Korea dan Jepang Alami Resesi Seks, Takut Punya Anak

Orang dewasa di Korea dan Jepang mengalami resesi seks karena enggan memiliki anak, mereka takut beban biaya hidup akan bertambah.

Korea dan Jepang Alami Resesi Seks, Takut Punya Anak
Korea dan Jepang Alami Resesi Seks, Takut Punya Anak. Gambar: Eugene Hoshiko/AP

Cahaya.co - Orang dewasa di Jepang dan Korea mengalami resesi seks. Kondisi ini disebabkan karena perubahan pola pikir pasangan muda di sana yang enggan untuk memiliki anak dan memilih untuk memiliki sedikit anak.

Karena berbagai faktor gairah seksual pasangan muda di Jepang menurun, wanita Jepang enggan menikah karena berfikir banyak anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pada tahun 2021, jumlah kelahiran di Jepang mencapai 811.604, angka ini terendah sejak pencatatan pertama kali dilakukan pada tahun 1899.

Resesi seks ini juga terjadi di Korea yang pada tahun 2021 jumlah pernikahan di sana mencapai titik terendah sepanjang masa. Penduduk di Korea Selatan memiliki tingkat kesuburan terendah di seluruh dunia. Penduduk disana menganggap pernikahan bukan suatu keharusan.

Ketakutan dengan biaya hidup yang tinggi untuk membiayai anak menjadi salah satu faktor penyebab yang mempengaruhi pola pikir wanita-wanita Jepang.

“Dulu saya berpikir saya akan menikah pada usia 25 tahun dan jadi seorang ibu pada usia 27 tahun,” kata Nao Iwai, seorang mahasiswa di Tokyo. “Tetapi ketika saya melihat kakak perempuan tertua saya, yang memiliki anak perempuan berusia dua tahun, saya takut memiliki anak" kata dia.

Nao Iwai mengatakan, jika memiliki anak di Jepang, dan suami bekerja, maka ibu diharapkan berhenti dari pekerjaannya dan beralih menjadi ibu rumah tangga untuk menjaga anak.

"Saya hanya merasa sulit untuk membesarkan anak, secara finansial, mental dan fisik," ujar Nao Iwai.

Profesor Showa Women's University, Naohiro Yashiro mengatakan, kemungkinan faktor keengganan wanita Jepang untuk menikah adalah meningkatnya biaya pernikahan. Menurut dia, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, lebih banyak perempuan muda yang memiliki upah yang sama dengan laki-laki.

Sehingga rata-rata masa pencarian pasangan mereka lebih lama. Saat ini, rata-rata usia perkawinan pertama bagi perempuan adalah 29 tahun, jauh melampaui masa menikah di tahun 1980-an yakni 25 tahun, di mana saat itu sebagian besar perempuan hanya lulusan SMA.