Baru Dibuka 4 Hari, Warga Belgia Terpeleset di Jalur Pendakian Gunung Rinjani. Gambar: Dok. Kementerian Pariwisata
Baru empat hari setelah pendakian Gunung Rinjani resmi dibuka kembali pada Rabu (1/4), seorang WN Belgia berinisial JMVA (25) mengalami kecelakaan saat menuruni jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak Gunung Rinjani pada Sabtu (4/4) sekitar pukul 11.30 Wita.
Peristiwa itu terjadi di kawasan Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, ketika korban sedang melakukan perjalanan turun melalui jalur curam menuju Danau Segara Anak Gunung Rinjani.
Akibat terpeleset di jalur menurun tersebut, WN Belgia bernama Juliette Marcelle V Andre itu mengalami patah tulang pada kaki kiri dan pembengkakan pada pergelangan kaki sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Insiden terjadi saat korban mendaki Gunung Rinjani melalui pintu pendakian Sembalun, sebagaimana tercatat dalam aplikasi eRinjani.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Astekita Ardiarsto, menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan laporan pemandu dan porter yang mendampingi korban di nusa tenggara barat.
“Korban mengalami bengkak pada pergelangan kaki dan mengalami patah tulang, sehingga sulit untuk berjalan,” kata Astekita saat dikonfirmasi pada Sabtu (4/4) malam.
Kronologi Kejadian
Astekita menyampaikan kecelakaan terjadi di jalur turun dari Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak Gunung Rinjani sekitar pukul 11.30 Wita.
Ia juga menjelaskan kondisi korban setelah insiden tersebut.
“Korban mengalami cedera serius pada kaki sebelah kiri. Kaki korban bengkak,” ujar Astekita saat dikonfirmasi.
Berdasarkan data aplikasi eRinjani, Juliette diketahui mulai melakukan pendakian Gunung Rinjani pada Jumat (3/4) melalui jalur Sembalun.
Jalur tersebut merupakan salah satu pintu resmi pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, nusa tenggara barat.
Setelah menerima laporan kecelakaan, pihak Balai TNGR melakukan koordinasi dengan tim evakuasi Emergency Medical Hiker Community (EMHC).
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan tim evakuasi (EMHC). Selanjutnya tim EMHC segera menghubungi guide yang bersama korban untuk melakukan asesmen terkait kondisi korban,” kata Astekita.
Pemandu pendakian yang mendampingi korban kemudian diminta membawa WN Belgia tersebut ke shelter emergency di Pelawangan 1 Sembalun untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Proses evakuasi awal dilakukan dengan cara korban digendong oleh porter dari lokasi kejadian menuju shelter.
“Pukul 13.43 Wita, korban tiba di shelter emergency 1 Pelawangan dengan cara digendong oleh porter dan langsung ditangani oleh petugas jaga di Pelawangan Sembalun,” kata Astekita.
Selanjutnya, pada pukul 14.00 Wita, tim evakuasi yang berada di Pos 2 bergerak menjemput korban ke Pelawangan Sembalun.
Tim disebut telah menyiapkan peralatan dan logistik untuk proses evakuasi lanjutan.
“Tim sudah mengumpulkan peralatan evakuasi serta logistik. Info sementara sedang dalam perjalanan dibawa turun ke basecamp dari Pelawangan Sembalun,” ujar Astekita.
Setelah berhasil dievakuasi turun, WN Belgia tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Siloam di Mataram untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Pendakian Baru Dibuka dan Data Pendaki
Pendakian Gunung Rinjani di nusa tenggara barat sebelumnya ditutup sejak 1 Januari 2026 dan baru kembali dibuka pada Rabu (1/4).
Insiden yang dialami WN Belgia ini terjadi empat hari setelah jalur resmi dibuka kembali untuk umum.
Pembelian tiket pendakian secara online mulai dibuka sejak 6 Maret 2026 dan langsung diserbu calon pendaki.
Dalam tiga hari sejak penjualan dibuka, tercatat sebanyak 663 pendaki telah mendaftarkan diri untuk menjajal gunung rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kecelakaan yang terjadi di jalur Pelawangan Sembalun menuju danau segara anak gunung rinjani ini menjadi salah satu insiden yang tercatat pada awal masa pembukaan kembali aktivitas pendakian di kawasan tersebut.
Seluruh proses penanganan dilakukan oleh pihak Balai TNGR bersama tim evakuasi sesuai prosedur yang berlaku di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, nusa tenggara barat.
