Mengulik Kembali Sejarah Film Spider-Man Yang Masih Memenuhi Kursi Bioskop Setelah 2 Pekan Tayang

Sejarah film Spider-man No Way Home yang saat ini masih memenuhi kursi bioskop setelah tayang 2 pekan. Berikut informasinya!

Mengulik Kembali Sejarah Film Spider-Man Yang Masih Memenuhi Kursi Bioskop Setelah 2 Pekan Tayang
Spiderman No Way Home. Gambar : Sony Entertainment and Marvel Studios

Cahaya.co - Tak Terasa, Film Spider-Man: No Way Home telah tayang 2 pekan di layar bioskop sejak tayang perdana di Indonesia pada Selasa (15/12/2021). Film Spider Man: No Way Home sendiri telah tayang terlebih dahulu di Los Angeles, Amerika Serikat, pada Senin (14/12/2021)

Film yang dibintangi Tom Holland dan Zendaya tersebut langsung menuai respon hangat masyarakat dan pujian kritikus film di tengah-tengah suasana pandemi. 

Masih hangat untuk diperbicangkan, mari kita mengulik kembali sejarah film super hero yang tak lekang oleh waktu ini. Spider-Man: No Way Home adalah film ke -9. Film Spider-Man pertama lahir di tahun 1977 dengan judul The Amazing Spider-Man. 

Disusul Spider-Man (2002), Spider-Man 2 (2004), Spider-Man 3 (2007), The Amazing Spider-Man (2012), The Amazing Spider-Man 2 (2014), Spider-Man: Homecoming (2017), dan Spider-Man: Far From Home (2019).  Film Spider-Man selalu diserbu penggemar. Tokoh superhero yang lahir pertama kali di lembar buku komik ini menarik untuk dikulik sejarahnya.

Sejarah Lahirnya Spider-Man

Spider-Man adalah pahlawan super fiktif milik Marvel Comics. Sang penulis komik, Stan Lee, mengeluarkan karya pertamanya di sekitar awal tahun 1960-an. 

Di komik tersebut yang menjadi tokoh pahlawan adalah Peter Parker, pelajar SMA yang bisa berubah menjadi manusia super Spider-Man berkat secara tak sengaja tergigit laba-laba yang mengandung radioaktif.

Spider-Man adalah salah satu tokoh andalan Marvel yang disukai oleh masyarakat dan telah berulang kali meraup keuntungan besar, baik lewat komik, serial televisi, strip koran komik, dan film layar lebar. 

Meski meraup keuntungan besar, tapi siapa sangka bahwa ide manusia laba-laba milik Stan Lee ini awalnya dianggap ide yang sangat buruk oleh penerbitnya, Martin Goodman.

Melansir dari Screenrant, meski dianggap buruk, namun demi menjawab kebutuhan masyarakat akan komik remaja di masa itu, komik Spider-Man tetap dirilis dan ternyata mendapat respon yang sangat positif dari dunia. 

Dalam beberapa wawancaranya, Stan Lee mengatakan mendapatkan ide manusia laba-laba ketika ia melihat seekor laba-laba yang merayapi dinding. Meski dalam banyak autobiografinya, dengan nada bercanda ia tak yakin bahwa idenya datang dari momen tersebut.

Sebelum memilih nama Spider-Man, Sten Lee mempertimbangkan nama-nama lain seperti Spider-Boy, yang lebih melambangkan era atau pasar remaja. Namun karena ingin tokoh fiktifnya tersebut dianggap serius oleh segala rentang usia, ia pun memilih nama Spider-Man.