{"id":7336,"date":"2026-04-06T09:00:00","date_gmt":"2026-04-06T02:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/cahaya.co\/?p=7336"},"modified":"2026-04-06T01:05:10","modified_gmt":"2026-04-05T18:05:10","slug":"cahaya-misterius-di-langit-lampung-viral-brin-pastikan-bukan-meteor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/2026\/04\/06\/cahaya-misterius-di-langit-lampung-viral-brin-pastikan-bukan-meteor\/","title":{"rendered":"Cahaya Misterius di Langit Lampung Viral, BRIN Pastikan Bukan Meteor"},"content":{"rendered":"<p>Kemunculan <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/fenomena-langit\/\">fenomena langit<\/a> berupa cahaya misterius di langit <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/lampung\/\">Lampung<\/a> pada Sabtu malam (4\/4) dipastikan bukan <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/meteor\/\">meteor<\/a>, melainkan pecahan <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/sampah-antariksa\/\">sampah antariksa<\/a>.<\/p>\n<p>Peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Thomas Djamaluddin, menyatakan objek tersebut merupakan sisa roket China yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.<\/p>\n<p>Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 19.50\u201320.00 WIB dan terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Bengkulu, Palembang, hingga Banten.<\/p>\n<p>\u201cInfo terbaru dari Space-Track dan analisis orbit menunjukkan bahwa bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatra,\u201d jelas Thomas dalam keterangan tertulis pada Minggu (5\/4).<\/p>\n<p>\u201cObjek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga di sekitar Lampung dan Banten,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Fenomena langit tersebut pertama kali dilaporkan warga Lampung yang melihat cahaya terang berwarna kebiruan dengan ekor panjang melintas cepat di langit.<\/p>\n<p>Penampakan ini sempat memicu spekulasi publik yang mengira objek tersebut sebagai meteor, terutama karena karakteristik cahaya yang menyerupai benda langit alami saat memasuki atmosfer.<\/p>\n<p>\u201cYa, tadi seperti ada cahaya jatuh, cuma tidak tahu apa. Sekitar jam 20.00 WIB,\u201d ungkap Sepri salah satu saksi mata kepada awak media.<\/p>\n<h2>Terlihat dari Beberapa Wilayah<\/h2>\n<p>Penampakan objek bercahaya tersebut tidak hanya terlihat di Lampung, tetapi juga dilaporkan oleh warga di wilayah lain, seperti Bengkulu, Palembang, dan Banten.<\/p>\n<p>Video dan foto yang diabadikan warga dengan cepat menyebar di media sosial, sehingga fenomena ini menjadi perbincangan luas.<\/p>\n<p>Beberapa rekaman menunjukkan objek tersebut meluncur perlahan sebelum pecah menjadi beberapa bagian di udara.<\/p>\n<p>Warna cahaya yang terlihat merah kebiruan dengan ekor panjang semakin memperkuat dugaan awal masyarakat bahwa benda tersebut adalah meteor yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.<\/p>\n<h2>Penjelasan BRIN dan Analisis Astronomi<\/h2>\n<p>BRIN memastikan objek tersebut merupakan pecahan sampah antariksa dari roket China.<\/p>\n<p>Berdasarkan analisis orbit, benda tersebut berada di ketinggian di bawah 120 kilometer pada sekitar pukul 19.56 WIB sebelum akhirnya terbakar akibat gesekan dengan atmosfer yang lebih padat.<\/p>\n<p>Menurut Thomas Djamaluddin, fenomena tersebut terjadi saat pecahan roket memasuki atmosfer dan mengalami gesekan hebat dengan udara.<\/p>\n<p>Proses ini menyebabkan benda tersebut terbakar dan terpecah menjadi beberapa bagian yang tampak sebagai cahaya terang dari permukaan Bumi.<\/p>\n<p>Penjelasan serupa disampaikan oleh Kepala Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL), Dr. Annisa Novia Indra Putri. Ia menegaskan bahwa objek tersebut bukan meteor maupun komet.<\/p>\n<p>\u201cKalau fenomena langit di Lampung ini bukan dari komet, tetapi kemungkinan besar adalah sampah antariksa,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Annisa juga menjelaskan bahwa karakteristik gerakan objek tersebut berbeda dengan meteor.<\/p>\n<p>\u201cKami menganalisis itu bukan dari komet, karena dari gerakan, lintasan, bahkan dari pecahan yang terlihat pada video, itu bukan ciri-ciri komet,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa hujan meteor biasanya bersifat periodik, sedangkan fenomena ini tidak terjadi dalam pola waktu tertentu.<\/p>\n<h2>Dugaan Asal Objek dan Tingkat Risiko<\/h2>\n<p>Berdasarkan interpretasi awal tim Observatorium Astronomi ITERA Lampung, objek tersebut diduga merupakan bagian dari roket China tipe CZ-3B R\/B yang kembali memasuki atmosfer Bumi.<\/p>\n<p>Meski demikian, kajian lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan identitas objek secara pasti.<\/p>\n<p>Para peneliti memastikan bahwa fenomena ini tidak berbahaya bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cTidak, karena benda yang turun ke Bumi umumnya sudah berinteraksi dengan atmosfer dan terbakar. Biasanya hanya sisa-sisa kecil saja yang dapat mencapai permukaan,\u201d jelas Annisa.<\/p>\n<p>Ia juga menambahkan bahwa ukuran objek yang tidak terlalu besar kemungkinan besar akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.<\/p>\n<p>Fenomena langit seperti ini bukanlah kejadian yang sepenuhnya langka. Sisa peluncuran roket atau satelit yang kembali memasuki atmosfer dapat menimbulkan efek cahaya terang yang terlihat dari permukaan Bumi.<\/p>\n<p>Dalam peristiwa ini, objek dipastikan tidak berpotensi jatuh di wilayah Lampung, meskipun analisis lintasan masih terus dilakukan oleh para peneliti.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fenomena cahaya misterius di langit Lampung pada 4 April 2026 dipastikan BRIN sebagai pecahan sampah antariksa roket China yang terbakar saat memasuki atmosfer.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7366,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[153],"tags":[829,830,831,832],"class_list":["post-7336","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-fenomena-langit","tag-lampung","tag-meteor","tag-sampah-antariksa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7336","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7336"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7336\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7368,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7336\/revisions\/7368"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7366"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7336"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7336"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7336"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}