Bongkar Kasus Korupsi Bulu Tangkis, An Se-young Raih Penghargaan. Gambar: Yonex
An Se-young menerima Penghargaan Perdamaian Demokratik 4·19 atas perannya dalam mengungkap kasus korupsi dan berbagai penyimpangan di komunitas bulu tangkis Korea Selatan.
Atlet tunggal putri berusia 24 tahun yang menempati peringkat pertama dunia BWF itu menerima penghargaan tersebut dalam upacara ke-7 yang digelar pada Jumat (17/4) di Klub Pers Nasional, Pusat Pers Korea, Jung-gu, Seoul.
Penghargaan ini diberikan bukan semata karena prestasinya di lapangan, melainkan karena keberaniannya membongkar kasus korupsi dan praktik yang dinilai bermasalah di tubuh Asosiasi Badminton Korea setelah Olimpiade Paris 2024.
“Penghargaan ini bukan hanya prestasi saya, tetapi hasil dari upaya dan hati semua orang yang mendukung saya,” jelas An Se Yeong dalam sambutannya pada malam penghargaan.
“Orang-orang yang membantu saya dan percaya pada makna proses daripada hasil selama masa-masa sulit telah membangkitkan semangat saya. Saya akan bertanggung jawab dan bergerak maju ke arah yang lebih baik tanpa melupakan arti penting penghargaan ini,” sambungnya.
Komite Operasional Penghargaan Perdamaian Demokratik 4·19 menegaskan bahwa pemilihan An Se Yeong didasarkan pada kontribusinya dalam mengangkat isu hukum dan kriminal di lingkungan olahraga. Komite menjelaskan, “An tidak dipilih semata-mata karena mencapai puncak dunia. Yang secara khusus diperhatikan oleh komite adalah keberaniannya mengangkat isu-isu tentang sisi gelap tersembunyi dari komunitas bulu tangkis Korea segera setelah Olimpiade Paris.”
Komite juga menyatakan, “An menunjukkan keberanian dalam mengungkapkan kebenaran tanpa takut akan potensi kerugian dan kritik. Akibatnya, hal itu menjadi kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan yang salah dan korupsi yang telah berlangsung lama, tidak hanya di bulu tangkis, tetapi juga di komunitas olahraga Korea.”
Pengungkapan Kasus Korupsi di Komunitas Bulu Tangkis
Kasus korupsi dan dugaan pelanggaran di lingkungan bulu tangkis Korea Selatan mencuat setelah An Se Yeong mengungkap berbagai penyimpangan yang terjadi usai dirinya meraih medali emas tunggal putri pada Olimpiade Paris 2024.
Pengungkapan tersebut dilakukan tidak lama setelah ajang Olimpiade, ketika ia menyoroti adanya kelalaian dalam penanganan cedera oleh tim nasional serta dugaan paksaan dari asosiasi bulu tangkis untuk menggunakan produk sponsor tertentu.
Selain menyoroti aspek penanganan cedera, An Se Yeong juga membuka dugaan praktik yang dinilai tidak sesuai dalam tata kelola organisasi.
Dari pengungkapan tersebut, Kementerian Olahraga Korea Selatan kemudian membongkar kasus korupsi yang melibatkan Asosiasi Badminton Korea.
Perkembangan ini menempatkan isu hukum dan kriminal dalam sorotan publik, khususnya terkait tata kelola organisasi olahraga nasional.
Penghargaan Perdamaian Demokratik 4·19 sendiri didirikan pada 2020 oleh Asosiasi Alumni Fakultas Ilmu Liberal Universitas Nasional Seoul untuk memperingati ulang tahun ke-60 Revolusi 19 April.
Pada 19 April 1960, terjadi gerakan protes massal pro-demokrasi di Korea Selatan yang menggulingkan rezim otoriter Presiden Syngman Rhee.
Melalui penghargaan ini, panitia memberikan apresiasi kepada individu yang dinilai berkontribusi terhadap nilai demokrasi dan perdamaian.
Pada penyelenggaraan ke-7 tahun ini, penerima penghargaan memperoleh hadiah sebesar 50.000.000 won Korea serta sebuah piala.
Dalam dokumentasi acara yang berlangsung di Pusat Pers Korea, Jung-gu, Seoul, An Se Yeong juga terlihat saling menyapa dengan mantan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon.
Selain dikenal karena pengungkapan kasus korupsi dan dugaan kasus kriminal di lingkungan bulu tangkis, An Se Yeong juga tercatat sebagai juara Olimpiade 2024 dan peraih gelar Grand Slam di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Utama.
Ia juga baru saja meraih gelar Kejuaraan Asia 2026.
Namun, dalam pemberian penghargaan kali ini, komite menegaskan bahwa fokus utama penilaian bukan pada capaian prestasi olahraga, melainkan pada keberanian dalam mengungkap kasus korupsi dan mendorong perbaikan tata kelola di komunitas olahraga Korea Selatan.
Dengan penghargaan tersebut, nama An Se Yeong kembali menjadi perhatian publik, tidak hanya dalam konteks prestasi olahraga, tetapi juga dalam kaitannya dengan isu hukum dan kriminal yang mencuat di tubuh organisasi bulu tangkis nasional.
