{"id":5525,"date":"2026-03-06T23:45:48","date_gmt":"2026-03-06T23:45:48","guid":{"rendered":"https:\/\/cahaya.co\/?p=5525"},"modified":"2026-03-06T23:45:53","modified_gmt":"2026-03-06T23:45:53","slug":"mulai-28-maret-anak-di-bawah-usia-16-tahun-tak-bebas-akses-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/2026\/03\/06\/mulai-28-maret-anak-di-bawah-usia-16-tahun-tak-bebas-akses-media-sosial\/","title":{"rendered":"Mulai 28 Maret, Anak di Bawah Usia 16 Tahun Tak Bebas Akses Media Sosial"},"content":{"rendered":"<p>Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (<a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/komdigi\/\">Komdigi<\/a>) resmi memberlakukan pembatasan akses <a href=\"https:\/\/cahaya.co\/tag\/media-sosial\/\">media sosial<\/a> bagi anak di bawah usia 16 tahun, efektif mulai 28 Maret 2026.<\/p>\n<p>Kebijakan ini ditetapkan melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2026.<\/p>\n<p>Aturan ini merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang mengatur tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik dalam pelindungan anak.<\/p>\n<p>Pemberlakuan pembatasan dilakukan sebagai respons terhadap berbagai ancaman digital yang rentan dihadapi anak-anak.<\/p>\n<p>Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa anak-anak Indonesia saat ini menghadapi risiko nyata dari ruang digital.<\/p>\n<p>\u201cDasarnya jelas, anak-anak kita menghadapi ancaman yang semakin nyata. Mulai dari paparan pornografi, perundungan, penipuan online, dan yang paling utama adiksi,\u201d kata Meutya Hafid, dikutip dari <a href=\"https:\/\/mpnindonesia.com\/tag\/instagram\/\">Instagram<\/a> @kemkomdigi, Jumat (6\/3).<\/p>\n<p>Penerapan pembatasan ini menjadikan Indonesia sebagai negara non-Barat pertama yang menerapkan kebijakan penundaan akses akun digital bagi anak-anak berdasarkan usia.<\/p>\n<p>\u201cIni artinya Indonesia menjadi negara non-Barat pertama dalam penundaan akses anak di ruang digital sesuai usia,\u201d ucap Meutya.<\/p>\n<h2>Platform Media Sosial yang Dibatasi<\/h2>\n<p>Komdigi menyatakan bahwa pembatasan akses akan diberlakukan terhadap platform digital yang dikategorikan memiliki risiko tinggi terhadap anak-anak. Platform yang masuk dalam daftar tersebut meliputi:<\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/mpnindonesia.com\/tag\/youtube\/\">YouTube<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/mpnindonesia.com\/tag\/tiktok\/\">TikTok<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/mpnindonesia.com\/tag\/facebook\/\">Facebook<\/a><\/li>\n<li>Instagram<\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/mpnindonesia.com\/tag\/threads\/\">Threads<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/mpnindonesia.com\/tag\/x\/\">X<\/a> (sebelumnya Twitter)<\/li>\n<li>Bigo Live<\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/mpnindonesia.com\/tag\/roblox\/\">Roblox<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p>Langkah ini mencakup berbagai jenis platform, dari media sosial hingga aplikasi permainan daring.<\/p>\n<p>Semua platform tersebut dianggap dapat memberikan dampak negatif terhadap anak di bawah usia 16 tahun jika tidak diawasi secara ketat.<\/p>\n<h2>Upaya Perlindungan Masa Depan Anak<\/h2>\n<p>Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini diambil sebagai bentuk kehadiran negara dalam melindungi anak dari kejahatan digital, serta mendukung peran orang tua dalam pengawasan aktivitas daring anak.<\/p>\n<p>Meutya Hafid menyampaikan bahwa aturan ini merupakan upaya strategis jangka panjang.<\/p>\n<p>\u201cLangkah ini kita ambil untuk kembali merebut kedaulatan masa depan anak-anak kita,\u201d ujar Meutya.<\/p>\n<p>Ia mengakui bahwa penerapan awal kebijakan ini dapat menimbulkan kebingungan di kalangan anak-anak maupun orang tua.<\/p>\n<p>Namun, pemerintah yakin bahwa penundaan akses akun digital sesuai usia akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meutya Hafid menetapkan aturan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun mulai 28 Maret 2026 melalui kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5583,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[153],"tags":[332,330,328,327,335,333,329,334,331],"class_list":["post-5525","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-facebook","tag-instagram","tag-komdigi","tag-media-sosial","tag-roblox","tag-threads","tag-tiktok","tag-x","tag-youtube"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5525","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5525"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5525\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5586,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5525\/revisions\/5586"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5583"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cahaya.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}