Harga Minyak Dunia Anjlok 11% Usai Iran Buka Selat Hormuz. Gambar: Ilustrasi Canva
Harga minyak dunia anjlok sekitar 11 persen pada Jumat (17/4) setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh kapal komersial selama sisa periode gencatan senjata.
Pernyataan itu disampaikan menyusul kesepakatan gencatan senjata di Lebanon, di tengah perang yang memicu lonjakan premi risiko di pasar energi dan berdampak pada ekonomi global.
Penurunan harga minyak dunia terjadi di tengah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Iran telah sepakat untuk tidak pernah menutup selat tersebut lagi, meskipun blokade militer terhadap Iran masih diberlakukan.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun US$10,42 atau 10,48 persen menjadi US$88,97 per barel pada pukul 12.39 siang EDT, setelah sempat menyentuh level terendah sesi di US$86,09.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$11,48 atau 12,12 persen menjadi US$83,21 per barel setelah menyentuh US$80,56.
Secara terpisah, laporan lain menyebutkan harga minyak mentah AS anjlok 11,4 persen menjadi US$83,85 per barel, sedangkan minyak mentah Brent internasional turun 9 persen menjadi US$90,38 per barel.
Kedua kontrak tersebut diperdagangkan pada level terendah sejak 10 Maret dan mencatat salah satu penurunan satu hari terbesar sejak perang dimulai.
Penurunan ini turut menekan harga minyak secara keseluruhan di pasar global.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” tulis Abbas Araqchi dalam unggahan di X pada Jumat pagi (17/4).
Tak lama setelah pengumuman tersebut, Donald Trump menulis di Truth Social.
“Iran baru saja mengumumkan bahwa selat Iran telah sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui. Terima kasih!” tulisnya.
Namun dalam unggahan kedua, Trump menegaskan bahwa “blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya dan efektif hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100%.”
Dampak ke Pasar Energi dan Ekonomi Global
Penurunan harga minyak dunia terjadi seiring pasar mengurangi premi risiko yang terbentuk selama dua pekan terakhir akibat ketegangan di Timur Tengah.
“Dengan pasar yang kini dengan cepat mengurangi premi risiko ekstrem yang terbentuk selama dua minggu terakhir, harga minyak mentah kembali bergeser ke arah normalisasi aliran aktual daripada risiko gangguan,” ujar Analis Gelber & Associates.
Sejak awal perang, harga minyak mentah AS tercatat masih naik 25 persen dan meningkat lebih dari 45 persen sejak awal tahun, meskipun terjadi koreksi tajam pada (17/4).
Harga minyak tetap berada di level tinggi meski mengalami penurunan signifikan pada hari tersebut, dan pergerakan minyak dunia masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik di kawasan.
Penurunan harga minyak juga tercermin pada produk turunannya. Harga berjangka minyak pemanas yang menjadi indikator bahan bakar jet turun 10 persen, sedangkan harga berjangka gas RBOB grosir turun 5 persen.
Analis GasBuddy Patrick De Haan menyebut potensi dampak langsung terhadap harga ritel bahan bakar.
“Hal ini dapat mempercepat penurunan harga bahan bakar mulai akhir pekan ini, dengan rata-rata nasional kemungkinan turun di bawah US$4 per galon menjadi sekitar US$3,65–US$3,85,” tulis De Haan.
Pada Jumat sore, harga rata-rata bensin tercatat US$4,09 per galon menurut AAA dan telah turun beberapa sen setiap hari dalam sepekan terakhir.
Di pasar keuangan, indeks S&P 500 ditutup naik 1,2 persen pada Jumat dan mencatat kenaikan lebih dari 4,5 persen sepanjang pekan tersebut. Indeks Nasdaq Composite naik 1,5 persen pada hari yang sama dengan kenaikan mingguan 6,8 persen, sementara Dow Jones menguat 868 poin atau 1,8 persen.
Indeks Russell 2000 juga naik 2,1 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,24 persen, level terendah sejak 18 Maret.
Pasar saham Eropa turut menguat setelah pengumuman pembukaan Selat Hormuz. Indeks Stoxx 600 naik 1,4 persen, DAX Jerman melonjak 2,2 persen, saham di Prancis naik 2 persen, dan FTSE 100 Inggris menguat hampir 1 persen.
“Berdasarkan hukum internasional, transit melalui jalur air seperti Selat Hormuz harus tetap terbuka dan bebas. Skema pembayaran untuk pelayaran apa pun akan menciptakan preseden berbahaya bagi jalur maritim global,” jelas Diplomat tertinggi Uni Eropa Kaja Kallas.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pengamanan selat perlu dilakukan pihak netral dan independen, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menambahkan, “Selat itu harus segera dibuka kembali tanpa biaya tol dan tanpa batasan.”
Respons hati-hati juga datang dari perusahaan pelayaran.
“Sejak pecahnya konflik, kami telah mengikuti arahan dari mitra keamanan kami di kawasan ini, dan rekomendasi sejauh ini adalah untuk menghindari transit melalui Selat Hormuz. Keputusan apa pun untuk melintasi selat tersebut akan didasarkan pada penilaian risiko dan pemantauan ketat terhadap situasi keamanan,” jelas Maersk.
Hapag-Lloyd menyebut “masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab” dan menambahkan, “komite krisis sedang bersidang dan akan mencoba menyelesaikan semua hal yang belum terselesaikan” dalam 24 hingga 36 jam ke depan.
Di sisi diplomasi, Trump pada (16/4) mengatakan kepada wartawan di luar Gedung Putih, “Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi saya pikir kita sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.”
Seorang pejabat AS juga menyatakan kepada Reuters bahwa blokade militer terhadap Iran yang melibatkan lebih dari 10.000 personel masih berlaku.
Analis Ole Hvalbye dari SEB Research menyebut pasar Eropa akan tetap ketat untuk sementara waktu karena dibutuhkan sekitar 21 hari bagi kapal untuk berpindah dari Teluk ke Rotterdam, sementara analis Tamas Varga dari PVM Oil Associates mengatakan lalu lintas di Selat Hormuz dapat kembali terhenti jika kesepakatan mengenai ambisi nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS sulit tercapai.
Perkembangan di Selat Hormuz tersebut menjadi faktor utama yang memengaruhi harga minyak dunia dan pergerakan pasar keuangan internasional pada (17/4), di tengah dinamika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta dampaknya terhadap ekonomi global.
