{"id":7332,"date":"2026-04-06T12:00:00","date_gmt":"2026-04-06T05:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/cahaya.co\/?p=7332"},"modified":"2026-04-06T00:39:18","modified_gmt":"2026-04-05T17:39:18","slug":"viral-ayah-di-purwakarta-tewa-dikeroyok-saat-acara-hajatan-usai-tolak-beri-uang-miras-ke-preman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/2026\/04\/06\/viral-ayah-di-purwakarta-tewa-dikeroyok-saat-acara-hajatan-usai-tolak-beri-uang-miras-ke-preman\/","title":{"rendered":"Viral! Ayah di Purwakarta Tewa Dikeroyok saat Acara Hajatan usai Tolak Beri Uang Miras ke Preman"},"content":{"rendered":"<p>Seorang pria bernama Dadang (57) tewas akibat <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/pengeroyokan\/\">pengeroyokan<\/a> saat menggelar <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/hajatan\/\">hajatan<\/a> pernikahan putrinya di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/purwakarta\/\">Purwakarta<\/a>, <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/jawa-barat\/\">Jawa Barat<\/a>, Sabtu (4\/4).<\/p>\n<p>Insiden tersebut terjadi setelah korban menolak permintaan uang dari sekelompok pemuda yang diduga dalam kondisi mabuk.<\/p>\n<p>Peristiwa tragis ini viral di media sosial karena terjadi di tengah suasana pesta pernikahan yang seharusnya berlangsung khidmat.<\/p>\n<p>Pengeroyokan bermula ketika sejumlah orang mendatangi lokasi hajatan dan meminta uang kepada tuan rumah.<\/p>\n<p>Dadang sempat memberikan uang sebesar Rp100 ribu, namun para pelaku kembali meminta tambahan Rp500 ribu.<\/p>\n<p>Penolakan korban memicu keributan yang berujung pada aksi kekerasan hingga korban tidak sadarkan diri.<\/p>\n<p>Adik korban, Wahyu Rabbani, mengungkapkan kronologi kejadian tersebut.<\/p>\n<p>\u201cAwalnya mereka minta uang, malak gitu. Pertama sudah dikasih, tapi kemudian minta lagi kedua kalinya sebesar Rp500.000. Karena tidak dikasih, terjadilah kejadian itu,\u201d ujar Wahyu kepada wartawan, Minggu (5\/4).<\/p>\n<h2>Kronologi Kejadian<\/h2>\n<p>Insiden pengeroyokan terjadi saat pesta pernikahan berlangsung pada Sabtu (4\/4) sekitar pukul 14.50 WIB, ketika hiburan organ tunggal sedang berlangsung.<\/p>\n<p>Sekelompok orang yang diduga berada di bawah pengaruh minuman keras datang ke lokasi hajatan dan memicu keributan.<\/p>\n<p>Kapolsek Campaka, AKP Firman Budiarto, menjelaskan bahwa keributan bermula dari permintaan uang untuk membeli minuman tambahan.<\/p>\n<p>\u201cDikarenakan di bawah pengaruh minuman keras, orang tersebut marah dan memicu kericuhan,\u201d kata Firman kepada wartawan, Minggu (5\/4).<\/p>\n<p>Dadang selaku tuan rumah berusaha menenangkan situasi, namun justru menjadi sasaran pengeroyokan. Korban dikejar hingga ke depan rumah dan dipukul menggunakan sebilah bambu.<\/p>\n<p>\u201cKorban dipukul dengan menggunakan sebilah bambu ke kepala bagian belakang,\u201d ungkap Firman.<\/p>\n<p>Akibat pengeroyokan tersebut, Dadang terjatuh dan tidak sadarkan diri.<\/p>\n<p>Keluarga segera membawa korban ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Jenazah korban sempat dibawa ke RSUD Bayu Asih Purwakarta untuk proses visum dan rencana autopsi.<\/p>\n<h2>Kesaksian Keluarga<\/h2>\n<p>Peristiwa pengeroyokan ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban.<\/p>\n<p>Sepupu korban, Asep Prabani, yang datang dari Batam untuk menghadiri pernikahan, mengaku tidak menyangka kedatangannya berakhir dengan mengantar jenazah sepupunya.<\/p>\n<p>\u201cKami baru sampai dari perjalanan Lampung, pas datang itu lagi prosesi akad nikah. Karena capek, kami istirahat di masjid dekat lokasi. Menjelang Ashar, terdengar suara riuh dan teriakan ibu-ibu. Saya pikir lagi saweran, ternyata ada pengeroyokan,\u201d kata Asep.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa korban dipukul menggunakan benda tumpul hingga tidak sadarkan diri.<\/p>\n<p>\u201cKatanya pakai bambu. Kami sangat terpukul karena Kang Dadang ini orang baik, dia sedang menikahkan putrinya,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Selain menewaskan Dadang, insiden tersebut juga menyebabkan beberapa orang mengalami luka-luka.<\/p>\n<p>Berdasarkan keterangan keluarga, sedikitnya tiga orang mengalami luka akibat senjata tajam, sementara pihak kepolisian masih mendalami jumlah pasti korban lainnya.<\/p>\n<h2>Penanganan Kasus oleh Polisian<\/h2>\n<p>Kasi Humas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi, membenarkan adanya peristiwa penganiayaan yang berujung kematian tersebut.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan bahwa keributan di lokasi hajatan memicu aksi kekerasan terhadap korban.<\/p>\n<p>\u201cDiduga ada sekelompok orang yang membuat keributan di acara hajatan, kemudian berujung pada pemukulan hingga korban tidak sadarkan diri,\u201d ujar Enjang.<\/p>\n<p>Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan menemukan barang bukti berupa belahan bambu yang diduga digunakan untuk menganiaya korban.<\/p>\n<p>\u201cKorban dipukul menggunakan belahan bambu di bagian kepala hingga tidak sadarkan diri. Untuk penyebab pasti kematian, masih menunggu hasil autopsi,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Dalam perkembangan kasus ini, satu pelaku bernama Kendi Renaldi (34) telah menyerahkan diri ke Polres Purwakarta.<\/p>\n<p>Sementara itu, aparat kepolisian masih memburu pelaku lain yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cHari ini tim Reskrim sedang memburu pelaku yang masih buron. Mudah-mudahan dalam waktu dekat pelaku lainnya dapat segera ditangkap,\u201d ujar Enjang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pria di Purwakarta tewas dikeroyok saat hajatan pernikahan setelah menolak permintaan uang. Polisi tangkap satu pelaku.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7354,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[153],"tags":[823,134,822,824],"class_list":["post-7332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-hajatan","tag-jawa-barat","tag-pengeroyokan","tag-purwakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7332"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7332\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7356,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7332\/revisions\/7356"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7354"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}