simbol pemerintahan dan intelijen Iran
Kepala Staf Militer Israel Letjen Eyal Zamir menyatakan bahwa 200 jet tempur dikerahkan dalam operasi ini.
Netanyahu mengatakan bahwa Israel berhasil menyingkirkan para komandan di Garda Revolusi dan pejabat senior dalam program nuklir.
Dalam pidatonya, Trump mengindikasikan bahwa serangan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
“Pemboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus berlanjut tanpa gangguan sepanjang minggu ini, atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kita,” katanya.
Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
Menurut Bulan Sabit Merah Iran, setidaknya 201 orang tewas dan 747 orang lainnya luka-luka akibat rentetan serangan tersebut.
Jumlah ini mencakup warga sipil dan militer, meskipun tidak dirinci secara spesifik.
Sejumlah fasilitas sipil ikut terdampak, termasuk:
- Sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan, yang menewaskan 108 orang
- Sekolah lain di wilayah timur Teheran, menewaskan dua orang
- Sebuah gedung olahraga, dua kawasan permukiman, dan sebuah bangunan di dekat sekolah di Lamerd, Iran barat daya, menewaskan sedikitnya 15 orang
Militer AS melaporkan tidak ada korban di pihak mereka, dengan kerusakan minimal di pangkalan militer AS.
Balasan Militer Iran
Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer AS di:
- Bahrain
- Kuwait
- Qatar
- Uni Emirat Arab
Militer Israel menyatakan bahwa puluhan rudal dari Iran berhasil dicegat, meskipun seorang wanita di daerah Tel Aviv dilaporkan tewas.
Iran menyebut gelombang ketiga dan keempat dari serangan balasan terhadap posisi AS dan Israel sedang berlangsung.
Di Dubai, puing-puing rudal Iran menewaskan satu orang.
Di Kuwait, serangan drone melukai beberapa pegawai bandara dan tiga tentara di pangkalan udara Ali Al-Salem. Yordania mengklaim telah menangani 49 rudal dan drone balistik.
Respons PBB
Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat menyusul serangan tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyayangkan hilangnya kesempatan diplomasi.
“Aksi militer membawa risiko memicu serangkaian peristiwa yang tidak dapat dikendalikan siapa pun di wilayah paling rawan di dunia,” ujarnya.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyebut serangan itu sebagai agresi tanpa provokasi dan direncanakan sebelumnya dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menegaskan bahwa Iran tidak mungkin memiliki senjata nuklir.
Duta Besar Rusia, Vassily Nebenzia, menuntut agar AS dan Israel segera menghentikan tindakan agresif mereka.
