China Uji Tanaman Bercahaya sebagai Alternatif Lampu Jalan Masa Depan. Gambar: Dok. ZME Science
China mengembangkan tumbuhan bercahaya sebagai alternatif lampu jalan melalui rekayasa genetika yang dipamerkan dalam forum teknologi Zhongguancun di Beijing.
Inovasi yang dipimpin oleh Dr. Li Renhan dari perusahaan bioteknologi Magicpen Bio ini memanfaatkan DNA organisme bercahaya seperti kunang-kunang dan jamur untuk menciptakan tanaman yang dapat memancarkan cahaya tanpa listrik.
Pengembangan ini bertujuan menyediakan solusi pencahayaan ramah lingkungan untuk taman kota, ruang publik, dan kawasan wisata malam, sekaligus mendukung efisiensi energi serta pengurangan emisi dalam lanskap teknologi dan inovasi global.
Dr. Li Renhan menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya.
“Saya lahir di pedesaan. Saat itu, keluarga saya tidak punya uang, jadi pada malam hari saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di tempat tidur gantung di kebun bambu kakek saya untuk menenangkan diri. Kunang-kunang sering kali mendarat di lengan saya,” katanya kepada Euronews, dikutip pada Sabtu (11/4).
Ia kemudian mengembangkan konsep pemindahan gen bioluminesensi ke dalam tanaman untuk menghasilkan cahaya alami.
Lebih lanjut, ia menegaskan potensi pemanfaatannya sebagai pengganti lampu jalan.
“Kami ingin mentransfer gen dari hewan, seperti kunang-kunang, ke dalam tanaman, sehingga mereka juga bisa bersinar di malam hari. Bayangkan sebuah lembah yang dipenuhi dengan tanaman bercahaya dalam kegelapan, itu akan seperti membawa dunia Avatar ke bumi,” ujarnya.
“Mereka hanya butuh air dan pupuk. Tanaman ini tidak membutuhkan listrik. Mereka hanya membutuhkan air dan pupuk. Mereka menghemat energi, mengurangi emisi, dan dapat menerangi kota di malam hari,” tambahnya.
Pengembangan Rekayasa Genetika pada Tumbuhan
Pengembangan tumbuhan bercahaya di China dilakukan melalui teknik pengeditan gen modern dengan menyisipkan gen penghasil cahaya ke dalam sel tanaman.
Proses ini memungkinkan terjadinya reaksi bioluminesensi, yaitu reaksi kimia alami yang menghasilkan cahaya ketika enzim bereaksi dengan molekul tertentu, sebagaimana terjadi pada kunang-kunang dan jamur bercahaya.
Melalui isolasi dan penyisipan urutan genetik tersebut ke dalam genom tanaman, para ilmuwan berhasil menciptakan organisme yang mampu menghasilkan cahaya tanpa memerlukan sumber energi eksternal seperti listrik atau lampu ultraviolet.
Hingga saat ini, lebih dari 20 jenis tanaman telah direkayasa, termasuk anggrek, bunga matahari, dan krisan, yang mampu bersinar dalam kondisi gelap dengan perawatan standar berupa air dan pupuk.
Potensi Penggunaan untuk Lampu Jalan dan Kota
Pemanfaatan tumbuhan bercahaya diarahkan sebagai solusi pencahayaan ramah lingkungan, termasuk sebagai alternatif lampu jalan di kawasan perkotaan.
Tanaman ini dapat digunakan di taman kota, ruang publik, dan destinasi wisata malam tanpa kebutuhan infrastruktur listrik tambahan.
Konsep ini dinilai mampu menekan konsumsi energi perkotaan sekaligus mengurangi emisi karbon.
Dalam konteks teknologi dan inovasi global, pendekatan ini membuka peluang pengembangan desain kota berbasis alam yang mengintegrasikan fungsi estetika dan utilitas.
Demonstrasi publik di forum teknologi Zhongguancun di Beijing menunjukkan tanaman dapat menyala secara alami tanpa bantuan energi tambahan, memperkuat potensi implementasinya di masa depan.
Skala Pengembangan dan Inovasi Serupa
Magicpen Bio mengembangkan inovasi ini dalam skala yang lebih luas dibandingkan proyek sebelumnya dengan merekayasa lebih dari 20 spesies tanaman.
Pendekatan ini berbeda dari inovasi lain yang umumnya hanya berfokus pada satu jenis tanaman untuk tujuan dekoratif.
Pada 2024, perusahaan bioteknologi lain memperkenalkan Firefly Petunia yang menggunakan gen jamur untuk menghasilkan cahaya.
Sementara itu, tim peneliti dari South China Agricultural University mengembangkan metode berbeda dengan menyuntikkan nanopartikel logam seperti strontium dan aluminium ke dalam daun tanaman sukulen.
Tanaman tersebut menyerap cahaya matahari pada siang hari dan memancarkannya kembali pada malam hari.
Dampak dan Pengembangan Lanjutan
Selain berfungsi sebagai pencahayaan, teknologi ini juga memiliki potensi dalam penelitian medis dan pertanian karena memungkinkan pemahaman lebih mendalam terhadap proses biologis pada tingkat sel.
Pengembangan ini menjadi bagian penting dari kemajuan teknologi dan inovasi global yang berfokus pada solusi berkelanjutan.
Namun, penerapan dalam skala besar masih memerlukan kajian lebih lanjut terkait dampak ekologis.
Cahaya dari tanaman berpotensi memengaruhi perilaku serangga nokturnal, mengganggu keseimbangan ekosistem malam, serta membuka kemungkinan terjadinya penyerbukan silang dengan tanaman liar.
Oleh karena itu, pengembangan taman bioluminesen berskala luas masih dalam tahap penelitian lanjutan sebelum dapat diterapkan secara luas sebagai pengganti lampu jalan di berbagai wilayah.
