Afrika Hentikan Ekspor Logam Baterai, Penambang China Menjerit. Gambar: Dok. Bloomberg Technoz
Sejak Februari 2025, sejumlah negara di Afrika memberlakukan pembatasan ekspor logam baterai, yang berdampak langsung terhadap operasional perusahaan pertambangan asal China.
Kebijakan ini memicu gangguan pasokan bahan baku penting untuk kendaraan listrik (EV) dan sistem penyimpanan energi (BESS), yang selama ini menjadi andalan ekspor dan impor antara Afrika dan China.
Kebijakan ini merupakan bagian dari perubahan tata kelola komoditas strategis di kawasan, termasuk upaya negara-negara seperti Republik Demokratik Kongo dan Zimbabwe untuk meningkatkan nilai tambah produksi dalam negeri.
Akibatnya, perusahaan China yang selama lebih dari satu dekade menanamkan investasi besar di Afrika mengalami keterbatasan pemanfaatan aset dan peningkatan biaya produksi akibat melonjaknya harga komoditas.
Kenaikan harga komoditas logam baterai pun tercatat signifikan.
Dikutip dari Fastmarkets Ltd, harga kobalt meningkat lebih dari 160%, sementara kobalt hidroksida naik lebih dari empat kali lipat. Harga litium juga menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Alasan Negara-Negara di Afrika Batasi Ekspor
Republik Demokratik Kongo sejak Februari 2025 secara resmi membatasi ekspor logam baterai dengan tujuan mengurangi kelebihan pasokan sekaligus mendorong hilirisasi di dalam negeri.
Langkah serupa diambil oleh Zimbabwe, yang melarang ekspor konsentrat litium guna mendorong pembangunan fasilitas pengolahan lokal.
Kebijakan tersebut berdampak langsung pada rantai pasok global, terutama hubungan ekspor dan impor antara Afrika dan China dalam hal logam baterai.
Negara lain seperti Guinea juga sedang mengkaji kebijakan serupa. Sebagai pemasok utama bauksit untuk industri aluminium China, Guinea berencana mengendalikan ekspor bijih demi mempercepat pengolahan dalam negeri.
Investasi China di Afrika
Perusahaan-perusahaan tambang China telah menanamkan investasi besar di sektor logam baterai Afrika selama lebih dari satu dekade.
Di Zimbabwe, Sinomine Resource Group Co. dan Zhejiang Huayou Cobalt Co. telah menggelontorkan investasi sebesar USD2,8 miliar sejak 2020 untuk proyek litium.
Di Republik Demokratik Kongo, CMOC Group Ltd. menginvestasikan sekitar USD9 miliar di dua tambang tembaga-kobalt sejak 2016, serta proyek ekspansi senilai USD1,1 miliar.
Investasi tersebut sebelumnya berhasil meningkatkan kapasitas produksi. Produksi kobalt di Kongo diketahui meningkat lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir.
Sementara itu, Zimbabwe kini menjadi produsen litium terbesar keempat di dunia, memperkuat peran strategisnya dalam rantai pasokan global logam baterai.
