Pola Tidur Kacau setelah Ramadan? Ini Cara Mengatasinya. Gambar: Ilustrasi Canva
Setelah berakhirnya bulan Ramadan, banyak orang mengalami perubahan pola tidur yang tidak langsung kembali normal.
Selama Ramadan, tubuh terbiasa bangun lebih awal untuk sahur dan tidur lebih larut, menyebabkan ritme tidur terganggu usai Lebaran.
Perubahan ini umum terjadi dan tubuh memerlukan waktu untuk kembali menyesuaikan dengan pola tidur harian seperti sebelum Ramadan.
Menurut dr. Trias Nugrahadi, Sp.KN, pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan, perubahan pola tidur pasca-Ramadan perlu diperhatikan agar tidak mengganggu sistem biologis tubuh.
“Perubahan pola tidur harus diperhatikan, karena jika tidak baik jelas akan mengganggu ritme sirkadian yang mengatur sistem biologis tubuh,” jelasnya, dikutip dari laman resmi Universitas Pasundan, Minggu (22/3).
Ritme sirkadian atau sistem pengatur waktu biologis dalam tubuh membutuhkan konsistensi untuk bekerja secara optimal.
Agar pola tidur kembali normal, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan seperti mengatur waktu tidur dan bangun, mengelola aktivitas harian, serta memperhatikan asupan makanan dan minuman di malam hari.
Cara Mengatur Ulang Pola Tidur setelah Ramadan
Salah satu langkah awal untuk memperbaiki pola tidur adalah membiasakan diri bangun pada jam yang sama setiap hari, misalnya pukul 05.00.
Jika tubuh masih terbiasa terbangun saat sahur, sebaiknya hindari aktivitas seperti menggunakan ponsel agar tidak semakin terjaga dan sulit tidur kembali.
Aktivitas di pagi dan siang hari juga perlu ditingkatkan. Setelah Lebaran, disarankan untuk melakukan kegiatan fisik maupun sosial seperti bersilaturahmi atau berkunjung ke rumah kerabat agar tubuh tetap aktif.
Aktivitas ini membantu tubuh merasa lebih lelah dan mempermudah proses tidur di malam hari.
Untuk mendukung adaptasi tubuh, dr. Trias menyarankan agar aktivitas utama dipusatkan sebelum pukul 12.00 siang.
Setelah itu, tidur siang singkat sekitar 20 menit bisa dimanfaatkan untuk mengembalikan energi.
“Grafik tubuh akan naik sampai pukul 12 siang. Di kedokteran, ada istilah cat nap, seperti tidur kucing, minimal 20 menit tapi saat bangun tubuh akan lebih segar,” ujarnya.
Konsumsi kafein juga perlu dibatasi, terutama pada minggu-minggu awal setelah Ramadan. Minuman berkafein seperti kopi bisa menyebabkan sulit tidur di malam hari.
Selain itu, makan dalam jumlah besar terlalu malam sebaiknya dihindari karena dapat membuat sistem pencernaan tetap aktif dan mengganggu waktu istirahat.
Dr. Trias juga menyarankan agar tidak makan setelah pukul 19.00.
Waktu tidur malam idealnya dimulai pukul 21.00 hingga 22.00. Bagi yang mengalami gangguan tidur seperti insomnia, dr. Trias menyarankan untuk menghindari tidur dalam kondisi pencahayaan yang terang.
“Usahakan pukul 9 atau 10 malam itu sudah tidur. Bagi yang sering insomnia, jangan dibiasakan tidur dalam keadaan lampu menyala atau terlalu banyak cahaya, karena akan mengganggu sistem hormonal,” jelasnya.
Olahraga secara rutin juga berperan dalam menjaga kualitas tidur. Aktivitas fisik membuat tubuh terasa lebih segar dan meningkatkan kualitas istirahat pada malam hari, yang secara keseluruhan berdampak positif terhadap kesehatan tubuh.
