Rokok Kretek Tangan Dapat Pengecualian Cukai, Mampu Jadi Andalan Industri 2021

Jenis Rokok Sigaret Tangan (SKT) dapat pengecualian cukai, bisa kah jadi andalan industri?

Rokok Kretek Tangan Dapat Pengecualian Cukai, Mampu Jadi Andalan Industri 2021
Gambar dilansir dari : ekonomi.bisnis.com

Tahun 2021 pemerintah telah menaikkan tarif cukai rokok sebesar rata-rata 12,5 %. Namun, naiknya cukai ini tidak berpengaruh dengan jenis rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT). Tentu saja hal ini bisa menjadi andalan untuk industry rokok.

Pasalnya, pandemi Covid-19 ini membuat masyarakat mulai beralih untuk konsumsi rokok yang murah. Salah satu pilihannya adalah SKT. Bagi para perokok pasti sudah merasakan imbas dari kenaikan cukai tersebut.

Gatot Sugeng Wibowo, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan CUkai (KPPBC) Tipe Madya Cukai Kudus Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC), memberikan prediksi tentang kenaikan tersebut. Dirinya menyebutkan, kontribusi industri rokok golongan II dan III akan mengalami peningkatan hingga 45% di 2021.

Kenaikan ini tentu saja dikarenakan daya beli dari masyarakat yang melemah. Selama pandemi tentu saja pengalihan untuk mengkonsumsi rokok lebih murah menjadi pilihan.

“Kontribusi pabrik rokok golongan II dan II rata-rata akan naik menjadi antara 30-40% tahun ini,” ucap Gatot, Senin (8/3).

Jika dilihat dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 198 Tahun 2020 mengenai Tarif Cukai Hasil Tembakau, perusahaan rokok di Indonesia telah dibagi menjadi beberapa golongan. Pembagian ini berdasarkan jumlah produksi rokok dalam satu tahun.

Perusahaan yang berada di Golongan I atau dengan produksi rokok lebih dari 3 miliar batang akan mendapatkan tarif cukai paling tinggi. Berbeda dengan golongan II dan III yang tidak mencapai produksi sebesar 3 miliar batang dalam setahun, maka cukai akan lebih rendah.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Tadjudin Noer Effendi, Pengamat Ketenagakerjaan mengatakan bahwa hal ini menjadi angin segar untuk pekerja rokok SKT dan buruh pelinting. Dinilainya cukai SKT yang tidak naik menjadi perhatian dari pemerintah.

“Saya setuju insentif ini, karena diperdesaan banyak yang sulit mencari kerja, jadi pemerintah bisa kasih insentif ke pabrik-pabrik rokok yang mempekerjakan padat karya,” jelasnya.

Dilain sisi, akan menjadi keuntungan untuk pabrik rokok SKT. Dengan lebih menggenjot produksi untuk mencukupi permintaan SKT yang diprediksi akan naik tahun ini. Maka hal tersebut bisa menjadi strategi dalam pertahanan bisnis.

Tadjudin mengatakan bahwa tidak menaikan cukai SKT menjadi langkah positif untuk menggerakan ekonomi di daerah. Selain itu kenaikan cukai yang cukup tinggi di tahun 2020 sudah menjadi beban bagi industry atau pabrik rokok. Selain itu, para pekerja pun telah mendapatkan dampak dari naiknya cukai rokok.

Dengan tidak naiknya cukai rokok SKT membuat para buruh pelinting masih memiliki pekerjaan. Tentu saja telah menjadi kabar baik untuk para buruh di pabrik rokok.

Lalu bagaimana dengan rokok golongan I yang diproduksi lebih dari 3 miliar batang dalam setahun? Tentu saja pabrik rokok inilah yang paling mendapatkan dampak besar dari kenaikan cukai.