Pakar Nilai Aksi Mahasiswa Saat Ini Efektif Meski Tak Seperti 1998

Pakar Nilai Aksi Mahasiswa Saat Ini Efektif Meski Tak Seperti 1998
Pakar Nilai Aksi Mahasiswa Saat Ini Efektif Meski Tak Seperti 1998

Pasca gelaran unjuk rasa yang sebelumnya dilakukan di depan Gedung DPR RI pada tanggal 11 April 2022 di Jalan Gatot Soebroto, sejumlah kelompok mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia masih terlihat menggelar unjuk rasa lanjutan.

Aksi demo yang dilakukan para mahasiswa di sejumlah daerah mempunyai tuntutan yang sama. Aksi demo mahasiswa tersebut dilakukan di Lampung, Medan, Bali, hingga Surabaya, Jawa Timur.

Tuntutan yang disuarakan oleh para mahasiswa tersebut antara lain seperti reforma agrarian, kenaikan harga bahan pokok, kenaikan tarif pajak, kenaikan harga BBM, penolakan isu terkait penundaan pemilu 2024, hingga perpanjangan masa jabatan presiden menjadi 3 periode.

Berbagai sorotan publik pun tak bisa terelakkan lagi. Mahasiswa dianggap berhasil menyuarakan segala bentuk tuntutan. Kemudian tak sedikit yang membandingkan aksi masa saat ini dengan aksi masa pada tahun 1998 lalu.

Sebagai informasi tambahan, saat terjadi aksi masa di tahun 1998 dengan tujuan untuk membuat Presiden Soeharto lengser, sehingga membawa Indonesia menjajaki era Reformasi.

Menurut keterangan yang diberikan oleh Kunto Adi Wibowo (Direktur Eksekutif Kedai KOPI) bahwa aksi demo yang dilakukan oleh mahasiswa dianggap tengah berhasil di tengah – tengah kondisi yang serba sulit seperti saat ini. Padahal, pelaksanaan kuliah juga masih berlangsung meski kebanyakan melalui jaringan berbasis daring.

Setidaknya sehari sebelum digelar aksi demo mahasiswa tersebut, Presiden Jokowi telah mengeluarkan pernyataan terkait dengan pelaksanaan pemilu 2024.

Lebih lanjut, menurutnya gerakan para mahasiswa sekarang ini sudah berbeda jauh dengan yang dulu. Apalagi terkait dengan efektivitas sehingga mempunyai kemampuan dan dorongan yang kuat dalam hal mengubah berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap diskriminatif.

“Jadi aksi demo mahasiswa masa kini bukanlah pameran panggung (gerakan 98). Mahasiswa sudah mengalami revolusi sehingga bisa lebih cair. Apalagi ada dukungan akses media sosial dan internet yang sangat memadai,” kata Kunto Adi Wibowo (Direktur Eksekutif Kedai KOPI).

Selain itu Idil Akbar (Pengamat Politik dari Unpad) menambahkan, bahwa gerakan mahasiswa yang dilakukan saat ini tidak bisa dibanding – bandingkan dengan gerakan 1998.

“Pada gerakan 1988 dulu yang menjadi sasaran adalah negara dengan dukungan militer, kalau saat ini yang dilawan bukanlah pihak pemerintah, mereka hanya menyampaikan aspirasi saja. Kemudian, militer negara ditempatkan pada koridor yang semestinya,” ungkap Idil Akbar (Pengamat Politik dari Unpad).