Varian Baru Covid-19 Merebak, Tak Perlu Khawatir Namun Tetap Waspada

Juru Bir pemerintah untuk COVID-19, Reisa Broto Asmoro menghimbau masyarakat untuk tak perlu khawatir dengan varian baru Covid-19, namun tetap waspada

Varian Baru Covid-19 Merebak, Tak Perlu Khawatir Namun Tetap Waspada
Reisa Broto Asmoro. Gambar : Youtube BNPB

Cahaya.co – Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19, Reisa Broto Asmoro, meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap mutasi sub varian baru SARS-CoV2 yaitu BA.4 dan BA.5. Hingga saat ini sirkulasi dari kedua sub varian tersebut telah mendominasi penularan di Indonesia.

Meski begitu masyarakat diimbau tetap waspada dan menguatkan protokol kesehatan (Prokes) di keseharian, agar terhindar dari sub varian baru yang telah mulai ada sejak 18 Juli 2022 tersebut.

“Dan sub varian baru tersebut sudah dikategorikan ke dalam VoC. Perbedaan-perbedaan yang muncul pada varian varian baru ini perlu kita Cermati bersama, karena karakteristiknya beda-beda,” kata Reisa saat memberikan keterangan pers, Jumat (5/8/2022).

Pada kesempatan tersebut, Reisa juga menjelaskan ketika muncul varian yang meningkatkan resiko penularan seperti keparahan penyakit, kematian, atau yang mempengaruhi keefektifitas vaksin, maka akan masuk ke dalam kategori Varian of Concern atau VoC.

Ia mencontoh SARS-CoV2 varian Alfa, resiko penularannya cukup tinggi, namun keparahan penyakitnya terbilang lebih ringan dibandingkan varian Delta. Selain itu resiko reinfeksi atau penularan kembalinya lebih rendah.

Sedangkan pada varian Omicron, lanjut Reisa ternyata lebih mudah penularannya dibanding Alfa dan Delta yang sebelumnya mendominasi Indonesia. Tetapi gejala yang muncul umumnya lebih ringan dibandingkan yang sebelumnya.

“Meski demikian kemungkinan reinfeksinya jauh lebih tinggi pada varian Omicron dibandingkan varian varian sebelumnya. Inilah yang harus kita waspadai, apalagi terkait dengan fakta terjadinya kenaikan gelombang COVID-19 setiap kali varian baru muncul dan mendominasi,” kata Reisa.

Reisa pun mengingatkan bahwa mutasi demi mutasi yang terjadi pada virus SARS-CoV2, penyebab COVID-19 ini merupakan hal yang alamiah dari sifat virus, yang menggunakan tubuh manusia sebagai inang.

Untuk memperbanyak dirinya, katanya,  kerapkali menghasilkan kesalahan dalam pengkopian kode genetik. Sehingga seringkali muncul varian atau sub varian baru.

Kenaikan jumlah kasus positif dan kasus aktif biasanya akan terjadi dua hingga empat minggu setelah diidentifikasinya varian baru.

BOR dibawah 6%

Kondisi keterisian rumah sakit karea kasus COVID-19 atau Bed Occupancy Rate (BOR) nasional per 4 Agustus 2022 adalah sebesar 5,90 persen. Begitu juga dengan konfirmasi dan kasus aktif COVID-19 nasional. Per 4 Agustus 2022, jumlah kasus meningkat 16,95 persen dalam sepekan dan tren kematian absolut meningkat 33,77 persen dibandingkan dengan seminggu sebelumnya.

“Meski angka ini terbilang cukup rendah, tetapi kenaikan sudah terjadi dari dua bulan lalu. Apabila melihat kurva BOR nasional, belum ada tren penurunan,” kata Reisa.

Hal ini yang menyebabkan case positivity rate menjadi sebesar 2,53 persen. Namun sayangnya, kata Reisa, jumlah testing dan tracing saat ini masuk ke dalam kategori sedang, dan dinilai belum memadai.

“Ini yang menepatkan Indonesia kembali masuk ke assesment situasi pandemi COVID-19 ke level dua. Maka perlu disadari kembali bahwa setiap kontak dengan terkonfirmasi COVID-19 harus melakukan pemeriksaan atau tracing,” kata Reisa.

Setiap orang yang merasakan gejala COVID-19, tegas Reisa harus tetap melakukan testing ke laboratorium pemeriksaan COVID-19. Selain itu, hasilnya juga harus dimasukkan ke dalam sistem New All Record (NAR).

Hasil ini sangatlah penting, guna mengetahui angka pasti kasus COVID-19 di dalam negeri, di samping sebagai upaya pemerintah agar bisa mengambil langkah-langkah penanganan selanjutnya.

Terkait positifity rate, lanjut Reisa, pada 4 Agustus 2022, terdapat kenaikan yang cukup tinggi bahkan dua kali lipat dibandingkan satu bulan lalu yakni sebesar 10,71 persen. Positivity rate satu pekan terakhir terakhir adalah 10,43 persen.

Reisa mengingatkan bahwa standar World Health Organization (WHO) adalah positivity rate yang tidak lebih dari lima persen. Apabila dilihat berdasarkan provinsi, maka positivity rate di DKI Jakarta lebih dari 20 persen, Kalimantan Tengah 19,5 persen, dan Banten hampir 16 persen.

“Sekali lagi ditekankan, bahwa dengan adanya peningkatan Positivity rate artinya ada peningkatan resiko terinfeksi ketika kita beraktivitas dalam lingkungan. Karena sirkulasi virus tinggi, membuat resiko penularan menjadi tinggi kembali,” kata Reisa.

Meski demikian, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM di seluruh wilayah Indonesia adalah PPKM level satu. Seperti tertuang Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) nomor 38 dan 39 tahun 2022, perpanjangan PPKM Jawa-Bali berlaku 2-15 Agustus 2022.

“Untuk PPKM Luar Jawa-Bali mulai 2 Agustus-5 September 2022. Status ini merupakan hasil pertimbangan kondisi faktual di lapangan, angka BOR, kematian, dan capaian vaksinasi,” kata Reisa.