Riset membuktikan!, Sudah berjalan satu tahun namun Covid-19 masih dianggap rekayasa dan konspirasi

Tak terasa, pandemi yang kita alami telah berjalan 1 tahun. Namun Covid masih menjadi konspirasi sebagian orang

Riset membuktikan!, Sudah berjalan satu tahun namun Covid-19 masih dianggap rekayasa dan konspirasi
Gambar dikutip dari : Pikiranrakyat

Banten - Mengejutkan jika hasil survey Parameter Politik Indonesia (PPI) menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa Covid-19 adalah rekayasa dan konspirasi. 

Hal ini cukup menjadi pertanyaan serius, karena korban demi korban terus berjatuhan dan jumlah kasus meninggal karena Covid-19 terus bertambah.

Laporan ini didapatkan dari Hasil Survei Nasional Evaluasi Kinerja Pemerintah dan Jalan Panjang Menuju 2024 pada 3-8 Februari. 

Mirip seperti skripsi, metode pengumpulan data ini dilakukan dengan telepolling. Menggunakan metode simple random sampling pada 6000 target. Sehingga mampu menghasilkan 1200 responden. 

Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang manganggap Covid adalah konspirasi. 

“Setelah hampir satu tahun Covid-19 masuk Indonesia, ternyata masih cukup banyak yang manganggap Covid-19 merupakan Konspirasi (20,3 %) dan merupakan hasil rekayasa manusia (28,7 %),” ucapnya. 

Jika disimpulkan, hasil tersebut begitu mengejutkan. Sebanyak 20,3 % berpendapat bahwa virus ini merupakan hasil dari konspirasi. Kemudian 56,7 % menganggap nyata serta 23,0 % tidak menjawab. 

Dilain sisi PPI juga melakukan survey untuk mengetahui pendapat dari responden mengenai asal dari virus. Apakah terbentuk secara alami atau rekayasa manusia untuk tujuan tertentu. 

Sebanyak 48,9 % mengatakan Covid terbentuk secara alami dan 28,7 % buatan manusia, Sedangkan 22,4 % tidak menjawab. 

Melihat hasil survey ini cukup miris jika melihat kasus yang sedang terjadi. Jumlah kasus positif Covid-19 masih terus bertambah. Pada Minggu (22/2) saja sudah terjadi penambahan sebanyak 7300 kasus positif. Sehingga jika diakumulasikan sejak pertama virus ini masuk, sudah mencapai 1.278.653. Sementara ada 34,489 korban yang dinyatakan meninggal akibat corona. 

Kejenuhan Masyarakat

Gambar dikutip dari : Kompas

Akibat paling mengancam memang kesehatan dan nyawa. Namun selain itu masayarat juga sedang mengalami kejenuhan selama pandemi ini. Hasil survey pun menunjukan bahwa ada kejenuhan masyarakat selama pandemi. 

“Responden cenderung lebih memilih pembebasan aktifitas ekonomi walaupun berpotensi meningkatkan penyebaran virus, yaitu sebesar 39,1 %. Sebanyak 32,9 % responden mengatakan untuk membatasi aktifitas untuk mengurangi penyebaran,” ungkap Adi. 

Dilain sisi, kondisi ekonomi pun menjadi sebuah akibat yang masih dihadapi. Banyak dari masyarakat Indonesia yang mengalami penurunan pemasukan. Apalagi yang masih menjadi anak kost dan tidak bisa pulang kampung. 

Menurut PPI sebanyak 44,2 % responden menilai kondisi ekonomi keluarganya sama saja, atau relative belum membaik sejak 10 bulan yang lalu. 

“Sebanyak 39,1 % menilai kondisi ekonomi lebih buruk, 13,9 % menganggap lebih baik dan 2,8 % tidak menjawab,” tambah Adi. 

Miris, adalah kata yang tepat melihat kondisi yang terjadi pada masyarakat. Dulu banyak kalimat mengatakan bahwa “kaum rebahan” bisa menjadi pahlawan saat kondisi pandemi. Tapi apakah itu akan selalu menjadi sebuah jalan? Pertanyaan ini yang selalu muncul dalam benak masyarakat, dan apakah hasil survey ini bisa menjadi opini masyarakat yang ideal?