Ilustrasi orang yang terkena Post-Holiday Blues. Gambar: Ilustrasi Canva
Setelah liburan panjang Idulfitri (Lebaran), banyak orang mengalami kondisi psikologis sementara berupa penurunan semangat, perasaan sedih, dan kehilangan motivasi ketika kembali ke rutinitas harian.
Fenomena ini dikenal dengan istilah Post-Holiday Blues, dan umumnya terjadi karena transisi dari suasana santai saat liburan menuju aktivitas padat di dunia kerja atau pendidikan.
Post-Holiday Blues bisa dialami siapa saja, terutama individu yang harus langsung menghadapi tekanan pekerjaan tinggi atau tanggung jawab berat setelah liburan.
Kondisi ini umumnya berlangsung beberapa hari, namun bila tidak ditangani dapat memengaruhi konsentrasi dan produktivitas.
Fenomena ini kerap muncul setelah Lebaran karena adanya perubahan drastis dari suasana yang menyenangkan dan penuh kebersamaan ke rutinitas yang padat.
Post-Holiday Blues bukan gangguan mental serius, tetapi tetap berpotensi mengganggu kesejahteraan emosional seseorang.
Ciri-Ciri Post-Holiday Blues
Gejala umum Post-Holiday Blues mencakup perasaan sedih dan kosong saat liburan berakhir, kesulitan berkonsentrasi, serta kehilangan motivasi dalam menjalani rutinitas.
Selain itu, terjadi perubahan pola tidur seperti insomnia atau rasa kantuk berlebihan, tubuh terasa lelah tanpa aktivitas berat, serta munculnya rasa cemas, mudah marah, dan menurunnya kepercayaan diri.
Beberapa orang juga menjadi enggan bersosialisasi dan merasa frustrasi. Dalam kasus tertentu, kondisi ini disertai dengan sering melamun dan memburuknya suasana hati.
Menurut American Psychological Association, Post-Holiday Blues dapat dipicu oleh ekspektasi tinggi terhadap liburan, stres sosial selama masa liburan, serta gangguan pola tidur dan makan saat cuti.
Penyebab Post-Holiday Blues
Penyebab utama dari Post-Holiday Blues adalah perubahan mendadak dari suasana liburan yang santai ke rutinitas harian yang penuh tekanan.
Setelah liburan berakhir, rasa senang dan relaksasi turut menghilang, menyisakan perasaan hampa.
Kondisi ini juga bisa memicu kenangan buruk dari masa lalu yang memunculkan rasa sedih atau depresi.
Orang-orang yang merasa liburannya kurang memuaskan, menghadapi tekanan pekerjaan tinggi, atau harus segera menyelesaikan tanggung jawab penting setelah libur juga lebih rentan mengalami kondisi ini.
Selain itu, anak rantau yang kembali ke perantauan usai Lebaran juga termasuk kelompok yang rawan mengalami Post-Holiday Blues.
Cara Mencegah Post-Holiday Blues
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya post holiday blues setelah libur Lebaran antara lain:
- Memberikan waktu istirahat selama 1–2 hari sebelum kembali bekerja
- Merapikan rumah sebelum liburan agar pekerjaan rumah tidak menumpuk
- Membuat rencana liburan yang menyisipkan waktu istirahat
- Mendokumentasikan momen liburan dalam bentuk foto, video, atau jurnal
- Merencanakan liburan berikutnya sebagai motivasi menjalani aktivitas
Mengatasi Post-Holiday Blues
Jika sudah mengalami Post-Holiday Blues, ada beberapa cara yang bisa membantu meredakan kondisi ini.
Berkomunikasi dengan keluarga atau sahabat dapat memberikan dukungan emosional.
Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga ringan dan menonton film hiburan juga bisa membantu mengurangi stres.
Menjaga pola tidur dan mengonsumsi makanan sehat seperti cokelat, teh hijau, dan biji-bijian diketahui membantu menstabilkan suasana hati. Selain itu, menghabiskan waktu di luar ruangan dan menyapa tetangga bisa memberikan efek positif terhadap kondisi mental.
Apabila kondisi ini berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas harian, disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang sesuai.
