Meski Puluhan Tewas, Demonstran Myanmar Tidak Akan Gentar !

Tak usai, unjuk rasa melawan kudeta militer terus memakan korban. Demonstran tetap optimis !

Meski Puluhan Tewas, Demonstran Myanmar Tidak Akan Gentar !
Unjuk rasa melawan kudeta militer, Gambar dilansir dari : apnews.com

Terus bergerak, aktivis pro-demokrasi Myanmar akan terus menggelar unjuk rasa untuk melawan kudeta militer. Walaupun ada puluhan rekan yang telah menjadi korban jiwa, namun para pendemo tak akan gentar.

Pada Rabu (3/3) PBB telah mencatat ada sebanyak 38 orang tewas saat terjadinya kerusuhan. Angka ini menjadi jumlah terbanyak dalam aksi kudeta yang selama ini berlangsung.

Maung Saungkha sebagai seorang demonstran mengatakan akan digelar kembali unjuk rasa pada hari Kamis. Kelompok komite Pemogokan Umum Kebangsaan terus berusaha keras untuk melakukan ujuk rasa kembali, hingga semua tuntutan dikabulkan.

“Kami tahu kami bisa selalu ditembak dan dibunuh dengan peluru tajam, tapi apa artinya tetap hidup di bawah junta (militer). Jadi kami memilih jalan berbahaya ini sebagai jalan keluar,” ucapnya.

Para aktivis akan tetap melawan militer dengan cara apapun yang mereka bisa. Tujuan atau tuntutan akhirnya adalah menghilangkan sistem militer dari akarnya yang telah menguasai pemerintahan. Dengan tujuan akhir ini, sampai saat ini sudah ada dua demonstrasi yang diadakan di beberapa daerah Yangon.

Menurut kabar yang mengatakan bahwa ada setidaknya delapan orang tewas di hari Rabu. Sementara itu media mengabarkan ada enam orang tewas di pusat kota Monywa. Bahkan ada satu orang gadis remaja berusia 19 tahun yang tertembak mati.

Salah satu demonstran mengatakan ada banyak suara tembakan secara terus menerus. Para demonstran hanya bisa tiarap saat tembakan itu diluncurkan.

Gambar dilansir dari : cnnindonesia.com

Untuk saat ini Save the Children, salah satu lembaga yang fokus dalam perlindungan anak mengabarkan ada empat anak tewas saat demo. Termasuk juga anak laki-laki yang masih berusia 14 tahun. Dilaporkan dalam Radio Free Asia, korban tersebut ditembak mati saat konvoi truk militer lewat.

Menurut laporan, tentara telah memasukan tubuhnya ke truk dan terus melaju. Maka untuk menghormati korban yang meninggal ini, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) akan mengibarkan bendera setengah tiang di kantornya.

Menurut utusan PBB di Myanmar, Christine Schraner Burgener mengatakan jika hari Rabu adalah “Hari Paling Berdarah”. Sejak kudeta yang dilakukan pada 1 Februari ini sudah tercatat 38 orang tewas, sehingga total korban tewas lebih dari 50 orang.

Kejadian ini banyak mendapatkan komentar dari banyak negara. Seperti dari Amerika mengaku kaget dan berencana untuk melakukan evaluasi. Sementara itu, Uni Eropa mengecam keras kejadian yang telah menewaskan warga sipil di Myanmar.

Kasus ini berimbas pada perpolitikan internasional. Amerika Serikat berharap China mampu memainkan peran yang konstruktis pada krisis politik ini. Namun China menolak kecaman kudeta yang terjadi. Media China menyebutkan kasus ini hanyalah “Pemberontakan kabinet besar-besaran.”

Perlawanan yang dilakukan ini akan terus dilakukan oleh para demonstran. Dan kejadian ini memang menjadi kejahatan kemanusiaan jika terus dilanjutkan.