Myanmar Kudeta, Destinasi Pariwisata Terancam!

Kabar kudeta myanmar seolah mengancam destinasi pariwisata yang menjadi pertumbuhan pariwisata tercepat dunia tahun 2020

Myanmar Kudeta, Destinasi Pariwisata Terancam!
Gambar dikutip dari : Antara

Banten – Presiden Amerikat Serikat Joe Biden mengancam akan kembali menjatuhkan sanksi kepada Myanmar setelah militer di negara itu mengambil alih kekuasaan.

Dilansir pada BBC News, dalam sebuah pernyataan, Biden mengatakan “Kekerasan tidak boleh dibiarkan mengesampingkan keinginan rakyat atau berupaya untuk mengahapus hasil pemilihan yang kredibel”. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Inggris juga mengutuk kudeta tersebut.

Sejumlah politisi penting negara itu seperti Kanselir Aung San Suu Kyi, Presiden Myanmar Win Myint, dan beberapa tokoh senior Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dijadikan tahanan rumah oleh militer Myanmar, Senin (1/2/2021) dini hari.

Dihimpun dari Frontier Myanmar, penangkapan terjadi sekitar pukul 02.30 waktu setempat dan segera setelahnya media sosial Facebook mulai dipenuhi berbagai informasi dan perkembangan terkait penangkapan tersebut.

Beberapa anggota parlemen bahkan melakukan live-streaming penangkapan mereka sesaat sebelum jalur komunikasi telepon dan internet terputus pada akhirnya di Nay Pyi Taw, ibu kota Myanmar, menyusul yangon pada pukul 07.30 pagi harinya.           

Dampak dari peristiwa tersebut hampir seluruh pelayanan publik, seperti bank hingga pasar tutup. Antrean panjang terlihat di ATM-ATM dan persediaan bahan pokok seperti beras mulai habis. Seluruh penerbangan dihentikan dan stasiun televisi berhenti siaran.

Nama “Myanmar” berasal dari kata “Mya” yang artinya “zamrud/mutiara”. Negara ini dapat disebut dengan zamrud Asia. Berarti dalam artian Myanmar adalah sangat indah. Dilansir dari The Nation Thailand, Myanmar menjadi negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat dunia tahun 2020. Peringkat ini dianugerahkan oleh United Nations World Tourism Organisation (UNWTO).

Dari sisi pariwisata, dulu negara ini Burma dan sekarang menjadi Myanmar. Negara ini sempat bergerilya untuk mengembangkan pariwisatanya. Maka dari itu bagaimana perkembangan pariwisata di Myanmar apabila sedang terjadinya kudeta seperti ini?

Kudeta ini bukanlah yang pertama. Myanmar sudah mengalami kudeta dua kali sejak kemerdekaan dari Inggris tahun 1948. Yakni tahun 1963 dan 1988.

Di tahun 2021, Myanmar kembali mengalami kudeta lagi. Akan tetapi semangat myanmar untuk mempertahankan destinasi wisata agar tidak tutup masih sangat membara. Pada bulan Mei-September, Myanmar akan mengadakan kampanye wisata Green Season. Kampanye wisata ini mendapat dukungan dari hotel, maskapai penerbangan dan operator tour. Karena tujuan Myanmar hanya satu, mempercepat perkembangan pariwisata. 

Banyak sekali wisata Myanmar yang wajib dikunjungi untuk lebih mengetahui peninggalan apa saja yang ada di Negara tersebut. Destinasi Wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawan yaitu Iconic di Myanmar yang mempunyai bangunan arsitektur yang khas. Seperti Kuthodaw Pagoda, Shwenandaw Monastery, Mandalay Palace, Mahamuni Buddha Temple, Sandamuni Pagoda, dan Atumashi Monastery.

Pemerintah Myanmar saat itu berjanji akan akan memfasilitasi wisatawan dengan akses yang lebih mudah. Tentu saja langkah ini dibuat agar nama Myanmar semakin dikenal oleh dunia.

Salah satu strateginya adalah membebaskan visa. Negara-negara yang bebas visa adalah beberapa negara Asia Tenggara, jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Makau. Sementara untuk India, China daratan, Australia, Austria, Republik Ceko, Jerman, Hongaria, Italia Luksemburg, Selandia Baru, Rusia, Spanyol dan Swiss menggunakan Visa on Arrival. (Sumber detik.com)

"Kami perlu mempertahankannya. Momentum ini berlangsung selama bertahun-tahun," ujar May Myat Mon Win, Ketua Pemasaran Pariwisata Myanmar.

Begitulah upaya pemerintahan Myanmar untuk mempertahankan Destinasi Wisata agar tidak tutup permanen, karena banyak sekali peninggalan disana yang wajib wisatawan kunjungi.