Novel Gadis Kretek Resmi Diluncurkan di Korea Selatan. Gambar: Dok. Kemlu
Novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala resmi dirilis dalam versi terjemahan bahasa Korea pada Jumat (13/3), bertempat di ASEAN-Korea Centre (AKC), Seoul, Republik Korea.
Peluncuran ini merupakan bagian dari program Southeast Asian Literature Series yang diselenggarakan oleh HansaeYes24 Foundation, bertujuan memperkenalkan karya sastra Asia Tenggara kepada masyarakat Korea Selatan.
Duta Besar RI untuk Republik Korea, Cecep Herawan, menyampaikan bahwa penerbitan Gadis Kretek dalam bahasa Korea merupakan langkah strategis untuk memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.
“Penerbitan Gadis Kretek dalam bahasa Korea bukan sekadar penerjemahan sebuah novel, tetapi juga merupakan komitmen bersama untuk memperluas pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran novel tersebut, dikutip melalui laman Kemlu pada Minggu (22/3).
Gadis Kretek menjadi karya sastra Indonesia kedua yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh HansaeYes24 Foundation, setelah novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang dirilis pada tahun 2022.
Melalui penerbitan ini, pihak penyelenggara berharap dapat mempererat pemahaman lintas budaya melalui karya sastra.
Upaya Pengenalan Sastra Asia Tenggara Lewat Literatur
Chairperson HansaeYes24 Foundation, Baek Soomi, menyatakan pentingnya keterbukaan terhadap literatur dari berbagai budaya.
“Di saat K-Culture mendapat perhatian besar dari dunia, Korea juga perlu membuka diri terhadap berbagai karya sastra dari budaya lain,” ujar Baek.
Ia berharap penerbitan ini dapat memperluas apresiasi terhadap sastra Asia Tenggara di Korea serta memperkuat jembatan budaya antar kawasan.
“Pertukaran budaya melalui literatur dapat memperluas perspektif pembaca sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya,” ungkapnya.
Asal Inspirasi Cerita
Penulis Gadis Kretek, Ratih Kumala, hadir langsung dalam acara peluncuran di Seoul. Ia mengungkapkan bahwa ide cerita dalam novel tersebut terinspirasi dari sosok almarhum kakeknya.
“Inspirasi utamanya adalah dari almarhum kakek dari pihak ibu yang dulu ternyata seorang pengusaha kretek di kota kecil di Jawa Tengah. Dari situ, ia lalu menciptakan sendiri karakter serta alur cerita fiksi sejarah hingga akhirnya terbentuklah kisah Gadis Kretek,” jelas Ratih.
Promosi Budaya melalui Kegiatan Publik
Sebagai bagian dari rangkaian promosi, Ratih Kumala mengikuti dua agenda publik di Korea Selatan.
Pertama, Book Talk di Seoul Film Center pada Jumat (13/3), dan kedua, Book Concert bertajuk Beyond the Smoke di National Asian Culture Center, Kota Gwangju, pada Sabtu (14/3).
Acara ini ditujukan untuk memperkenalkan latar budaya dan konteks sosial Indonesia kepada masyarakat Korea melalui literasi.
Popularitas Novel Gadis Kretek
Novel Gadis Kretek pertama kali diterbitkan di Indonesia pada tahun 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama.
Kepopulerannya meningkat setelah diadaptasi menjadi serial Netflix dengan judul yang sama, dirilis pada tahun 2023.
Dengan versi terjemahan bahasa Korea yang kini dirilis, novel ini diharapkan dapat menjangkau pembaca lebih luas di kawasan Asia Timur.
