Viral! Balita 1 Tahun Alami Hipotermia Saat Diajak Mendaki Gunung Ungaran. Gambar: Basarnas Semarang
Seorang balita perempuan berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia saat diajak orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu (11/4).
Peristiwa yang menjadi berita lokal dan ramai diperbincangkan di media sosial ini terjadi ketika keluarga tersebut mencapai Puncak Bondolan sekitar pukul 14.00 WIB.
Cuaca yang tiba-tiba memburuk disertai hujan deras menyebabkan suhu tubuh balita menurun drastis hingga menunjukkan gejala hipotermia, sehingga tim SAR gabungan segera melakukan evakuasi.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, membenarkan kejadian tersebut dan memastikan kondisi korban telah membaik.
“Posisi balita sudah turun dari Basecamp Perantunan, sudah dibawa pulang orang tuanya dalam kondisi selamat. Balita perempuan usia 1,5 tahun,” kata Bergas saat dikonfirmasi pada Senin (13/4).
Insiden peristiwa di daerah ini bermula ketika pasangan suami-istri asal Semarang melakukan pendakian tektok bersama anak mereka melalui jalur Perantunan.
Sejak awal, pengelola basecamp telah memberikan peringatan terkait risiko cuaca yang tidak bersahabat.
“Kami memperingatkan soal risiko dan lain sebagainya, karena cuaca memang lagi tidak bersahabat,” ujar Wido, pengelola Basecamp Perantunan, Senin (13/4).
Namun, orang tua korban tetap melanjutkan pendakian hingga mencapai area puncak.
Kronologi Kejadian
Setibanya di kawasan Puncak Bondolan, cuaca berubah drastis dengan hujan deras dan suhu dingin ekstrem.
Kondisi tersebut membuat balita terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan parah.
Tim SAR dari Basarnas yang sedang bersiaga dalam kegiatan Semarang Mountain Race segera menuju lokasi untuk memberikan pertolongan pertama.
Petugas melakukan penanganan awal dengan menghangatkan tubuh korban menggunakan selimut darurat serta menstabilkan kondisinya sebelum proses evakuasi.
“Suhu tubuhnya turun drastis, kondisi kritis. Tim Basarnas yang tengah siaga di event Semarang Mountain Race langsung bergerak cepat,” jelas Basarnas dalam keterangan resminya.
Setelah kondisi balita dinilai stabil, tim SAR mengevakuasi korban bersama kedua orang tuanya menuju Basecamp Perantunan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Wido menjelaskan bahwa penggunaan selimut darurat juga bersifat preventif untuk mengantisipasi kondisi yang lebih buruk.
“Kemudian bayi tersebut diajak anggota SAR dan ditenangkan. Karena memang saat itu cuaca dingin, lalu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, diberi blanket emergency,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa setelah tiba di basecamp, kondisi balita dalam keadaan baik.
“Setelah itu, langsung diajak turun dan kembali. Bayi dalam keadaan sehat dan baik-baik, semua sehat,” ungkap Wido.
Identitas Korban
Korban diketahui bernama Lan Lan, balita perempuan yang merupakan warga kawasan Candi Golf, Tembalang, Kota Semarang.
Insiden ini menjadi perhatian otoritas setempat mengingat risiko tinggi aktivitas pendakian bagi kelompok rentan seperti balita.
Bergas menegaskan bahwa pendakian gunung memerlukan persiapan fisik, mental, serta perlengkapan yang memadai.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengajak kelompok rentan dalam aktivitas tersebut.
“Pada prinsipnya kegiatan hiking ke gunung atau naik gunung adalah kegiatan yang memerlukan persiapan dari sisi fisik dan mental, selain tool peralatan pendukung lainnya. Artinya giat tersebut bukan untuk kelompok rentan seperti balita untuk diajak ke sana,” tegasnya.
Ia juga menambahkan pentingnya kesadaran bersama dalam mencegah kejadian serupa.
“Butuh kesadaran berbagai pihak, dari warga dan petugas, untuk mengingatkan atau melarang mengajak kelompok rentan untuk giat tersebut karena ada risiko berbahaya sampai dengan kematian bila dilanggar,” pungkas Bergas.
