Ancam Perdamaian Di Yaman, PBB Jatuhkan Sanksi Kepada 3 Pimpinan Houthi

PBB menjatuhkan sanksi kepada tiga pemimpin Houthi yang dianggap akan mengancam perdamaian di Yaman, Hukuman itu terdiri dari larangan perjalanan, embargo senjata, dan juga pembekuan aset secara global.

Ancam Perdamaian Di Yaman, PBB Jatuhkan Sanksi Kepada 3 Pimpinan Houthi
Ilustrasi. PBB menjatuhkan sanksi terhadap 3 pemberontak Houthi dengan memerintahkan semua negara untuk segera membekukan aset. /REUTERS/Khaled Abdullah

Cahaya.co - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjatuhkan sanksi kepada tiga pemimpin Houthi yang dianggap akan mengancam perdamaian di Yaman. Hukuman itu terdiri dari larangan perjalanan, embargo senjata, dan juga pembekuan aset secara global.

Tiga pemimpin Yaman yang dimasukkan dalam daftar hitam terkait dalam aksi serangan lintas perbatasan dari Yaman ke Arab Saudi dan pertempuran di benteng terakhir pemerintah di utara negara itu.

Dilansir dari AFP dan Reuters, Kamis (11/11/2021) 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB pada Rabu (10/11) waktu setempat menyepakati sanksi terhadap tiga pemimpin Houthi yang kini menguasai Yaman.

Sanksi dijatuhkan oleh PBB karena melihat serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi yang menewaskan dan melukai sejumlah warga sipil. Sanksi juga dijatuhkan karena terus berlanjutnya pertempuran di wilayah Marib yang kaya minyak dan menjadi pertahanan terakhir pemerintah Yaman yang didukung internasional.

Dari pertempuran tersebut, Houthi berupaya memutus akses bantuan kemanusiaan dan memanfaatkan penggunaan tentara anak-anak.

Ketiga pemimpin Houthi yang dijatuhkan sanksi oleh PBB adalah Muhammad Abd Al-Karim Al-Ghamari selaku kepala staf yang memimpin pertempuran di Marib, kemudian Yusuf Al-Madani yang merupakan pemimpin pasukan Houthi dalam penyerbuan ke Marib dan Saleh Mesfer Saleh Al-Shaer selaku asisten Menteri Pertahanan yang membantu mendapatkan senjata selundupan yang melanggar hukum kemanusiaan internasional.

Dilansir dari Pikiran-Rakyat.com, menurut daftar PBB, Al-Ghamari merupakan peran utama dalam mengatur upaya militer Houthi yang secara langsung mengancam perdamaian, keamanan dan stabilitas Yaman, termasuk di Marib, serta serangan lintas batas terhadap Arab Saudi.

Sedangkan Al Shaer merupakan orang yang bertanggung jawab atas logistik. Dan membantu Houthi dalam memperoleh senjata. Dengan cara menyelundupkan senjata. PBB juga menjelaskan bahwa Al Shaer terlibat langsung dalam perampasan aset dan entitas yang tersebar luas dan melanggar hukum milik individu pribadi yang ditahan oleh Houthi atau terpaksa mengungsi ke luar Yaman.

PBB menjelaskan bahwa Al-Madani merupakan panglima pasukan di Hodeida, Hajjah, Al Mahwit, dan Raymah yang terlibat dalam kegiatan yang mengancam perdamaian, keamanan dan stabilitas Yaman.

Konflik Yaman ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan memicu krisis kemanusiaan, yang mendorong negara pada ambang kelaparan massal. Seperti diketahui, Yaman telah dilanda perang saudara sejak 2014 ketika pemberontak Houthi yang didukung Iran menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar bagian utara negara itu, memaksa pemerintah yang diakui secara internasional untuk melarikan diri ke selatan dan kemudian ke Arab.

Koalisi militer pimpinan Saudi diluncurkan tahun 2015 guna mendukung pemerintah Yaman yang terus bertempur dengan Houthi, yang menguasai ibu kota Sanna. Houthi dalam penegasannya menjelaskan mereka memerangi sistem yang korup di Yaman.