Daftar Titik Rawan Macet saat Arus Mudik Lebaran 2026. Gambar: Ilustrasi Canva
Arus mudik Idulfitri 2026 diperkirakan mengalami lonjakan signifikan, dengan estimasi 143,9 juta perjalanan selama periode mudik.
Pemerintah menyatakan bahwa 52 persen dari jumlah tersebut akan menggunakan kendaraan pribadi, yang berpotensi memicu kemacetan di berbagai jalur tol dan arteri utama yang menghubungkan wilayah Jabodetabek ke daerah lain di Pulau Jawa dan luar Jawa.
Kepolisian melalui Korlantas Polri telah memetakan sejumlah titik rawan macet menjelang mudik Lebaran.
“Titik-titik rawannya itu kalau di tol itu terdekat ada di jalur Cikampek di KM 47, 48, dan 49. Karena di situ ada pertemuan antara jalur MBZ turun dengan jalur utama,” jelas Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Faizal.
Selain itu, Faizal juga menyebut penyempitan jalur atau bottleneck di KM 110 Tol Jakarta–Cikampek sebagai lokasi yang harus diwaspadai.
Puncak arus mudik diprediksi terjadi dalam dua gelombang, yakni pada 14 hingga 15 Maret dan 18 hingga 19 Maret, sementara puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada 24 hingga 25 Maret serta 28 hingga 29 Maret 2026.
Titik Rawan Kemacetan
Untuk pemudik tujuan timur seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah, terdapat sejumlah simpul kemacetan yang telah diidentifikasi oleh kepolisian:
- Arah Bandung: Kemacetan diperkirakan terjadi di Gerbang Tol Kalihurip dan kawasan Pasteur.
- Jalur Selatan: Kepadatan lalu lintas diperkirakan di kawasan Nagreg dan Limbangan.
- Arah Jawa Tengah: Antrean kendaraan berpotensi terjadi di Gerbang Tol Kalikangkung dan kawasan Jatingaleh.
Sementara itu, untuk pemudik yang menuju arah barat ke Pelabuhan Merak, titik rawan kemacetan berada di sekitar KM 50 arah Merak.
“Karena apabila terjadi hujan, lokasi tersebut rawan tergenang banjir, sehingga menjadi salah satu titik yang perlu sangat diwaspadai,” ujar Faizal.
Antisipasi Kemacetan dan Rekayasa Lalu Lintas
Korlantas Polri telah menyiapkan sejumlah skenario rekayasa lalu lintas guna mengantisipasi kemacetan saat arus mudik dan balik.
Langkah-langkah yang disiapkan meliputi contraflow, one way lokal maupun nasional, serta delay system yang akan diterapkan secara dinamis menyesuaikan kondisi lalu lintas.
“Penggunaan cara bertindak ini itu menggunakan digital, menggunakan teknologi. Yang di mana teknologi ini kita pasang di area-area tertentu yaitu berupa traffic counting yang akan kita masukkan dalam data dengan nanti PC ratio,” jelas Faizal.
Rekayasa akan diberlakukan ketika jumlah kendaraan di satu titik melebihi ambang batas, dari 5.500 menjadi 6.500 kendaraan dalam satu jam.
Selama Operasi Ketupat berlangsung, kepolisian juga menetapkan larangan operasional untuk truk sumbu tiga ke atas.
Larangan ini dikecualikan bagi truk yang mengangkut barang kebutuhan pokok dan penting.
“Truk-truk sumbu tiga ke atas itu tidak boleh atau dilarang untuk jalan pada saat pelaksanaan Operasi Ketupat, kecuali untuk truk bermuatan sembako, BBM, dan bantuan bencana alam,” tegas Faizal.
Tips untuk Pemudik
Kepolisian mengimbau masyarakat untuk memilih waktu keberangkatan alternatif guna menghindari kepadatan di jalur mudik.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dua waktu favorit bagi pemudik adalah malam setelah salat tarawih dan pagi setelah salat subuh.
“Masyarakat kita biasanya akan mudik itu berangkatnya ada dua waktu ini paling banyak, yaitu malam setelah salat tarawih dan pagi sekali setelah salat subuh,” ungkap Faizal.
“Mungkin tips dari saya, silakan cari-cari waktu. Cari waktu yang bisa nanti kira-kira, rombongan atau kemungkinan kepadatan jam berangkat ini kapan, jadi mungkin masyarakat bisa berangkatnya setelah jam-jam seperti itu,” tambahnya.
