Baru Dibuka, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Imbas Serangan Israel ke Lebanon. Gambar: Dok. WSJ
Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4) sebagai respons atas serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon, beberapa jam setelah gencatan senjata.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik internasional di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Lebanon.
Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah Israel melancarkan serangan paling mematikan di Lebanon sejak konflik dengan Hizbullah dimulai bulan lalu.
Sedikitnya 182 orang dilaporkan tewas pada Rabu, sementara Al Jazeera melaporkan korban tewas mencapai 254 orang dan 1.165 lainnya luka-luka.
Menanggapi situasi tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan akan memberikan balasan.
“Kami mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, yang melanggar perjanjian, dan kepada sekutu Zionisnya, algojonya. Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera berhenti, kami akan memenuhi kewajiban kami dan memberikan tanggapan,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (10/4).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan posisi Teheran terkait perkembangan di Lebanon.
“Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola sekarang berada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” kata Araghchi.
Di sisi lain, Gedung Putih menuntut agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dan menegaskan keinginan menjaga jalannya pembicaraan damai tetap sesuai rencana, sementara juru bicara Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kesepakatan tersebut “rapuh” dan terancam gagal.
Dampak Penutupan Selat Hormuz dan Eskalasi Serangan
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dilakukan setelah sebelumnya Teheran menyetujui pembukaan kembali jalur tersebut selama dua minggu menyusul pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump.
Pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Jumat.
Namun, serangan Israel ke Lebanon mengubah situasi dan memicu kembali ketegangan dalam konflik internasional yang melibatkan sejumlah negara di Timur Tengah.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam sistem perdagangan energi global. Jalur ini menjadi rute utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Setelah penutupan kembali dilakukan, 11 kapal tercatat melintasi selat pada Rabu, jumlah yang hampir sama dengan hari-hari sebelumnya.
Beberapa kapal besar dilaporkan membayar hingga 1 dolar AS per barel minyak.
Iran juga mengumumkan rute alternatif bagi kapal yang melintas dengan alasan risiko ranjau laut di jalur utama perairan tersebut, termasuk instruksi rute masuk dan keluar alternatif.
Di tengah situasi tersebut, Israel memperluas operasi militernya di Lebanon dengan menargetkan lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit, yang disebut sebagai gelombang serangan terbesar sejak 1 Maret. Serangan tersebut mencakup kawasan komersial dan permukiman di Beirut.
Kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan telah meluncurkan roket ke arah Israel sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata AS-Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungannya terhadap gencatan senjata yang dipimpin AS dengan sejumlah syarat.
“Israel mendukung keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu dengan syarat Iran segera membuka selat dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara di kawasan itu,” tulis Netanyahu di X.
“Amerika Serikat telah memberi tahu Israel bahwa mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan-tujuan ini, yang disepakati oleh AS, Israel, dan sekutu regional Israel, dalam negosiasi mendatang. Gencatan senjata dua minggu itu tidak termasuk Lebanon,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut rencana pembicaraan tidak masuk akal karena Washington dianggap melanggar tiga dari 10 syarat yang diajukan Teheran.
Pelanggaran tersebut mencakup serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon, dugaan drone AS yang memasuki wilayah udara Iran setelah gencatan senjata, serta penolakan terhadap kemampuan pengayaan uranium Iran dalam kesepakatan akhir.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menuduh Israel “secara konsisten berusaha menggagalkan” kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan sebagai mediator menyatakan bahwa kesepakatan berlaku “di mana saja, termasuk Lebanon dan wilayah lain,” meskipun Israel menolak interpretasi tersebut.
Gencatan senjata antara Iran dan AS yang memasuki hari kedua pada Kamis berada dalam tekanan setelah eskalasi di Lebanon dan penutupan kembali Selat Hormuz.
Meski Washington dan Teheran sama-sama menyatakan kemenangan atas kesepakatan tersebut, serangan drone dan misil masih terjadi di Iran dan negara-negara Teluk, memperlihatkan bahwa konflik internasional di kawasan Timur Tengah masih berlangsung di tengah proses diplomatik yang berjalan.
