Terbongkar ! Pemalsuan Tes PCR di Bandara Halim, Pelaku Patok Harga Rp 600 Ribu

Pelaku pemalsuan tes PCR di Bandara Halim terbongkar, pelaku patok harga 600 ribu untuk hasil tes

Terbongkar ! Pemalsuan Tes PCR di Bandara Halim, Pelaku Patok Harga Rp 600 Ribu
Gambar dilansir dari : beritatrans

Cahaya.co - Jajaran Polres Metro Jakarta Timur membongkar praktik pemalsuan hasil tes PCR Covid-19 di Bandara Halim Perdanakusuma. Kasus ini terbongkar setelah ada laporan masyarakat tentang sejumlah calon penumpang pesawat yang mencurigakan.

Seperti dilansir liputan6, Kapolres Jakarta Timur Kombes Erwin Kurniawan mengatakan, terdapat lima orang yang ditangkap terkait dugaan pemalsuan hasil tes PCR Covid-19 di Bandara Halim Perdanakusuma.

“Penangkapan 21 Juli 2021 jam 12 siang, ada laporan masyarakat yang curiga ada pemalsuan surat PCR dengan hasil negatif oleh beberapa orang,” kata Erwin dalam keterangan resmi, Sabtu (24/7/2021).

Erwin merinci, lima orang yang ditangkap terdiri dari tiga penyedia hasil tes PCR Covid-19 palsu masing-masing berinisial DI, MR, dan MG, serta dua calon penumpang yang menggunakan jasa tersebut, yakni DDS dan KA.

“Tiga orang terduga pelaku membuat soft copy dan mencetak surat PCR palsu. Kami amankan barang bukti seperti komputer, laptop, printer, CPU, dan uang. Berikut dengan contoh surat negatif palsu,” katanya.

Ketiga pelaku diketahui telah beraksi selama sepekan. Total, ada sebanyak 11 surat PCR palsu yang telah dihasilkan. Kendati tiga di antaranya ditolak.

“Delapan surat berhasil digunakan, harga jasa mereka Rp 600 ribu. Mereka nawarin jasanya di bandara, dicetak di lokasi, dibikin di lokasi, mereka langsung kirim lewat bentuk (dokumen format) pdf,” ujar Erwin merinci.

Dengan pelanggaran tersebut, Pelaku dapat dikenakan pasal berlapis yakni Pasal 263 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal enam tahun, Pasal 268 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal empat tahun.

Dan juga Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 serta Pasal 9 ayat (1) Undang-udang Nomor 6 Tahun 2018 dengan ancaman pidana penjara paling lama satu tahun.

Hal ini tentu membuka mata kita terhadap praktik manipulasi hasil PCR, Semoga kedepannya dapat diberantas dan tidak ada kejadian serupa