{"id":7647,"date":"2026-04-11T17:11:16","date_gmt":"2026-04-11T10:11:16","guid":{"rendered":"https:\/\/cahaya.co\/?p=7647"},"modified":"2026-04-11T17:11:26","modified_gmt":"2026-04-11T10:11:26","slug":"china-uji-tanaman-bercahaya-sebagai-alternatif-lampu-jalan-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/2026\/04\/11\/china-uji-tanaman-bercahaya-sebagai-alternatif-lampu-jalan-masa-depan\/","title":{"rendered":"China Uji Tanaman Bercahaya sebagai Alternatif Lampu Jalan Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/china\/\">China<\/a> mengembangkan <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/tumbuhan\/\">tumbuhan<\/a> bercahaya sebagai alternatif <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/lampu-jalan\/\">lampu jalan<\/a> melalui rekayasa genetika yang dipamerkan dalam forum teknologi Zhongguancun di Beijing.<\/p>\n<p>Inovasi yang dipimpin oleh Dr. Li Renhan dari perusahaan bioteknologi Magicpen Bio ini memanfaatkan DNA organisme bercahaya seperti kunang-kunang dan jamur untuk menciptakan tanaman yang dapat memancarkan cahaya tanpa listrik.<\/p>\n<p>Pengembangan ini bertujuan menyediakan solusi pencahayaan ramah lingkungan untuk taman kota, ruang publik, dan kawasan wisata malam, sekaligus mendukung efisiensi energi serta pengurangan emisi dalam lanskap <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/teknologi-dan-inovasi-global\/\">teknologi dan inovasi global<\/a>.<\/p>\n<p>Dr. Li Renhan menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya.<\/p>\n<p>\u201cSaya lahir di pedesaan. Saat itu, keluarga saya tidak punya uang, jadi pada malam hari saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di tempat tidur gantung di kebun bambu kakek saya untuk menenangkan diri. Kunang-kunang sering kali mendarat di lengan saya,\u201d katanya kepada Euronews, dikutip pada Sabtu (11\/4).<\/p>\n<p>Ia kemudian mengembangkan konsep pemindahan gen bioluminesensi ke dalam tanaman untuk menghasilkan cahaya alami.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menegaskan potensi pemanfaatannya sebagai pengganti lampu jalan.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin mentransfer gen dari hewan, seperti kunang-kunang, ke dalam tanaman, sehingga mereka juga bisa bersinar di malam hari. Bayangkan sebuah lembah yang dipenuhi dengan tanaman bercahaya dalam kegelapan, itu akan seperti membawa dunia Avatar ke bumi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cMereka hanya butuh air dan pupuk. Tanaman ini tidak membutuhkan listrik. Mereka hanya membutuhkan air dan pupuk. Mereka menghemat energi, mengurangi emisi, dan dapat menerangi kota di malam hari,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<h2>Pengembangan Rekayasa Genetika pada Tumbuhan<\/h2>\n<p>Pengembangan tumbuhan bercahaya di China dilakukan melalui teknik pengeditan gen modern dengan menyisipkan gen penghasil cahaya ke dalam sel tanaman.<\/p>\n<p>Proses ini memungkinkan terjadinya reaksi bioluminesensi, yaitu reaksi kimia alami yang menghasilkan cahaya ketika enzim bereaksi dengan molekul tertentu, sebagaimana terjadi pada kunang-kunang dan jamur bercahaya.<\/p>\n<p>Melalui isolasi dan penyisipan urutan genetik tersebut ke dalam genom tanaman, para ilmuwan berhasil menciptakan organisme yang mampu menghasilkan cahaya tanpa memerlukan sumber energi eksternal seperti listrik atau lampu ultraviolet.<\/p>\n<p>Hingga saat ini, lebih dari 20 jenis tanaman telah direkayasa, termasuk anggrek, bunga matahari, dan krisan, yang mampu bersinar dalam kondisi gelap dengan perawatan standar berupa air dan pupuk.<\/p>\n<h2>Potensi Penggunaan untuk Lampu Jalan dan Kota<\/h2>\n<p>Pemanfaatan tumbuhan bercahaya diarahkan sebagai solusi pencahayaan ramah lingkungan, termasuk sebagai alternatif lampu jalan di kawasan perkotaan.<\/p>\n<p>Tanaman ini dapat digunakan di taman kota, ruang publik, dan destinasi wisata malam tanpa kebutuhan infrastruktur listrik tambahan.<\/p>\n<p>Konsep ini dinilai mampu menekan konsumsi energi perkotaan sekaligus mengurangi emisi karbon.<\/p>\n<p>Dalam konteks teknologi dan inovasi global, pendekatan ini membuka peluang pengembangan desain kota berbasis alam yang mengintegrasikan fungsi estetika dan utilitas.<\/p>\n<p>Demonstrasi publik di forum teknologi Zhongguancun di Beijing menunjukkan tanaman dapat menyala secara alami tanpa bantuan energi tambahan, memperkuat potensi implementasinya di masa depan.<\/p>\n<h2>Skala Pengembangan dan Inovasi Serupa<\/h2>\n<p>Magicpen Bio mengembangkan inovasi ini dalam skala yang lebih luas dibandingkan proyek sebelumnya dengan merekayasa lebih dari 20 spesies tanaman.<\/p>\n<p>Pendekatan ini berbeda dari inovasi lain yang umumnya hanya berfokus pada satu jenis tanaman untuk tujuan dekoratif.<\/p>\n<p>Pada 2024, perusahaan bioteknologi lain memperkenalkan Firefly Petunia yang menggunakan gen jamur untuk menghasilkan cahaya.<\/p>\n<p>Sementara itu, tim peneliti dari South China Agricultural University mengembangkan metode berbeda dengan menyuntikkan nanopartikel logam seperti strontium dan aluminium ke dalam daun tanaman sukulen.<\/p>\n<p>Tanaman tersebut menyerap cahaya matahari pada siang hari dan memancarkannya kembali pada malam hari.<\/p>\n<h2>Dampak dan Pengembangan Lanjutan<\/h2>\n<p>Selain berfungsi sebagai pencahayaan, teknologi ini juga memiliki potensi dalam penelitian medis dan pertanian karena memungkinkan pemahaman lebih mendalam terhadap proses biologis pada tingkat sel.<\/p>\n<p>Pengembangan ini menjadi bagian penting dari kemajuan teknologi dan inovasi global yang berfokus pada solusi berkelanjutan.<\/p>\n<p>Namun, penerapan dalam skala besar masih memerlukan kajian lebih lanjut terkait dampak ekologis.<\/p>\n<p>Cahaya dari tanaman berpotensi memengaruhi perilaku serangga nokturnal, mengganggu keseimbangan ekosistem malam, serta membuka kemungkinan terjadinya penyerbukan silang dengan tanaman liar.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, pengembangan taman bioluminesen berskala luas masih dalam tahap penelitian lanjutan sebelum dapat diterapkan secara luas sebagai pengganti lampu jalan di berbagai wilayah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>China mengembangkan tumbuhan bercahaya tanpa listrik sebagai alternatif lampu jalan melalui rekayasa genetika berbasis bioluminesensi.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7698,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[153],"tags":[649,900,901,899],"class_list":["post-7647","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-china","tag-lampu-jalan","tag-teknologi-dan-inovasi-global","tag-tumbuhan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7647"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7647\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7699,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7647\/revisions\/7699"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7698"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}