Rapor Arsenal vs Man City Kesalahan Kepa Bikin Wembley jadi Mimpi Buruk. Gambar: Instagram/@mancity
Kiper Kepa Arrizabalaga menjadi sorotan utama setelah Arsenal kalah 0-2 dari Manchester City dalam final Carabao Cup 2025/2026 yang digelar di Wembley Stadium pada Minggu (22/3).
Kesalahan fatal Kepa dalam mengantisipasi umpan silang berujung pada gol pembuka City yang menjadi titik balik jalannya pertandingan.
Laga ini sekaligus mengubur ambisi Arsenal untuk meraih trofi pertama mereka dalam enam tahun terakhir.
Dua gol kemenangan City dicetak oleh Nico O’Reilly dalam tempo empat menit di babak kedua. Gol pertama terjadi usai Kepa gagal mengamankan bola hasil umpan lambung Rayan Cherki, yang kemudian disambar O’Reilly. Beberapa menit kemudian, pemain yang sama mencetak gol kedua lewat sundulan setelah menerima umpan silang Matheus Nunes.
Keputusan manajer Arsenal, Mikel Arteta, memainkan Kepa alih-alih kiper utama David Raya menjadi bahan perdebatan.
“Saya harus melakukan apa yang menurut saya benar dan adil,” ujar Arteta usai pertandingan.
“Kepa sudah bermain di semua pertandingan Carabao Cup, akan sangat tidak adil jika saya menggantinya di final,” lanjutnya.
Dominasi Arsenal Tak Berbuah Gol, City Lebih Efektif
Arsenal memulai pertandingan dengan agresif.
Dalam tujuh menit pertama, mereka menciptakan tiga peluang emas melalui dua tembakan Bukayo Saka dan satu dari Kai Havertz, namun semuanya berhasil digagalkan oleh James Trafford.
Kiper cadangan Manchester City ini tampil impresif sepanjang laga dan mengakhiri pertandingan dengan clean sheet.
Meski mendominasi babak pertama, Arsenal gagal mencetak gol. Setelah jeda, tekanan konsisten dari Manchester City membuat lini belakang Arsenal mulai goyah.
Gol pertama City lahir dari kegagalan Kepa membaca arah bola. Ia juga sempat menerima kartu kuning akibat menarik Jeremy Doku karena salah antisipasi bola panjang.
Susunan pemain Arsenal menunjukkan sejumlah perubahan. Ben White dimainkan menggantikan Jurrien Timber yang cedera. Di lini belakang, White, Saliba, Gabriel Magalhaes, dan Hincapie turun sebagai starter.
Di lini tengah, Zubimendi, Declan Rice, dan Havertz memimpin distribusi bola. Di depan, Saka, Trossard, dan Gyokeres menjadi andalan.
Penilaian Penampilan Pemain Arsenal
Penampilan Kepa mendapat nilai 2 dari 10 setelah blundernya menghasilkan gol pembuka dan kesalahan lainnya membuat situasi makin sulit bagi Arsenal. Di lini belakang:
- Ben White mendapat nilai 5, mampu meredam Doku di awal namun kesulitan di babak kedua.
- William Saliba (6), kuat dalam duel dengan Haaland, namun kehilangan pengawasan terhadap O’Reilly.
- Gabriel Magalhaes (6), tampil konsisten dalam duel fisik.
- Piero Hincapie (5), kesulitan hadapi pergerakan Semenyo dan gagal menutup dua umpan silang krusial.
Di lini tengah:
- Declan Rice (5), agresif dalam tekel dan bola mati, tetapi kurang kontribusi dalam permainan terbuka.
- Martin Zubimendi (5), kehilangan jejak O’Reilly pada gol pertama.
- Kai Havertz (4), minim kontribusi dan digantikan oleh Noni Madueke.
Lini serang Arsenal juga tidak maksimal:
- Bukayo Saka (5), dibatasi dengan tekel keras dan penjagaan ketat, pengaruhnya berkurang.
- Leandro Trossard (4), kesulitan hadapi Nunes dan digantikan oleh Martinelli.
- Viktor Gyokeres (4), sempat menekan Khusanov di babak pertama, namun redup setelahnya.
Upaya Bangkit Tak Membuahkan Hasil
Arsenal mencoba bangkit di fase akhir pertandingan. Gabriel Jesus nyaris memperkecil ketertinggalan lewat sundulan yang membentur mistar, hasil umpan silang Noni Madueke.
Riccardo Calafiori juga menciptakan dua peluang dari lini kedua, namun City mampu menjaga keunggulan hingga akhir laga.
Dalam statistik pertandingan, Arsenal mencatatkan:
- 10 tembakan (4 tepat sasaran)
- 38% penguasaan bola
- 258 operan dengan akurasi 77%
- 12 pelanggaran dan 3 kartu kuning
- 3 tendangan sudut
Sementara City unggul dalam penguasaan dan efektivitas serangan, dengan 62% penguasaan bola dan 2 gol dari 4 tembakan tepat sasaran.
Kekalahan di Wembley membuat Arsenal kembali gagal meraih trofi sejak terakhir kali menjuarai turnamen pada 2020.
Manchester City, di sisi lain, kembali memperlihatkan mental juara dan efektivitas tinggi dalam laga-laga besar seperti di final ini.
