Mau Diet Berhasil? Hindari 6 Kesalahan Intermittent Fasting Ini. Gambar: Ilustrasi Canva
Diet dengan metode intermittent fasting kembali menjadi sorotan karena masih banyak pelaku yang melakukan kesalahan dalam penerapannya.
Intermittent fasting merupakan metode diet dengan cara berpuasa mengonsumsi kalori dalam jangka waktu tertentu, dengan pengaturan kapan waktu makan dan kapan harus menahannya.
Metode ini dinilai memiliki dampak positif bagi tubuh, di antaranya membantu menurunkan berat badan, menghilangkan lemak, dan memperbaiki sensitivitas insulin, namun hasilnya dapat menjadi kurang optimal apabila dilakukan tanpa pemahaman yang tepat.
Kesalahan dalam intermittent fasting kerap terjadi pada individu yang belum memahami kebutuhan tubuh, pola adaptasi, serta pentingnya menjaga gizi dan nutrisi selama menjalani fase puasa dan fase makan.
Tanpa pengaturan yang tepat, kondisi ini dapat memicu dehidrasi, rasa lemas, gangguan metabolisme, hingga peningkatan risiko penyakit tertentu.
Selain itu, pengaturan waktu tidur dan pola makan yang tidak konsisten juga dapat menghambat proses adaptasi tubuh terhadap pola diet tersebut.
Penerapan intermittent fasting bukan hanya soal menahan makan, tetapi juga memastikan tubuh tetap memperoleh asupan gizi dan nutrisi yang seimbang.
Kesalahan dalam memilih pola, jenis makanan, hingga kebiasaan makan di waktu yang tidak tepat menjadi faktor yang sering membuat diet tidak berjalan sesuai harapan.
Terburu-buru Mencapai Target
Salah satu kesalahan intermittent fasting yang umum terjadi ialah terburu-buru mencapai target. Tubuh memerlukan penyesuaian terhadap kebiasaan baru, termasuk perubahan jam makan.
Dalam penjelasan disebutkan, “Salah satu kesalahan intermittent fasting yang umum terjadi ialah terburu-buru mencapai target.”
Jika sebelumnya terbiasa sarapan pada pukul 7 pagi, perubahan tidak disarankan dilakukan secara drastis.
Adaptasi dapat dilakukan secara bertahap, misalnya memulai puasa selama 12 jam, kemudian menambah durasi setengah jam per hari hingga mencapai 16 jam, atau menerapkan pola sehari puasa dan sehari makan normal.
Memilih Pola Diet yang Tidak Sesuai
Kesalahan intermittent fasting berikutnya adalah memilih pola diet yang tidak sesuai dengan aktivitas dan kondisi tubuh.
Terdapat lebih dari satu jenis intermittent fasting, seperti pola dua kali dalam seminggu atau pola bergantian antara hari puasa dan hari makan normal. Durasi puasa pun bervariasi.
Bagi individu dengan aktivitas padat atau jadwal olahraga rutin, pola 16 jam puasa dan 8 jam waktu makan sering dipilih karena dianggap lebih mudah dijalankan.
Pemilihan pola yang tidak sesuai dapat membuat tubuh sulit beradaptasi dan meningkatkan risiko kegagalan diet.
Makan Terlalu Sedikit atau Terlalu Banyak
Kesalahan lain dalam intermittent fasting adalah makan terlalu sedikit saat fase normal. Dijelaskan bahwa, “Pola makan intermittent fasting bukan membatasi jumlah kalori yang Anda konsumsi, melainkan membatasi waktu makan.”
Namun, sebagian orang justru mengurangi asupan secara drastis karena merasa sedang diet.
Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan gizi dan nutrisi, memicu rasa lapar berlebihan, serta meningkatkan risiko hiperfagia saat fase makan tiba.
Sebaliknya, makan terlalu banyak saat fase normal juga menjadi kesalahan. Asupan berlebihan dapat membuat tubuh sulit beradaptasi ketika memasuki fase puasa.
Selain itu, jumlah kalori yang terlalu tinggi dapat memperlambat proses penurunan berat badan.
Salah Memilih Jenis Makanan
Pemilihan jenis makanan memegang peranan penting dalam keberhasilan intermittent fasting.
Konsumsi makanan tinggi gula, lemak trans, gorengan, serta karbohidrat sederhana seperti makanan dan minuman manis dapat menyebabkan rasa lapar lebih cepat muncul dan meningkatkan kadar gula darah.
Sebaliknya, makanan yang mengandung serat tinggi, buah, sayuran, serta sumber protein dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga fase puasa lebih mudah dijalani.
Pengaturan gizi dan nutrisi yang seimbang tetap diperlukan agar tubuh mampu menjalankan fase puasa tanpa gangguan.
Kurang Minum Air Putih
Kurang minum air putih juga termasuk kesalahan intermittent fasting yang jarang disadari. Saat menjalani puasa, tubuh membakar glikogen sebagai sumber energi.
Setelah cadangan tersebut habis, tubuh tidak memiliki simpanan karbohidrat dan air yang cukup.
Akibatnya, tubuh lebih mudah mengalami kelelahan, pusing, kurang fokus, dan penurunan semangat.
Untuk menjaga keseimbangan cairan, dianjurkan memenuhi kebutuhan air putih hingga dua liter per hari guna mencegah dehidrasi selama menjalani diet.
Waktu Tidur Tidak Teratur dan Makan Tengah Malam
Waktu tidur yang tidak teratur termasuk kesalahan intermittent fasting yang sering terjadi.
Kurang tidur atau tidur larut malam dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh sehingga efektivitas puasa menurun dan tubuh sulit beradaptasi dengan pola makan baru.
Selain itu, makan di jam tengah malam juga dapat mengganggu waktu istirahat alami tubuh. Tubuh dirancang untuk mendapatkan energi di siang hari dan beristirahat saat malam.
Kebiasaan makan larut malam disebut dapat meningkatkan risiko penyakit berat seperti diabetes dan stroke.
Tidak Memperhatikan Kondisi Kesehatan
Memaksakan menjalani intermittent fasting tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan termasuk kesalahan serius.
Individu dengan penyakit kronis, sedang hamil, atau menyusui berisiko mengalami gangguan jika tetap berpuasa tanpa konsultasi medis.
Apabila muncul gejala seperti lemas berlebihan, pusing berat, atau kondisi tubuh tidak fit, puasa sebaiknya dihentikan dan segera berkonsultasi dengan dokter.
Mengenali tanda tubuh tidak kuat berpuasa menjadi langkah penting agar diet tetap berjalan aman dan sesuai kebutuhan tubuh.
