Komentar Bos FIFA terkait Tiket Piala Dunia 2026 yang Dinilai Mahal. Gambar: NDTV Sports
Presiden FIFA, Gianni Infantino, memberikan penjelasan terkait mahalnya harga tiket Piala Dunia 2026 yang menuai sorotan dari penggemar di seluruh dunia.
Ia menegaskan bahwa sistem penetapan harga dinamis menjadi faktor utama dalam menentukan tarif tiket turnamen tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Infantino menyusul tingginya permintaan terhadap tiket ajang sepak bola terbesar di dunia itu.
Infantino menjelaskan bahwa tingginya harga tiket Piala Dunia 2026 merupakan konsekuensi dari besarnya minat publik global.
“Dalam empat minggu, kami menerima permintaan untuk penyelenggaraan Piala Dunia selama seribu tahun,” kata Infantino kepada CNBC pada bulan Maret.
“Kami telah menerima permintaan tiket dari lebih dari 200 negara di seluruh dunia,” tambahnya.
Menurut Infantino, penerapan sistem harga dinamis memungkinkan tarif tiket berubah sesuai permintaan pasar, terutama di Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah.
“Harganya sudah ditetapkan, tetapi khususnya di AS ada yang namanya penetapan harga dinamis, artinya harga akan naik atau turun,” ujarnya.
“Itu bagian dari pasar yang kita geluti. Harga untuk beberapa pertandingan akan naik. Itu bukan masalah dalam artian permintaannya ada. Harga adalah konsekuensi dari itu,” jelasnya.
Harga Tiket Final
Harga tiket final Piala Dunia 2026 dilaporkan mencapai lebih dari 10.000 dolar AS atau sekitar Rp170 juta untuk kategori tertinggi.
Dalam laporan lain, FIFA menetapkan harga tiket final hingga 10.990 dolar AS atau sekitar Rp186,7 juta.
Laga final dijadwalkan berlangsung di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026, stadion berkapasitas lebih dari 80 ribu kursi.
Kenaikan harga tiket ini menjadi sorotan karena meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan final Piala Dunia 2022 di Qatar, yang harga tertingginya berada di kisaran 1.600 dolar AS atau sekitar Rp27 juta.
Selain tiket final, harga tiket kategori 2 dilaporkan mencapai 7.380 dolar AS (sekitar Rp125 juta), sementara kategori 3 mencapai 5.785 dolar AS (sekitar Rp98,2 juta).
Tingginya harga tiket juga memicu keluhan dari para penggemar, terutama terkait proses pembelian yang dinilai bermasalah.
Kritik dari Organisasi dan Lembaga Internasional
Asosiasi Pendukung Sepak Bola menilai biaya menghadiri Piala Dunia 2026 menjadi sangat tinggi, termasuk tiket, perjalanan, dan akomodasi.
“Ini adalah Piala Dunia termahal dalam sejarah bagi pendukung yang melakukan perjalanan, mulai dari tiket pertandingan hingga perjalanan dan akomodasi,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dampak harga tinggi dirasakan oleh penggemar dari berbagai negara.
“Ini bukan hanya masalah bagi penggemar Inggris, tetapi juga bagi penggemar di seluruh dunia,” tambahnya.
Mereka juga menyoroti kebijakan harga dan transparansi penyelenggara.
“Penetapan harga tiket FIFA yang tidak masuk akal dan kebijakan yang tidak transparan telah menyebabkan banyak penggemar menyimpulkan bahwa mereka tidak mampu untuk menghadiri acara sepak bola global terbesar ini,” jelasnya.
Selain itu, model harga dinamis juga memicu protes dari organisasi hak konsumen Eropa, Euroconsumers, serta sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat. Sebanyak 69 anggota Partai Demokrat AS mengirimkan surat resmi kepada Presiden FIFA.
Tingginya Permintaan
FIFA menegaskan bahwa sistem harga dinamis diterapkan untuk menyesuaikan tarif dengan permintaan pasar yang tinggi terhadap Piala Dunia 2026.
Kebijakan ini diumumkan setelah seluruh kuota 48 tim peserta turnamen terisi penuh melalui babak kualifikasi dan play-off antarbenua.
Infantino juga menyoroti tingginya antusiasme publik terhadap ajang tersebut. Ia menyebut pihaknya menerima permintaan yang sangat besar untuk tiket Piala Dunia.
“Semua orang ingin menjadi bagian dari sesuatu yang istimewa,” ujar Infantino.
FIFA menyatakan bahwa sebagian keuntungan dari penerapan sistem harga dinamis akan digunakan untuk mendanai pengembangan sepak bola akar rumput di berbagai belahan dunia.
Kebijakan ini menunjukkan upaya FIFA dalam memanfaatkan tingginya minat terhadap Piala Dunia sebagai sumber pendanaan bagi pengembangan sepak bola secara global.
