Taipan Thailand Terancam 15 tahun Bui Karena Dianggap Hina Raja

Taipan Thailand Terancam 15 tahun Bui Karena Dianggap Hina Raja
Taipan Thailand Terancam 15 tahun Bui Karena Dianggap Hina Raja

Taipan Thailand yang dinilai telah melakukan penghinaan terhadap raja terancam bui selama 15 tahun. Sebelumnya, ia memang sempat memberikan kritik tajam kepada pihak pemerintah dan memberikan penilaian bahwa mereka sangat bergantung dengan operasional perusahaan dari kerajaan dalam hal distribusi vaksin virus covid 19.

Karena kritikannya tersebut diunggah dalam sebuah video, ia harus memperoleh tuntutan setidaknya 5 tahun penjara karena masalah kejahatan siber yang mana sudah tersebar di ranah media sosial.

Pria bernama Thanathorn Juangroongruangkit (Taipan) mengungkapkan bahwa pihak pemerintah memang sangat bergantung pada ketersediaan pasokan vaksin covid 19 dari Siam Bioscience. Yang mana perusahaan tersebut merupakan milik dari Raja Maha Vajiralongkorn. Kritik yang disampaikan oleh Thanathorn Juangroongruangkit (Taipan) dilakukan melalui siaran langsung di jejaring media sosial Facebook.

Dalam upaya memberikan respon terkait dengan tuduhan yang menimpa dirinya, Thanathorn Juangroongruangkit (Taipan) membantah tak ada maksud untuk mengejek pihak keluarga kerajaan. Ia juga memberikan klaim, bahwa kritikan yang dilontarkannya tidak lain untuk kinerja pemerintahan.

“Apa yang saya sampaikan dan lakukan tersebut bertujuan untuk kepentingan masyarakat dan berupaya untuk memberikan perlindungan kepada institusi kerajaan,” kata Thanathorn Juangroongruangkit (Taipan) pada hari Senin, 11 April 2022 seperti dilansir dari unggahan media Reuters.

“Dalam kasus ini, saya lebih menekankan bahwa dalam proses penerapan hukum tidaklah baik, dan itu membawa dampak buruk bagi kerajaan,” tambahnya merujuk pada hukum yang ada yakni hukum lese majeste.

Istilah hukum lese majeste ialah suatu hukum yang diberlakukan karena dugaan penghinaan monarki. Negara Thailand sendiri sudah sejak lama menerapkan hukum tersebut dan memberlakukannya dengan sangat ketat. Yang mana jika sampai melanggar, masyarakat bisa terancam buih maksimal 15 tahun.

Kali ini, Thanathorn Juangroongruangkit (Taipan) tak hanya diduga kuat melakukan penghinaan terhadap monarki, melainkan juga dianggap telah melakukan pelanggaran hukum siber. Dari semua dugaan pelanggaran tersebut, Thanathorn Juangroongruangkit (Taipan) bisa terancam hukuman penjara maksimal hingga 5 tahun penjara.

Seperti yang dijelaskan oleh media Reuters, bahwa Siam Bioscience adalah perusahaan yang ditunjuk dalam rangka untuk membantu proses produksi dari vaksin covid 19 Astrazeneca. Selanjutnya, vaksin tersebut akan didistribusikan ke kawasan Asia Tenggara.

Untuk bisa mengembangkan kapasitas produksi vaksin, Siam Bioscience mendapatkan gelontoran dana subsidi dari pemerintah Thailand sebesar Rp 287 miliar.

Usut punya usut, tuduhan pelanggaran pada Thanathorn Juangroongruangkit (Taipan) ternyata datang dari pihak kantor Perdana Menteri Thailand.