Indonesia Lepas Dua Komodo ke Jepang untuk Pengembangbiakan, Imbalannya Jerapah dan Panda Merah. Gambar: Ilustrasi Canva
Indonesia akan meminjamkan sepasang komodo ke Jepang untuk kepentingan konservasi dan pengembangbiakan.
Pengiriman ini dilakukan sebagai bagian dari kerja sama antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut) dan Pemerintah Prefektur Shizuoka, Jepang.
Sebagai imbal balik, Jepang akan mengirimkan satwa eksotis seperti jerapah dan panda merah ke Indonesia. Program ini disepakati dalam bentuk breeding loan untuk mendukung pelestarian spesies langka tersebut.
Kesepakatan tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani pada Sabtu (28/3) oleh Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni dan Gubernur Prefektur Shizuoka Yasutomo Suzuki di Shizuoka, Jepang.
Penandatanganan ini berlangsung dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang, yang juga mencakup pertemuan dengan Kaisar Naruhito dan Perdana Menteri Sanae Takaichi.
“Kerja sama ini bukan sekadar pertukaran satwa, melainkan bagian dari diplomasi hijau (green diplomacy), komitmen jangka panjang Indonesia dalam menjaga warisan biodiversitas dunia,” kata Raja Juli Antoni dalam pernyataan resminya, Sabtu (28/3).
Implementasi Program dan Teknis Pengiriman
Program ini akan dilaksanakan melalui perjanjian business to business (B2B) antara dua lembaga konservasi: Kebun Binatang Surabaya (KBS) di Indonesia dan iZoo di Shizuoka, Jepang.
Sepasang komodo yang terdiri dari jantan dan betina dijadwalkan akan dikirim paling cepat pada bulan Juni, setelah seluruh dokumen teknis antar-kebun binatang ditandatangani.
Ahmad Munawir, pejabat konservasi Kemenhut, memastikan seluruh proses pengiriman, pemeliharaan, dan pengawasan komodo akan dilakukan secara hati-hati, transparan, dan mematuhi regulasi nasional serta standar kesejahteraan satwa internasional seperti CITES.
“Pertukaran satwa ini akan meningkatkan kontribusi kedua belah pihak terhadap perlindungan dan konservasi satwa liar, sekaligus meningkatkan kesadaran publik tentang keanekaragaman hayati,” ujar Kemenhut dalam pernyataan resmi yang dikutip Reuters, Senin (30/3).
Komodo sebagai Satwa Endemik Terancam Punah
Komodo (Varanus komodoensis) merupakan kadal terbesar di dunia dan hanya ditemukan secara alami di Indonesia, terutama di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.
Populasinya saat ini diperkirakan lebih dari 3.000 ekor. Komodo termasuk satwa purba yang telah ada sejak 30–40 juta tahun lalu dan berhasil bertahan dari masa Pleistosen.
Reptil ini memiliki panjang tubuh mencapai sekitar 3 meter, dikenal dengan lidah bercabang serta gigitannya yang berbisa.
Komodo juga memiliki kemampuan reproduksi unik berupa partenogenesis, yaitu bertelur tanpa pembuahan oleh pejantan.
Kritik dari Kelompok Pemerhati Hewan
Kesepakatan ini mendapat kritik dari kelompok pembela hak-hak hewan, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA).
Presiden PETA Asia, Jason Baker, menyatakan keberatan terhadap penggunaan komodo sebagai bagian dari diplomasi.
“Mengirim hewan-hewan yang sangat cerdas ini ke luar negeri untuk program pembiakan di penangkaran hanya memperkuat mitos berbahaya bahwa konservasi dapat dilakukan di balik tembok kebun binatang,” kata Jason Baker, dikutip Reuters.
“Sementara anak-anak yang lahir di sana akan terpaksa menjalani hidup dalam kurungan seumur hidup,” tambahnya.
PETA menyatakan bahwa komodo seharusnya tetap berada di habitat alaminya dan bukan dijadikan alat diplomasi.
Diplomasi dan Hubungan Internasional Indonesia-Jepang
Kesepakatan peminjaman satwa ini merupakan bagian dari upaya memperkuat diplomasi dan hubungan internasional antara Indonesia dan Jepang.
Selain berfokus pada konservasi satwa liar, program ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan edukasi publik dan kesadaran global akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
“Melalui kemitraan ini, Indonesia kembali menunjukkan peran aktifnya dalam kepemimpinan global di bidang konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus memperkuat diplomasi lingkungan sebagai bagian dari kontribusi terhadap keberlanjutan alam di tingkat nasional dan global,” ujar Raja Juli.
