Pria di Pati Hancurkan Rumah Sendiri, Diduga Emosi Istri Dilamar Pria Lain. Gambar: Kolase Tangkapan Layar X/@neVerAl0nely___
Sebuah peristiwa di daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi perhatian publik setelah seorang suami merobohkan rumah yang pernah ditempatinya bersama istri.
Kejadian tersebut terjadi di Desa Karangawen, Kecamatan Tambakromo, pada Kamis (9/4) siang.
Tindakan ini diduga dipicu emosi karena sang istri menerima lamaran pria lain saat proses perceraian keduanya belum sepenuhnya selesai.
Kepala Desa Karangawen, Sutiyono, membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa pembongkaran rumah dilakukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
“Itu sudah kesepakatan berdua, antara Mas AR dan Mbak RT itu sudah ditemukan dan ada titik temu agar rumah itu dirobohkan. Akhirnya dirobohkan,” jelas Sutiyono saat dikonfirmasi pada Kamis (9/4).
“Kita sudah berusaha mediasi berkali-kali, titik temu malah dirobohkan,” sambungnya.
Rumah tersebut dimiliki oleh pasangan berinisial AR (40) dan RT (38), warga Pati yang sebelumnya menjalani kehidupan rumah tangga dan memiliki satu anak yang kini duduk di bangku SMP.
Perceraian keduanya telah diputuskan oleh Pengadilan Agama Sampit, Kalimantan, karena pernikahan mereka berlangsung di wilayah tersebut.
Dalam proses mediasi, beredar informasi bahwa istri menerima lamaran pria lain, meskipun pemerintah desa belum dapat memastikan kabar tersebut.
“Sepertinya ada benarnya, cuman kami belum tahu pastinya isunya seperti ini. Ketika kami mediasi memang mereka sepakat minta dirobohkan,” ujar Sutiyono.
Kronologi Perobohan Rumah
Perobohan rumah dilakukan menggunakan alat berat ekskavator oleh pihak suami setelah tercapai kesepakatan bersama.
Rumah tersebut merupakan harta gono-gini yang dibangun selama pasangan ini merantau di Kalimantan.
Bangunan berdiri di atas tanah milik istri, dan semula direncanakan menjadi milik anak mereka sebelum akhirnya diputuskan untuk dirobohkan.
Kondisi Terkini dan Tempat Tinggal
Saat ini, kondisi rumah di Desa Karangawen hanya menyisakan puing-puing bangunan. Sebagian struktur masih tersambung dengan bangunan milik saudara perempuan RT yang berada di sebelahnya.
Pemerintah desa memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Setelah kejadian tersebut, AR diketahui tinggal bersama ibunya, sementara RT menetap di rumah saudaranya yang bersebelahan dengan lokasi rumah yang dirobohkan.
Pemerintah desa sebelumnya telah berupaya melakukan mediasi berulang kali untuk mencari solusi terbaik bagi kedua pihak, namun keputusan akhir tetap berada pada kesepakatan mereka untuk merobohkan rumah tersebut.
