Gunung Slamet Ditutup akibat Suhu Mencapai 464 Derajat Celcius
Pendakian Gunung Slamet di Jawa Tengah resmi ditutup mulai Minggu (5/4/2026) setelah suhu kawah tercatat meningkat drastis hingga mencapai 464 derajat Celsius.
Keputusan ini diambil oleh pengelola kawasan bersama otoritas terkait sebagai langkah mitigasi untuk mencegah potensi bahaya erupsi. Penutupan berlaku untuk seluruh jalur pendakian yang mengelilingi gunung tersebut.
Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, menyatakan bahwa lonjakan suhu kawah menjadi faktor utama penutupan jalur pendakian.
“Karena ada peningkatan suhu di kawah yang signifikan, jadi itu berpotensi untuk erupsi. Demi keamanan pendaki, kami memutuskan untuk penutupan pendakian,” kata dia saat dikutip dari DetikJateng, Kamis (9/4).
Penutupan dilakukan secara menyeluruh di semua jalur pendakian, termasuk jalur via Kaliwadas yang sebelumnya masih dibuka.
Kebijakan ini diberlakukan setelah radius aman diperluas hingga tiga kilometer dari kawah.
Status aktivitas Gunung Slamet saat ini masih berada pada Level II atau waspada, meskipun terjadi peningkatan signifikan pada suhu kawah.
Peningkatan Suhu Kawah dan Dampaknya
Berdasarkan data pemantauan, suhu kawah Gunung Slamet mengalami lonjakan dalam dua hari berturut-turut. Pada 3 April 2026, suhu tercatat mencapai 411,2 derajat Celsius dan meningkat menjadi 464 derajat Celsius pada 4 April 2026.
Kenaikan ini jauh di atas suhu normal yang biasanya berada di bawah 200 derajat Celsius.
Sugeng Utomo menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi pengelola.
“Itu cukup signifikan, karena biasanya suhu stagnan. Normalnya di bawah 200 derajat Celsius, tapi ini naik drastis sejak Jumat tanggal 3,” ungkapnya.
Hingga Minggu pagi, kepulan asap putih masih terlihat dari kawah. Pihak pengelola memutuskan untuk menutup jalur pendakian hingga suhu kembali stabil.
“Kita ambil amannya, kalau sudah di bawah 200 derajat Celsius nanti baru dibuka kembali. Sambil menunggu informasi resmi,” jelas Sugeng.
Selain itu, masyarakat dan calon pendaki diimbau untuk tidak memaksakan diri melakukan pendakian melalui jalur tidak resmi.
“Untuk calon pendaki, sebaiknya di-cancel dulu sambil menunggu perkembangan penurunan suhu. Jangan nekat mencari jalur tidak resmi,” pungkasnya.
Penutupan Jalur Baturraden Lestari
Penutupan juga diberlakukan pada jalur pendakian via Baturraden Lestari yang berada di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Wanakarya Lestari, Daryono, menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil setelah menerima informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Kami menerima informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terjadi peningkatan suhu kawah. Kami sebagai pengelola menutup sementara jalur pendakian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Daryono saat ditemui di Basecamp Baturraden Lestari, Senin (6/4).
Seluruh pendaki yang sebelumnya berada di jalur tersebut telah berhasil dievakuasi dengan selamat.
“Pendaki yang lewat jalur Baturaden Lestari tadi malam sudah turun dalam keadaan sehat semua. Ada 11 pendaki, yaitu 5 orang dari Mapal Unsoed Purwokerto dan 6 orang dari Jakarta,” ujarnya.
Analisis Aktivitas Vulkanik
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Lana Saria, menjelaskan bahwa peningkatan suhu kawah menunjukkan aktivitas termal yang signifikan.
Berdasarkan analisis citra termal, suhu maksimum meningkat dari sekitar 247,4 derajat Celsius pada 13 September 2024 menjadi 411,2 derajat Celsius pada 2 April 2026, dan kembali meningkat menjadi 463 derajat Celsius pada 3 April 2026.
Peningkatan ini disertai perubahan pola sebaran anomali panas yang sebelumnya terlokalisasi di pusat kawah, kini meluas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah.
Kondisi tersebut mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan serta peningkatan proses degassing magma.
“Potensi ancaman bahaya saat ini adalah erupsi yang menghasilkan abu dan hujan lumpur serta lontaran material pijar yang melanda di daerah sekitar puncak dalam radius 3 kilometer atau hembusan gas vulkanik konsentrasi tinggi yang sebarannya terbatas di sekitar kawah puncak,” kata Lana dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/4/2026).
